
Bila mengacu ke eksistensi meriam Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) di Indonesia, tak bisa dilepaskan dari persiapan Operasi Trikora di awal dekade 60-an. Hingga kini publik di Tanah Air masih sangat familier dengan meriam sepuh S-60 kaliber 57 mm Arhanud TNI AD. Di periode yang sama Korps Marinir (d/h KKO AL) juga menerima meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) tipe M1939 K-61 kaliber 37 mm dan M1939 52-K kaliber 58 mm. Ketiganya adalah alutsista buatan Uni Soviet yang sampai kini masih beroperasi melalui program retrofit. (more…)

Usia 56 tahun bagi manusia sudah tergolong lanjut, tanpa treatment yang baik, maka kondisi tubuh akan cepat melorot. Begitu pun dengan Lockheed Martin C-130B Hercules, sejak didatangkan pada tahun 1960, faktanya armada C-130B Hercules TNI AU masih terus dioperasikan. Seperti salah satunya pada C-130B Hercues nomer registrasi A-1303 dari Skadron Udara 32 yang belum lama ini telah merampungkan program upgrade dan retrofit tingkat berat. (more…)

Setelah mengalami musibah kebakaran pada bulan Mei 2016, akhirnya kapal perang KRI Karimata 960 dari Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) TNI AL resmi dipensiunkan pada 15 Agustus lalu. Lewat sebuah upacara “Penurunan Ular-Ular Perang” maka berakhirlah pengabdian 51 tahun dari jenis kapal angkut logistik ini. Dengan pensiunnya KRI Karimata 960 menandai berkurangnya sisa-sisa kapal perang TNI AL eks Operasi Trikora. (more…)

Tak ada yang keliru saat orang menyebut kapal selam terbaru TNI AL adalah Changbogo Class, pasalnya saat penandatanganan kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dari Korea Selatan di tahun 2011, belum disebutkan secara definif penamaan ketiga KRI. Namun kabar terbaru menyebut unit pertama Changbogo Class TNI AL telah rampung konstruksi fisiknya dan siap memasuki masa uji coba. Ikut terungkap pula identitas unit kapal selam perdana sebagai KRI Nagabanda 403. (more…)

Seandainya haluan politik Indonesia tidak berubah pada tahun 60-an, boleh jadi saat ini armada kapal perang, pesawat tempur, hingga kapal selam TNI lebih dominan berasal dari Rusia. Dan salah satu silsilah alutsista yang ditinggalkan Rusia (d/h Uni Soviet) adalah unit helikopter AKS (Anti Kapal Selam) Mi-4 Hound. Helikopter berbasis utility tersebut memperkuat Puspenerbal TNI AL dalam persiapan Operasi Trikora. (more…)

Bila kavaleri udara Puspenerbad TNI AD hingga kini masih melestarikan Bell 205 A-1. Maka TNI AU juga mengoperasikan saudara kembarnya yang lebih dulu berlaga di angkasa Indonesia, yakni Bell 204B yang hadir sejak awal tahun 60-an. Beda dengan Bell 205 A-1 TNI AD yang sudah di-‘militerisasi’ dengan kemampuan menggotong senjata, sejatinya Bell 204B TNI AU masih berstatus sebagai helikopter ‘sipil’ tanpa modifikasi usungan senjata. (more…)

Bentuknya mungil dan jauh dari kesan sangar, tapi inilah Puch Haflinger, rantis (kendaraan taktis) era 60-an yang pernah digunakan satuan elit TNI. Tercatat mulai dari pasukan pengawal Presiden Soekarno Cakrabirawa dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) – sekarang Kopassus, pernah memakai rantis ringan 4×4 ini untuk tugas operasional. Pada masanya, Puch terkenal bandel, meski bobotnya hanya setengah ton tapi mampu melahap medan off road yang lumayan berat. (more…)

Akhir dari babak Operasi Trikora di tahun 60-an jelas dipengaruhi kemampuan diplomasi RI yang mampu menekan pemerintah Belanda lewat kampanye psy war. Hadirnya alutsista sangar, seperti kapal penjelajah KRI Irian, jet tempur supersonic MiG-21, kapal selam Whiskey Class, dan pembom Tupolev Tu-16 Badger memberi tekanan keras pada kekuatan militer Belanda di Papua. Tak tanggung-tanggung, eksistensi kapal induk HNLMS Karel Doorman pun ikut terancam. (more…)

Keberadaan mortir memang tak bisa dilepaskan dari pergerakan tempur pasukan infanteri. Karena dinamika yang terjadi dalam pertempuran, mortir yang bertindak sebagai ‘artileri mandiri’ pada unit infanteri juga membutuhkan kaliber mortir yang memadai. Selain standar digunakan kaliber 40 mm, 60 mm, dan 81 mm, TNI juga pernah menggunakan mortir heavy barrel (kaliber besar) 120 mm yang ukuran kalibernya melampaui kaliber Howitzer TNI kebanyakan. (more…)

Meski agak sulit mendapatkan informasi resmi, namun ada fakta yang menunjukkan bahwa TNI juga memiliki meriam (PSU) penangkis serangan udara yang berkategori heavy AA (anti aircraft). Maklum selama ini publik lebih mengenal keberadaan meriam PSU paling banter di kaliber sedang, seperti meriam S-60 kaliber 57 mm dan Bofors 40 mm. Meski bukan lagi barang keluaran baru, nyatanya etalase alutsista Arhanud Marinir TNI AL justru punya kaliber yang lebih dahsyat, yakni lewat tipe meriam M1939 52-K yang berkaliber 85 mm. (more…)