Terinspirasi Taktik Ukraina, Rheinmetall dan Destinus Duetkan Peluncur Kontainer CML dengan Drone Swarm Hingga Rudal Jarak Jauh

Pameran pertahanan Eurosatory 2026 menjadi panggung bagi raksasa pertahanan Jerman, Rheinmetall AG, untuk memamerkan lompatan teknologi terbarunya dalam konsep perang modular. Rheinmetall secara resmi meluncurkan Containerized Missile Launcher (CML), sebuah sistem peluncur mandiri berbasis kontainer standar 20 kaki yang sepenuhnya otonom, modular, dan terhubung dalam jaringan (networked).

Baca juga: Lockheed Martin Sukses Uji Coba Sistem Kontainer GRIZZLY dan Rudal JAGM Penghancur Drone

Kehadiran sistem CML ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem besar yang digarap bersama perusahaan teknologi pertahanan Eropa asal Belanda, Destinus Group BV, melalui perusahaan patungan mereka, Rheinmetall Destinus Strike Systems. Melalui platform CML inilah, kedua perusahaan siap merevolusi fleksibilitas tembakan dari garis belakang hingga jauh ke dalam wilayah musuh.

Dalam debutnya di Eurosatory 2026, sistem CML dipamerkan dengan mengusung munisi berkeliaran (loitering munition) taktis berkode FV-014—atau yang di internal Destinus dikenal sebagai drone Lord. Berkat dimensi FV-014 yang kompak, satu unit kontainer CML tunggal sanggup menampung dan meluncurkan hingga 18 unit drone sekaligus.

Mengandalkan teknologi kawanan (swarm technology) yang canggih, seluruh drone yang meluncur dalam satu salvo tersebut dapat dikendalikan secara simultan oleh hanya satu operator. Drone FV-014 sendiri memiliki jangkauan operasional hingga 100 kilometer dengan waktu terbang mencapai 70 menit, menjadikannya senjata presisi yang mematikan untuk menjebol perimeter pertahanan lawan. Ditambah dengan pasokan daya terintegrasi serta modul kontrol tembakan otonom, satu kontainer CML dapat ditinggalkan di medan terpencil dan dioperasikan sepenuhnya tanpa awak dari jarak jauh.

Belajar dari ‘Operation Spiderweb’ Ukraina: AS Siapkan Kontainer Otonom untuk Luncurkan 500 Drone Kamikaze!

Namun, kemampuan meluncurkan drone kawanan FV-014 hanyalah awal dari pengembangan ekosistem berbasis kontainer oleh Rheinmetall-Destinus. Berkat arsitektur terbuka (open architecture) yang sebuah sengaja disematkan pada sistem CML, kontainer peluncur ini dirancang untuk dapat mengintegrasikan berbagai jenis munisi lain dengan cepat. Hal ini terkonfirmasi lewat pengumuman paralel dari Rheinmetall Destinus Strike Systems yang mempercepat pengenalan dan produksi rangkaian rudal jelajah terbaru mereka, yaitu Kryla, Ruta Block 2, dan sang monster jarak jauh Ruta Block 3.

Dengan kata lain, kontainer CML yang sama yang digunakan untuk meluncurkan drone taktis FV-014, juga dapat diisi dengan rudal jelajah kompak Kryla untuk serangan saturasi massal, maupun rudal strategis Ruta Series untuk menghancurkan target bernilai tinggi.

Varian paling mengerikan yang akan mengisi ekosistem kontainer ini adalah Ruta Block 3, sebuah rudal jelajah strategis yang didesain untuk misi strategic deep strike. Memiliki hulu ledak seberat 250 kilogram, Ruta Block 3 mampu menjangkau target keras yang dibentengi dengan sangat kuat (hardened targets) pada jarak fantastis melebihi 2.000 kilometer.

Ketika rudal ini dimasukkan ke dalam kontainer CML, seluruh sistem hanya membutuhkan waktu kesiapan tembak (firing readiness time) sekitar 2 menit saja. Fleksibilitas ini memungkinkan kontainer disamarkan dan dipasang pada berbagai platform kendaraan logistik biasa seperti truk militer seri Rheinmetall HX, ataupun disebar pada armada kapal dagang dan kapal perang dalam aplikasi maritim.

Langkah agresif Rheinmetall dan Destinus dalam mematangkan ekosistem senjata berbasis kontainer ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh dinamika perang modern di Ukraina. Keberhasilan Ukraina dalam menyamarkan dan meluncurkan drone serang jarak jauh dari kontainer kargo biasa beberapa waktu lalu terbukti sukses mengelabui intelijen Rusia dan memberikan efek kejut yang masif.

Melalui integrasi sistem peluncur CML di Eurosatory 2026 serta lini rudal Kryla dan Ruta, Rheinmetall-Destinus kini melembagakan taktik improvisasi medan perang tersebut menjadi sebuah sistem persenjataan standar militer mutakhir yang jauh lebih terorganisir, modular, adaptif, dan memiliki daya hancur yang mengerikan. (Bayu Pamungkas)

EDGE Group UEA Rilis Drone Kamikaze Shadow Versi Kontainer Berjarak Jangkau 250 Km

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *