Halau Invasi Cina, Taiwan Siap Kucurkan Dana Rp118,8 Triliun Guna Produksi 210.000 Drone

Pemerintah Taiwan secara resmi mengumumkan inisiatif pertahanan udara dan laut yang sangat ambisius senilai 5,6 miliyar euro atau setara dengan 6,6 miliyar dolar AS. Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan nilai kurs saat ini yang menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS, total anggaran fantastis tersebut mencapai tidak kurang dari Rp118,8 triliun.
Alokasi dana raksasa ini akan difokuskan sepenuhnya untuk memproduksi serta menggelar lebih dari 210.000 sistem persenjataan tanpa awak (unmanned systems). Langkah berani ini diambil oleh otoritas Taiwan sebagai bentuk strategi preventif mutakhir guna mendongkrak biaya politik, logistik, dan militer yang harus ditanggung oleh Cina apabila mereka nekat melakukan tindakan agresi ataupun invasi amfibi menyeberangi Selat Taiwan.
Cetak biru pertahanan terbaru ini secara terang-terangan mengadopsi doktrin perang asimetris yang dinilai sukses diterapkan oleh militer Ukraina dalam membendung gempuran pasukan Rusia. Alih-alih memusatkan kekuatan pada pengadaan alutsista konvensional yang mahal dan rentan seperti jet tempur generasi terbaru atau kapal perang berukuran besar, Taiwan memilih untuk membanjiri wilayah perairan strategisnya dengan armada robotik peluncur mandiri.
Dalam rencana taktis tersebut, komponen utama yang akan digerakkan mencakup 200.000 unit drone kamikaze (loitering munitions) yang dirancang secara khusus untuk menghancurkan personel, kendaraan lapis baja, serta titik-titik pertahanan musuh dengan tingkat akurasi tinggi. Selain itu, lebih dari 1.000 unit drone laut (sea drones) berkecepatan tinggi juga disiapkan untuk melumpuhkan armada kapal perang dan kapal pendarat amfibi Cina sebelum mereka berhasil mendekati garis pantai pulau tersebut.
JUST IN: 🇹🇼🇨🇳 Taiwan is preparing to flood the skies with more than 210,000 drones to make any Chinese invasion a nightmare.
Taiwan has unveiled a €5.6 billion autonomous defense plan to deploy over 210,000 unmanned systems, including kamikaze drones, reconnaissance drones, and… pic.twitter.com/BQLjkAPQtL
— War Radar (@War_Radar2) June 27, 2026
Guna mendukung efektivitas serangan, Taiwan juga akan menggelar lebih dari 9.000 drone pengintai yang bertugas melakukan pemetaan taktis, intelijen, dan pemantauan pergerakan musuh secara waktu nyata (real-time).
Dalam mematangkan ekosistem industri militer baru ini, Taiwan tidak berjalan sendirian melainkan menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah perusahaan teknologi pertahanan terkemuka asal Amerika Serikat. Salah satu korporasi raksasa yang dilaporkan akan terlibat aktif adalah Anduril Industries, sebuah perusahaan yang sangat dikenal luas atas inovasi kecerdasan buatan (AI) dan pengembangan sistem otonom tempur.
Setelah Inggris, Giliran Taiwan Borong Jackal: Drone Copter Bersenjata Rancangan Turki
Perusahaan-perusahaan pertahanan asal AS berencana untuk membangun fasilitas manufaktur dan jalur perakitan drone serta rudal langsung di dalam wilayah domestik Taiwan. Kolaborasi internasional ini diharapkan tidak hanya dapat mempercepat proses transfer teknologi militer mutakhir, melainkan juga memastikan rantai pasok persenjataan tetap aman dari potensi blokade maritim, sekaligus mempertegas komitmen geopolitik Washington dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Indo Pasifik.
Melalui produksi massal berskala lokal ini, Taiwan secara tidak langsung sedang mentransformasikan wilayahnya menjadi benteng pertahanan “landak laut” digital yang sangat sulit ditembus. Bagi Beijing, pengumuman proyek pertahanan otonom berskala masif ini mengirimkan sinyal yang sangat kuat bahwa Taiwan tidak akan pernah menjadi target penaklukan yang mudah.
Sudah Punya Ribuan Rudal Stinger, Taiwan Datangkan Lagi Paket FIM-92 Stinger Senilai US$500 Juta
Anggaran sebesar Rp118,8 triliun ini menjadi bukti nyata bahwa doktrin perang modern di masa depan tidak lagi ditentukan oleh negara mana yang memiliki kapal perang terbesar atau personel terbanyak, melainkan oleh siapa yang mampu menggelar armada otonom paling cerdas, efisien, dan mematikan. Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan Cina belum memberikan tanggapan resmi mengenai cetak biru militer Taiwan tersebut, namun langkah ini dipastikan akan membuat ketegangan geopolitik di sepanjang Selat Taiwan tetap berada pada level tertinggi. (Gilang Perdana)


