Kebal Jamming, US Space Force Kucurkan Kontrak Satelit Swarm PTS-G ke Viasat dan Intelsat

Dominasi ruang angkasa kini bukan lagi sekadar adu cepat meluncurkan roket, melainkan bagaimana mengamankan jalur komunikasi militer dari ancaman peperangan elektronik (electronic warfare/EW) yang kian canggih.

Baca juga: Pangkas Birokrasi Intelijen, Pasukan Khusus AS Kini Bisa Perintahkan Satelit Langsung dari Smartphone Android

Menyadari tingginya risiko taktis akibat gangguan sinyal atau pembungkaman komunikasi (jamming) oleh kompetitor global, Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) mengambil langkah masif pada 22 Mei 2026 dengan menggandeng Viasat Inc. dan Intelsat General Communications LLC.

Pentagon resmi mengucurkan kontrak bersama dengan nilai total mencapai US$437,7 juta yang berfokus penuh pada pengadaan kendaraan luar angkasa serta teknologi enkripsi tangguh untuk mendukung program Protected Tactical Satellite Communications-Global (PTS-G).

Melalui dana awal sebesar US$150 juta dari anggaran riset, pengembangan, pengujian, dan evaluasi (RDT&E) tahun fiskal 2026 yang langsung dicairkan saat penandatanganan, proyek strategis ini ditargetkan rampung pada 19 Maret 2029 setelah menyisihkan tiga kompetitor besar lainnya dalam proses seleksi yang ketat.

Melalui program PTS-G yang baru dirintis sejak Maret tahun lalu, US Space Force berupaya menggeser paradigma lama pertahanan luar angkasa. Selama beberapa dekade, militer AS sangat bergantung pada satelit raksasa berbobot multi-ton di orbit geostasioner (GEO) setinggi 35.000 kilometer yang membutuhkan biaya pembuatan fantastis, waktu produksi bertahun-tahun, serta menjadi target bernilai tinggi (high-value target) yang rentan bagi lawan.

Proyek PTS-G hadir membawa filosofi baru berupa kelangsungan hidup melalui proliferasi atau pengembangbiakan jumlah aset, bukan lagi sekadar mempertebal proteksi fisik satelit tunggal. Konsep ini diwujudkan lewat arsitektur klaster atau yang disebut Space Force sebagai sistem swarm (kawanan), di mana Viasat dan Intelsat masing-masing ditugaskan membangun dua satelit untuk kelompok produksi pertama berlabel “Swarm 1” dengan target operasional awal pada tahun 2028. Dengan menyebarkan kemampuan komunikasi ke beberapa satelit kecil yang saling terhubung di orbit GEO, jaringan komunikasi dipastikan tidak akan lumpuh total meskipun salah satu satelit terkena hantaman fisik maupun serangan siber dan elektronik.

Satelit-satelit dalam arsitektur swarm ini nantinya akan beroperasi mendukung dua pita frekuensi standar militer, yakni X-band dan Ka-band militer. Menariknya, proyek ini mengadopsi model hibrida di mana satelit sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah namun dibangun menggunakan basis wahana (satellite bus) dan proses manufaktur komersial yang sudah matang untuk memaksimalkan efisiensi biaya serta mempercepat pengiriman.

Langkah kebijakan pengadaan ini terbukti efektif dalam memangkas waktu riset dari nol. Sebagai contoh, Viasat mengembangkan arsitektur stasiun penambat (anchor station) dan satelit dual-band X/Ka-band militer yang teknologinya diturunkan langsung dari lini konstelasi pita lebar komersial Viasat-3 milik mereka. Di sisi lain, Intelsat General Communications juga membawa kekuatan korporasi yang besar setelah induk perusahaannya, SES yang berbasis di Luksemburg, menuntaskan akuisisi bernilai masif terhadap Intelsat pada Juli 2025. Penggabungan tersebut melahirkan operator satelit raksasa dengan armada sekitar 120 satelit di orbit GEO dan MEO, di mana divisi Intelsat General tetap dipertahankan sebagai unit khusus yang melayani kebutuhan operasional militer dan federal AS.

Bagi komunitas pertahanan global termasuk Indonesia, langkah US Space Force memberikan gambaran mengenai peta persaingan teknologi masa depan di mana ketahanan komunikasi data (data link) menjadi faktor penentu jalannya pertempuran. Pentagon secara sadar menginvestasikan dana besar—termasuk rencana pengadaan gelombang kedua pada tahun 2028 untuk empat satelit PTS-G tambahan dengan jadwal peluncuran tahun 2031—demi memastikan bahwa rantai komando taktis dari markas hingga prajurit di garis depan tidak dapat diisolasi oleh sistem pengacak frekuensi musuh. (Bayu Pamungkas)

Satelit Intai Militer Pertama Swedia Resmi Beroperasi, Siap Awasi Rusia di Baltik

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *