CAWAT: Terapkan “Mode Perang”, Industri Pertahanan Rusia Pertahankan Posisi Eksportir Senjata Kedua Dunia

Lembaga kajian independen Center for Analysis of World Arms Trade (CAWAT) merilis laporan peta kekuatan ekspor alutsista global untuk periode tahun 2025. Berdasarkan kalkulasi lembaga yang berbasis di Moskow tersebut, Rusia berhasil mempertahankan posisinya di peringkat kedua dunia sebagai eksportir senjata terbesar.
Sepanjang 2025, nilai penjualan alutsista Rusia diperkirakan mencapai US$15 miliar atau menyumbang lebih dari 12,55 persen dari total volume perdagangan senjata internasional. Pencapaian ini diraih di tengah besarnya kebutuhan alokasi alutsista domestik untuk mendukung operasi militer di Ukraina serta tekanan sanksi ekonomi dari negara-negara Barat.
Dalam menyusun peringkat tahunan ini, CAWAT hanya menghitung nilai kontrak pasokan senjata dan peralatan militer yang teridentifikasi secara komersial. Mengingat Pemerintah Rusia mengklasifikasikan data statistik pertahanannya pasca mulainya operasi militer khusus, angka penjualan tersebut didasarkan pada penilaian komprehensif serta estimasi mendalam dari para analis CAWAT.
Peringkat pertama ekspor senjata dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat dengan nilai mencapai US$44,603 miliar (37,32 persen pangsa pasar), disusul Rusia di posisi kedua, dan Jerman melengkapi posisi tiga besar dengan nilai ekspor US$8,903 miliar (7,45 persen).
Rusia Disebut Turun Peringkat Sebagai Eksportir Senjata Global, Data SIPRI Langsung Direspon CAWAT
Komposisi tujuh negara lainnya yang mengamankan posisi sepuluh besar eksportir senjata dunia diisi oleh Korea Selatan di peringkat keempat dengan nilai US$8,779 miliar (7,35 persen), diikuti Perancis sebesar US$8,630 miliar (7,22 persen), dan Israel senilai US$5,995 miliar (5,02 persen).
Selanjutnya, Italia menempati urutan ketujuh dengan US$5,225 miliar (4,37 persen), diikuti Turki sebesar US$4,230 miliar (3,54 persen), Spanyol dengan US$3,476 miliar (2,91 persen), serta Cina di posisi kesepuluh dengan nilai US$2,970 miliar (2,49 persen). Laporan CAWAT menegaskan bahwa pemeringkatan ini murni menghitung kontrak komersial antarnegara dan secara tegas mengecualikan paket bantuan militer non-komersial yang dikirimkan koalisi Barat ke Ukraina.
Rosoboronexport Luncurkan Kampanye Global Rudal Udara-ke-Udara RVV-SDM untuk Su-57E Felon
Lonjakan kebutuhan alutsista untuk kebutuhan domestik sempat memaksa banyak manufaktur pertahanan Rusia mengalihkan sebagian kapasitas produksinya demi memenuhi pesanan negara (state defense order). Namun, industri pertahanan Rusia berhasil melakukan penyesuaian masif dengan mentransformasi sektor manufaktur ke dalam mode ekonomi perang (war footing).
Langkah percepatan dan perluasan fasilitas pabrik ini terbukti efektif meningkatkan volume produksi secara signifikan, sehingga kompleks industri militer Rusia mampu memenuhi lonjakan kebutuhan angkatan bersenjatanya sendiri sekaligus mempertahankan tingkat pengiriman ekspor ke negara-negara mitra pada level yang stabil.
Di sisi lain, kerahasiaan transaksi ekspor pertahanan Rusia kini berada pada tingkat tertinggi. CAWAT mencatat bahwa tingkat transparansi data yang dirilis oleh Federasi Rusia maupun badan pengelola ekspor senjata negara, Rosoboronexport, sengaja diturunkan secara drastis.
Langkah ini diambil sebagai strategi perlindungan guna menjaga kerahasiaan jalur pengiriman serta melindungi negara-negara pembeli alutsista Rusia dari ancaman sanksi sekunder yang gencar dilayangkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. (Gilang Perdana)
Related Posts
-
Lihat Reputasi NASAMS di Ukraina, Taiwan Ngebet Beli NASAMS Langsung dari AS
13 Comments | Jul 19, 2023 -
Ukraina Luncurkan UGV Dengan Peluncur Rudal MANPADS 9K38 Igla
No Comments | Sep 8, 2025
-
Exail Pasok Inertial Navigation System ke Rantis Serbu Rheinmetall Caracal 4×4 Angkatan Darat Jerman
No Comments | Jun 18, 2024
-
Pakistan Terima Lima Unit Drone Kombatan CH-4 Rainbow dari Cina
7 Comments | Jan 30, 2021


