Category: Rudal

Harpoon : Rudal Canggih Yang “Loyo” Akibat Embargo Militer

Setelah sempat berjaya di era 60-an, kembali di awal dekade 90-an TNI AL menjadi kekuatan laut di Asia Tenggara yang tampil dengan kemampuan serta daya getar tingggi. Hal ini bukan lantaran kala itu Indonesia menjadi satu-satunya pengguna armada kapal selam di kawasan ASEAN, lebih dari itu, TNI AL pada dua dekade lalu memiliki alutsista rudal anti kapal (SSM/surface to surface missile) dari jenis Harpoon buatan McDonnell Douglas (saat ini telah diakuisisi oleh Boeing Defence), Amerika Serikat.

Sebagai rudal anti kapal, Harpoon dapat diluncurkan dari beragam platform. Walau populer diluncurkan dari kapal perang (frigat atau destroyer). Dalam gelar operasinya, Harpoon mampu diluncurkan dari pesawat tempur, truk, dan hebatnya bisa diluncurkandari kapal selam. Bila disimak, fungsi dan peran operasinya bisa disejajarkan dengan keluarga rudal Exocet dan Yakhont. Berkat hadirnya Harpoon, jadilah dekade 90-an TNI-AL memiliki dua rudal SSM modern, yakni Exocet MM-38 dan Harpoon.

Ditilik dari spesifikasinya, Harpoon adalah rudal over the horizon, artinya dapat menghantam sasaran di luar batas cakrawala. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena jangkauan Harpoon yang bisa mencapai 100 Km lebih. Dengan ragam multi platform peluncuran, Harpoon dibagi dalam beberapa tipe, untuk Harpoon yang diluncurkan dari kapal dan truk yakni RGM-84A, sedang yang diuncurkan dari pesawat yakni AGM-84, dan yang diluncurkan dari kapal selam disebut UGM-84A.

F-16 Fighting Falcon mampu menggotong AGM-84 Harpoon

Indonesia termasuk negara yang beruntung ikut mengoperasikan rudal ini, di kawasan ASEAN diketahui Singapura juga mengadopsi Harpoon. Bila Indonesia “hanya” memiliki jenis RGM-84, maka Singapura sudah mengadopsi jenis RGM-84 Harpoon untuk kelas FPB (fast patrol boat) dan jenis AGM-84 yang ditempatkan pada pesawat patroli maritim MPA (maritim patrol aircraft) Fokker 50.

Sejak diluncurkan pertama kali pada tahun 1977, saat ini populasi Harpoon diperkirakan telah mencapai 7000 unit lebih. Karena sudah hadir cukup lama, Harpoon hingga kini sudah dibuat dalam beberapa versi upgrade untuk perbaikan performa. Menurut situ Wikipedia, TNI AL disebutkan memiliki jenis rudal Harpoon versi Block 1D. Harpoon Block 1D mempunyai keunggulan pada ukuran fuel tank yang lebih besar. Block 1D mulai diproduksi pada akhir tahun 80-an, dan produksinya tak dilanjutkan pada tahun 1992 lantaran AS lebih fokus pada hangatnya isu konflik dengan Pakta Warsawa. Harpoon Block 1D dirancang untuk jenis RGM/AGM-84, jarak tembak secara teorinya bisa mencapai 124 Km, jarak tembak tergantung dari jenis platform peluncuran.

Anatomi rudal Harpoon

Kedatangan Harpoon di Indonesia menjadi satu paket dengan hadirnya frigat kelas Van Speijk dari Belanda. Setiap frigat Van Speijk dapat membawa 8 tabung peluncur. TNI AL sendiri memiliki enam jenis frigat Van Speijk. Tak ada informasi yang jelas mengenai berapa unit Harpoon yang dibeli TNI AL. Dalam hitung-hitungan standar, setidaknya (harusnya) TNI AL minimal punya 48 unit Harpoon. Ini diasumsikan bila satu frigat Van Speijk benar-benar dipersiapkan dengan 8 Harpoon.

Harpoon yang dimiliki TNI AL dikendalikan sistem monitor Sea skimming lewat radar altimeter/active radar terminal homing. Ditinjau dari segi kecepatan, Harpoon digolongkan sebagai rudal sub sonic, kecepatan luncur Harpoon yakni 867 Km per jam atau 240 meter per detik. Bila ditilik dari elemen kecepatan, Harpoon dan Exocet MM-38 sama-sama masuk kategori rudal sub sonic. TNI AL baru merasakan era rudal SSM super sonic semenjak kehadiran rudal Yakhont dari Rusia.

