
Merujuk ke Minimum Essential Force (MEF), harapan untuk menjodohkan rudal anti kapal sebagai sistem senjata di kapal selam Nagapasa Class terasa amat berat. Namun, tahukah Anda, bahwa di tahun 1962 justru ada kapal selam milik Indonesia yang pernah melontarkan rudal anti kapal, bahkan kelasnya jauh diatas UGM-84 Harpoon atau SM39 Exocet, yakni sosok alutista yang masuk segmen rudal jelajah (cruise missile) SS-N-3c Shaddock. (more…)

Selain di Dermaga Ujung, Surabaya, Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Palu di Watusampu, Palu, Sulawesi Tengah, kini menjadi basis kedua pangkalan kapal selam TNI AL. Setelah mendapat tinjauan langsung dari Panglima TNI pada pertengahan bulan Juni lalu, fasilitas dermaga kapal selam pertama di luar Pulau Jawa ini sudah hampir rampung pengerjaan fisiknya. Dalam beberapa publikasi, bahkan salah satu kapal selam, KRI Nanggala 402 nampak berhasil sandar di shelter khusus kapal selam. (more…)

Nama senjata yang satu ini jelas bukan barang baru, pasalnya sosok bom pintar (smart bomb) yang diberi label Guided Bomb Unit (GBU)-12 Paveway II LGBs (Laser Guided Bombs) sudah malang melintang debutnya sejak era Perang Vietnam (1968). Diracik oleh Texas Instrument (sekarang – Raytheon), keluarga Paveway LGBs menjadi varian bom pintar yang paling laris dipasaran, terkhusus pada varian GBU-12 LGBs yang mencomot platform dumb bomb paling populer di lini kesenjataan NATO, yakni MK82. Begitu masif digunakan di banyak palagan pertempuran, menjadikan nama GBU-12 terasa ‘biasa-biasa’ saja, tapi jadi tak biasa seperti yang dilakukan AU Malaysia baru-baru ini. (more…)

Meski tak lagi menjadi kekuatan udara nomer satu di kawasan Asia Tenggara, TNI AU untuk urusan pengalaman tempur, khususnya yang menyangkut bantuan tembakan udara adalah kekuatan yang amat diperhitungkan. Walau toh hingga kini masih mengandalkan dumb bomb, dalam catatan TNI AU punya pengalaman dalam menggunakan bom cluster (bom tandan), atau ada yang menyebut sebagai bom curah. Karena punya daya rusak yang besar, bahkan tak jarang menimbulkan collateral damage, penggunaan bom cluster telah dilarang dalam hukum Humaniter Internasional.
(more…)

Ditengah hegemoni amunisi 5,56 x 45 mm NATO pada senjata standar TNI/Polri, maka perlahan-lahan amunisi kaliber 7,62 x 39 mm mulai terpinggirkan. Namun dengan populasi yang kian terbatas, kini selain AK-47 masih ada jenis senapan mesin yang masih eksis digunakan satuan TNI dan Polri, bahkan bisa dibilang senjata yang masuk kategori senapan mesin regu ini sudah teramat legendaris, maklum debutnya sudah dimulai sejak era Perang Dunia II. Di Indonesia senapan yang diberi label RPD (Ruchnoy Pulemet Degtyarova) mulai digunakan jelang Operasi Trikora. (more…)

Para pemerhati alutsista nasional tentu mengenal sosok BTR-50P (Browne Transporter 50 Palawa). Ranpur yang masuk golongan tank APC (Armored Personnel Carrier) ini lebih kondang dikenal sebagai panser amfibi (pansam) oleh Korps Marinir TNI AL. Sebagai ranpur legendaris yang masih eksis dengan program retrofit, BTR-50P berdasarkan literature diketahui didatangkan ke Indonesia pada tahun 1962 dalam rangka persiapan Operasi Trikora. Namun dalam sebuah penulurusan, ada kemungkinan BTR-50P sudah hadir melengkapi kekuatan Marinir (d/h KKO AL) sejak era tahun 50-an. (more…)

Korps Marinir dikenal sebagai satuan yang handal dalam memelihara alutsista berusia lanjut, sebut saja dari generasi tank amfibi PT-76 dan panser amfibi (pansam) BTR-50 yang masuk etalase senjata pada awal dekade 60-an, sampai saat ini keduanya sebagian masih eksis. Dan masih dalam lingkup Resimen Kavaleri (Menkav), ada rantis roda rantai (kendaraan taktis) yang seusia PT-76/BTR-50, yaitu Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (KAPA) K-61. Guna memelihara dan merawat alutisista tua secara berkala dilakukan Latihan Dalam Dinas (LDD). (more…)

Sesuai dengan rencana strategis, beragam alutsista Korps Marinir TNI AL telah mendapat modernisasi, mulai dari tank/panser amfibi, roket multi laras MLRS (Multiple Launch Rocket System) sampai kanon hanud (pertahanan udara), semua relatif masih baru didatangkan. Namun masih ada satu elemen tempur Korps Baret Ungu yang lumayan lama belum mendapatkan modernisasi. Yang dimaksud adalah Batalyon KAPA (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri)- Yon KAPA, salah satu batalyon yang masuk jajaran Resimen Kavaleri (Menkav) Korps Marinir. (more…)

Bila merujuk ke sejarah, dahulu TNI AL pernah memiliki jenis kapal tender kapal selam (submarine tender). Jenis kapal ini difungsikan untuk melayani segala kebutuhan logistik, perawatan dan perbaikan kapal selam. Saat Republik Indonesia ‘mesra’ dengan Uni Soviet, maka melengkapi hadirnya 12 unit kapal selam Whiskey Class, turut hadir submarine tender. Dan yang namanya tersohor dalam catatan sejarah adalah KRI (d/h RI) Ratulangi (RLI). Kapal yang dalam kondisi muatan penuh berbobot 9.00 ton. (more…)

MLRS (Multiple Launch Rocket System) tak disangsikan lagi kedahsyatannya sebagai alutsista pemukul nan ampuh. Terkhusus bagi Korps Marinir TNI AL, MLRS punya tempat tersendiri dalam sejarah kesenjataan. Bila saat ini Marinir punya RM70 Grad dan yang terbaru RM70 Vampire, maka di jaman Operasi Trikora, artileri medan Marinir telah mengadopsi BM-14/17 yang dikenal sebagai generasi pertama self propelled MLRS di Indonesia. (more…)