Perancis dan Uni Emirat Arab Resmikan Kerja Sama Strategis Pengembangan Jet Tempur Rafale F5

Pemerintah Perancis dan Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi telah menandatangani kesepakatan antar-pemerintah (intergovernmental agreement) terkait pengembangan standar generasi terbaru jet tempur Dassault Rafale, yakni Rafale F5. Penandatanganan dokumen kerja sama pertahanan tingkat tinggi ini dilangsungkan di tengah kunjungan kenegaraan Presiden Perancis Emmanuel Macron ke UEA, sekaligus mempertegas kemitraan strategis kedua negara dalam penguasaan teknologi kedirgantaraan militer masa depan.
Sebelum kesepakatan ini terwujud, perjalanan negosiasi kedua negara sempat mengalami kendala teknis dan diplomasi. UEA, yang sebelumnya telah memesan 80 unit Rafale F4 pada Desember 2021, sempat diminta oleh Perancis untuk berpartisipasi dalam pendanaan program Rafale F5 senilai 3,5 miliar euro (sekitar 70 persen dari estimasi total biaya program).
Sebagai imbalan atas investasi raksasa tersebut, UEA menuntut akses penuh terhadap transfer teknologi paling sensitif. Hal ini sempat menjadi titik kebuntuan dengan pihak Paris hingga Perancis sempat memutuskan untuk menanggung sendiri biaya pengembangan F5 melalui pembaruan Undang-Undang Pemrograman Militer (LPM) 2024-2030, sembari mengarahkan Safran untuk mulai merancang mesin baru M88 T-REX yang menawarkan peningkatan daya dorong hingga 20 persen.
Namun, peta dinamika berubah drastis setelah keterlibatan aktif militer Perancis dalam melindungi wilayah udara UEA dari serangan drone dan rudal Iran. Dalam operasi pertahanan udara tersebut, jet tempur Rafale Perancis sukses mengintersepsi sekitar 100 unit drone dan rudal musuh.
Perancis Validasi Tempur Rafale F4.3, Standar ‘Terbaru’ yang Digadang Perdana Untuk UEA
Keberhasilan operasional di medan nyata ini menjadi katalis penting yang mencairkan dan menghidupkan kembali negosiasi tingkat tinggi antara Paris dan Abu Dhabi. Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa kesepakatan anyar ini akan menjadi fondasi strategi bersama dalam pengoperasian generasi kelima Rafale, yang juga diperkuat oleh ekspansi industri pertahanan UEA, EDGE Group, di Perancis melalui kerja sama pengembangan senjata presisi tinggi bersama Safran Electronics & Defense.
Langkah Perancis dalam memperluas jangkauan Rafale F5 tidak hanya berhenti di UEA. Dalam kesempatan yang sama, Perancis juga tengah menjajaki peningkatan kapabilitas udara bersama Qatar melalui potensi pengadaan generasi baru Rafale, sekaligus membangkitkan kembali prospek penjualan 490 unit kendaraan tempur lapis baja VBCI (Véhicule Blindé de Combat d’Infanterie) buatan KNDS France.
Pertama Kali dalam Sejarah, Mesir Kerahkan Jet Tempur Rafale ke UEA untuk Operasi Pertahanan Aktif
Rangkaian diplomasi pertahanan ini membuktikan bahwa program Rafale F5 tidak hanya menjadi tulang punggung kekuatan udara Perancis, tetapi juga menjadi komoditas alutsista utama dalam mempererat peta aliansi militer Perancis di kawasan Timur Tengah.
Pengembangan standar Rafale F5 sendiri digadang-gadang sebagai lompatan teknologi terbesar dalam silsilah jet tempur Dassault. Varian ini nantinya akan dirancang untuk mampu beroperasi secara berdampingan dengan drone pengintai dan penyerang (loitering munitions serta Unmanned Combat Air Vehicles / UCAV) di bawah konsep pertempuran terkoneksi (collaborative combat).
RBE-2XG: Radar AESA Generasi Terbaru Berbasis GaN, Bakal Jadi Kunci Keunggulan Rafale F5
Selain itu, integrasi mesin M88 T-REX yang lebih bertenaga serta adopsi radar AESA generasi terbaru dan rudal nuklir hipersonik ASN4G akan memastikan Rafale F5 memiliki daya penyusupan dan kelangsungan hidup yang sangat tinggi di dalam zona udara yang dikawal ketat oleh sistem pertahanan udara modern lawan.
Keberhasilan merangkul kembali Uni Emirat Arab—serta potensi keterlibatan Qatar—ke dalam ekosistem Rafale F5 memberi keuntungan finansial dan geopolitik yang sangat besar bagi Perancis. Dukungan dana dan komitmen industri dari negara-negara Teluk tidak hanya meringankan beban anggaran pertahanan Perancis dalam menanggung biaya riset yang tinggi, tetapi juga semakin mengukuhkan posisi Rafale sebagai salah satu jet tempur paling sukses di pasar ekspor global.
Langkah ini sekaligus membuktikan kapabilitas diplomasi pertahanan Perancis dalam menjaga kemandirian industri kedirgantaraannya di tengah ketatnya persaingan pasar jet tempur dunia. (Gilang Perdana)
Lengkapi Kemunculan Rafale F5, Safran Perkenalkan Bom Pintar Hybrid Generasi Terbaru AASM HAMMER XLR



“Keberhasilan merangkul kembali Uni Emirat Arab—serta potensi keterlibatan Qatar—ke dalam ekosistem Rafale F5 memberi keuntungan finansial dan geopolitik yang sangat besar bagi Perancis.”
Itu di Timur Tengah, bagaimana dengan Asia Selatan yaitu India sampai di mana progressnya? 🤔