Seandainya konsetrasi Rusia tak terpecah akibat perang di Ukraina, boleh jadi beragam inovasi alutsista era Perang Dingin akan dibangkitkan kembali dengan beragam penyempurnaan. Seperti pada pengembangan ekranoplan, yakni wahana yang beroperasi dengan memanfaatkan fenomena ground effect. (more…)
Inggris rupanya ingin mengikuti langkah Belanda, yakni mempersenjatai jet tempurnya dengan kemampuan serang nuklir. Sampai saat ini, Belanda menjadi satu-satunya operator jet tempur modern (F-35A) di Eropa yang punya kemampuan serang nuklir berdasarkan kesepakatan dalam NATO. (more…)
Tahukah Anda, sebelum Amerika Serikat mengembangkan MBT (Main Battle Tank) M1 Abrams dan Jerman Barat dengan Leopard 2, ternyata antara AS dan Jerman Barat saat puncak perang dingin pernah terlibang bersama dalam pengembangan MBT-70, yang disebut sebagai “super tank” atau “next-generation tank” karena teknologi revolusioner yang diusungnya pada masa itu. (more…)
Di tengah isu perang nuklir yang mengemuka, tahukah Anda, bahwa hari ini 69 tahun lalu yang bertepatan dengan 22 November 1955, untuk pertama kalinya Uni Soviet melakukan uji bom termonuklir (thermonuclear bomb) RDS-37 yang diluncurkan dari pembom strategis Tupolev Tu-16 Bagder di Polygon Semipalatinsk, wilayah Siberia. (more…)
Era perang dingin membawa kenangan tersendiri dalam rancangan alutsista, seperti pembom dan jet tempur yang mengusung desain sayap ayun (variable sweep wing). Selain nama-nama yang lekat di hati seperti F-14 Tomcat, Panavia Tornado, MiG-23/27 Flogger dan pembom B-1B Lancer serta Tu-160 Blackjack, rupanya Dassault Aviation dari Perancis juga pernah meluncurkan jet tempur dengan desain sayap ayun. (more…)
Dari beberapa poin yang menjadi lomba senjata antara Amerika Serikat dan Soviet adalah pada kemampuan kapal selam. Meski masing-masing kubu punya klaim tersendiri atas keunggulannya, namun faktanya kapal selam tercepat yang pernah dibuat adalah hasil dari ‘kemengan’ Soviet, yakni lewat kapal selam bertenaga nuklir Alfa class (Lira class) yang mampu mengarung 41 knot (76 km per jam) saat menyelam. (more…)
Setelah Rumania, Kroasia menjadi negara anggota NATO di Eropa Timur yang ikut memensiunkan jet tempur lawas MiG-21 Fishbed. Bersama dengan penampilan batch perdana Rafale F3-R yang belum lama diterima Angkatan Kroasia, MiG-21 melakukan pertunjukan perpisahan di AIRVG (AIR Velika Gorica/Croatian Air Force Airshow) 2024 di Zabreb. (more…)
Saat era Perang Dingin, Amerika Serikat dengan Lockheed Skunk Works begitu populer dengan aset strategis berupa pesawat intai legendaris U-2 Dragon Lady. Mampu terbang hingga ketinggian 24.000 meter, menjadikan U-2 ‘rajanya’ pesawat yang mampu terbang di ketinggian stratosfer. Meski tak bisa menyamai, namun Uni Soviet pernah meracang pesawat dengan kemampuan serupa U-2, yang disebut Myasishchev M-55 (kode NATO – Mystic-B). (more…)
Kecemasan terlibat dalam perang besar mendorong negara-negara NATO untuk merancang alutsista dengan daya lethal tinggi saat Perang Dingin. Salah satu segmen yang mendapat perhatian yakni MLRS (Multiple Launch Rocket System). Lantaran yang bakal dihadapi adalah militer Uni Soviet dan Pakta Warsawa, maka MLRS disiapkan dalam kaliber berat, dan Jerman rupanya pernah merancang self propelled MLRS di kaliber 280 mm. (more…)
Perang yang berkecamuk di Ukraina, tak pelak memunculkan isu penggunaan senjata nuklir. Dan penggeralan senjata nuklir erat dikaitkan dengan alutsista berat, sebut saja rudal balistik dengan bobot belasan hingga puluhan ton, sampai bom yang dilepaskan dari jet tempur atau pembom dengan spesifikasi khusus. Namun, di era Perang Dingin, penggelaran senjata nuklir taktis rupanya langsung melibatkan kemampan individu dari pasukan khusus dalam misi infiltrasi. (more…)