KRI Karel Satsuit Tubun (356), salah satu frigat TNI AL yang mampu meluncurkan Harpoon

Jika dihitung dari segi usia, jelas Harpoon Block 1D kini sudah masuk usia uzur, dan bahkan mungkin sudah tak layak operasi. TNI AL pun sebenarnya sudah berusaha memperbaharui performa Harpoon, baik dari kelengkapan suku cadang hingga pengadaan jenis terbaru. Sedikit kilas balik, akibat insiden penembakan di Timor Timur pada tahun 1991, militer Indonesia terkena embargo senjata dari Amerika Serikat, hal ini berujung paa macetnya pasokan komponen dan alat pendukung Harpoon, akibatnya Harpoon TNI AL tak bisa dioperasikan.

RGM-84 Harpoon saat meluncur dari USS Leahy

Lepas dari soal embargo, hadirnya Harpoon di Indonesia sedikit banyak juga membuat Australia resah dan merasa terancam. Australia sempat menyiratkan ketidaksukaannya, apalagi disaat yang sama TNI AU juga kedatangan penempur termodern saat itu, F-16 Fighting Falcon. Kabarnya Australia pernah melayangkan protes mengenai hal ini ke pemerintah AS yang merestui penjualan senjata ini. Dan entah kebetulan atau karena rekayasa, pada akhirnya protes Australia “terkabul”, F-16 dan Harpoon Indonesia berhasil dibuat loyo. Sebagai informasi, Harpoon juga dioperasikan oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Australia.

Seiring bergulirnya era Reformasi di tahun 2005, embargo militer AS kini telah dicabut. Dan TNI pun tak ‘kapok’ pada peralatan tempur dari AS. Dikutip dari Kapablagi.com (5/12/2005), KSAL Laksamana Slamet Soebijanto menyatakan, pasca pemcabutan embargo militer oleh AS, TNI AL akan membeli rudal Harpoon. “Rudal Harpoon itu untuk kelengkapan kapal perang. Mengenai kapan waktu dan kebutuhannya, kami akan bicarakan lebih lanjut,” ujar Slamet.
Sementara itu Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien mengemukakan, rudal Harpoon itu nantinya akan melengkapi persenjataan dari kapal jenis fregat. “Kekuatannya hampir sama dengan rudal Exocet MM 38 yang jarak jangkaunya sekitar 80 hingga 100 kilometer. Kita memiliki peralatan untuk rudal Harpoon itu, tapi sudah tidak dipakai sejak lima tahun lalu,” katanya. Ia menjelaskan, sebelum membeli rudal harpoon, TNI AL akan membeli rudal Yakhount dari Rusia untuk dua kapal fregat yang memiliki daya jangkau lebih jauh, yakni sekitar 300 Kilometer. Rudal dengan harga sekitar empat juta dolar AS itu akan ditempatkan di satu kapal frigat dan direalisasikan 2006.

AGM-84 saat dipasang pada sayap F-18 Hornet US Navy

Dewasa ini Harpoon terus digunakan oleh AS dan sekutunya, Harpoon dimodifikasi untuk meningkatkan performa daya gempurnya, seperti versi block 1J/block1G/blockII dan yang termutakhir block III. Pada Harpoon block III, rudal ini mampu diluncurkan dengan pola VLS (vertical launching system), artinya rudal bisa ditembakkan dari posisi meluncur ke atas untuk selanjutnya mencari target sasaran sesuai koordinat yang sudah ditentukan. Pola VLS mirip yang diterapkan pada rudal jelajah Tomahawk dan rudal anti kapal Yakhont.

