Meski dapat terbang lebih tinggi, endurance lama dan punya jangkauan lebih jauh, namun drone intai konvensional punya ‘kelemahan’, yakni rentan bila mendapat serangan, lantaran kemampuan manuver untuk menghindar terbatas. Hal ini berbanding terbalik dengan drone FPV (First Person View) yang dapat dikendalikan secara penuh oleh pilot di darat. (more…)
Meski Rusia telah menggunakan drone kamikaze Shahed-136 dari Iran, yang belakangan diproduksi secara lokal dengan nama Geran 2. Namun, tak bisa dikesampingkan nama besar “Lancet (Lantset) series”, sebagai varian drone kamikaze produksi Zala Aero, bagian dari Kalashnikov Group. Loitering munition produksi dalam negeri itu telah terbukti mampu menebar maut dalam jalannya perang Ukraina yang masuk di tahun ketiga ini. (more…)
Dari segi desain tak ada yang terlalu menarik dari drone satu ini, tapi karena dikembangkan dalam naungan nama besar Kalashnikov, jadilah drone hybrid VTOL (Vertical Take-off and Landing) ini menjadi perhatian, di bawah naungan Kalashnikov bukan tak mungkin Legionnaire E33K kelak akan mewarnai jagad operasi militer Rusia. (more…)
Meski jalur produksinya telah ditutup pada tahun 1990. Namun, sekitar 500-an unit jet interceptor MiG-31 masih menjadi andalan bagi Angkatan Udara Rusia, bahkan MiG-31 terus disempurnakan, termasuk debutnya masih sangat diperhitungkan dalam operasi militer Rusia di Ukraina. Salah satunya MiG-31BM (Bolshaya Modernizatsiya/Big Modernization), varian tercanggih MiG-31 ini, belum lama ini telah menuntaskan paket upgrade agar mampu meluncurkan rudal jarak jauh. (more…)
Punya bentang perbatasan (daratan) yang sangat luas merupakan tantangan tersendiri bagi negara sebesar Rusia. Seolah mengikuti apa yang telah dilakukan Israel, Arab Saudi, Singapura dan Polandia, kini otoritas pertahanan Rusia juga menggelar balon udara aerostat yang berisikan beragam perangkat sensor deteksi, termasuk radar intai untuk mengawasi pergerakan yang ada di sekitar kawasan perbatasan. (more…)
Serangan drone kamikaze yang masif membawa risiko adanya ‘kecolongan’, padahal sistem pertahanan udara (hanud) anti drone sudah dirancang sedemikian ketat dengan anggaran yang mahal. Terkhusus bagi Rusia yang beberapa kota di perbatasannya kerap mendapat serangan drone kamikaze dari Ukraina, kini mencoba solusi baru, yakni dengan menggabungkan antara teknologi balon udara (aerostat) dengan jaring (net) untuk mencegat drone sebelum memasuki obyek vital (obvit). (more…)
Dengan komitmen dari Belanda, Belgia, Denmark dan Norwegia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berharap armada jet tempur F-16 Fighting Falcon sudah tiba di langit Ukraina pada akhir musim panas ini. Meski begitu, Zelenskyy menyadari bahwa pengoperasian atau penggelaran pesawat tempur single engine produksi Lockheed Martin itu tidak mudah. (more…)
Meski hanya mengirim enam unit jet tempur F-16 Fighting Falcon untuk Ukraina, namun Norwegia sebagai anggota senior NATO di Eropa memberi kontribusi besar dalam pengadaan amunisi untuk militer Ukraina. Adalah Nammo, perusahaan pertahanan yang berbasis di Norwegia yang mengkhususkan diri dalam produksi amunisi, roket, dan propelan, disebut meningkatkan kapasitas produksi hingga 10 kali lipat. (more…)
Sesuai komitmen yang telah didengungkan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kini gencar menagih janji kedatangan Elang Penempur, F-16 Fighting Falcon. Selain donasi dari Denmark yang akan mengirim 19 unit, Belgia 30 unit dan Belanda 24 unit, ada Norwegia yang diharapkan Zelenskyy untuk bisa mendonasikan armada F-16-nya. Namun, berbeda dengan Denmark, Belgia dan Belanda, jumlah F-16 yang akan dikirim Norwegia jauh lebih sedikit. (more…)
Guna menandingi kemampuan Starlink yang mengoperasikan sekitar 6.000 satelit, Rusia punya obsesi untuk mengorbitkan 2.600 satelit pada tahun 2026. Hal tersebut diungkapkan oleh Yury Borisov, Kepala Badan Antariksa Rusia Roscosmos. Untuk membentuk jaringan satelit komunikasi, Rusia rencananya akan menempatkan satelit Sfrea ke orbit. (more…)