UGM-84 Harpoon saat lepas ke permukaan, setelah diluncurkan dari kapal selam

TNI AL Jajal Harpoon

RGM-84 Harpoon TNI AL, saat uji coba penembakkan

Pada tahun 1989 (sebelum Indonesia terkena embago senjata dari AS), TNI melaksanakan program Latihan Gabungan Laut (Latgabla) II yang berlangsung dari tanggal 23 Oktober sampai dengan 28 Oktober 1989. Dalam latihan tersebut TNI AL melakukan uji coba penembakkan Harpoon dari KRI Yos Sudarso (352). Sebagai sasaran rudal Harpoon adalah eks KRI Hiu, yang cukup menarik dalam uji coba ini sang rudal saat meluncur ke sasaran turur diikuti oleh pesawat tempur F-5 E/F Tiger TNI AU dari skadron 14. Dalam uji coba, antara Harpoon dan F-5 sempat hanya berjarak 10 meter. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Harpoon
Berat dengan booster : 691 Kg
Panjang : 4,6 meter (versi surface to surface) dan 3,8 meter (versi air to surface)
Diameter : 0,43 meter
Lebar Sayap : 0,91 meter
Berat Hulu Ledak : 221 Kg
Penggerak : Teledyne Turbojet/solid propellant booster
Kecepatan : 864 Km per jam
Pemandu : Sea skimming radar altimeter/active radar terminal homing

QW-3 : Rudal Panggul Andalan Paskhas TNI AU

Setelah cukup lama tak mengoperasikan rudal, akhirnya saat ini Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU kembali dipercaya mengoperasikan rudal anti serangan udara alias SAM (surface to air missile). Tapi beda dari tahun 60-an, kala itu TNI AU punya arsenal monster SAM SA-2 , yakni rudal berjangkauan jarak sedang yang punya kecepatan 3,5 Mach dan jadi momok menakutkan bagi pesawat tempur NATO.

Nah, lima dekade telah berlalu, saat ini Paskhas TNI AU sayangnya tak lagi mengoperasikan rudal hanud (pertahanan udara) jarak sedang. Konon sesuai kebutuhan strategis, Paskhas TNI AU kini justru mengusung alutsista berupa rudal SAM jarak pendek, rudal yang dimaksud tak lain adalah QW (QianWei)-3 buatan CPMIEC (China National Machinery Import and Export), RRC. QW-3 terbilang alutsista anyar di lingkungan TNI, rudal ringan ini kabarnya baru masuk ke arsenal alutsista TNI AU pada kuartal kedua tahun 2010 lalu. Salah satu kesatuan Paskhas yang pertama mengoperasikan QW-3 yakni Skadron Paskhas 463 di Madiun, Jawa Timur.

Ditilik dari spesifikasinya, QW-3 merupakan jenis rudal panggul hanud permukaan ke udara untuk menghadapi sasaran pesawat tempur berkecepatan tinggi/rendah dengan ketinggian rendah maupun sangat rendah. Sebagai rudal hanud berjangkauan jarak pendek, jarak tembak maksimumnya hanya sampai 8 Km dengan ketinggian maksimum 5 Km. Dilihat dari profilnya jelas QW-3 amat ideal menghantam pesawat tempur atau helikopter lawan yang terbang di ketinggian rendah.

Tak seperti rudal panggul (portable) yang ada saat ini, QW-3 yang pertama kali diperkenalkan pada Zhuhai Air Show di Cina tahun 2002, tak menggunakan sistem pemandu passive infra red. Rudal ini justru menggunakan pemandu semi aktif laser yang ditempatkan pada bagian moncongnya. Dengan pemandu laser, rudal ini relatif tahan terhadap flare (pengecoh panas) yang diluncurkan pesawat sasaran. Teknologi lain yang melengkapi QW-3 adalah anti jamming. Untuk mendukung manuver tinggi saat menguber dan menghancurkan, rudal ini dilengkapi teknologi mikro komputer.

Tampilan utuh QW-3

Tak mudah bagi pesawat untuk lolos bila telah dikunci oleh rudal ini, kecepatan luncur rudal ini terbilang fantastis untuk kelas rudal panggul, yakni 750 meter per detik, atau sekitar 2,7 Mach. Hulu ledaknya mengadopsi jenis high-explosive fragmentation dengan radius mematikan 3 meter.

Keunggulan lain dari rudal ini dapat membuat analisa logis dari energi target dan karakteristik gerakan dari target serta mengenali target secara efektif tanpa hambatan. Adapaun sistem perlengkapan rudal QW 3 dan BCU (Battery Coolant Unit) tersimpan dalam wadah tertutup rapat (kedap udara, anti kelembaban tahan lama), ukurannya kecil dan portable, sehingga dapat diaplikasikan pada kendaraan tempur (tank, mobil tempur dan kendaraan lainnya).

Platform peluncur QW-3

Sebagai rudal panggul, pengoperasian QW-3 terbilang sederhana dan punya mobilitas sangat tinggi. QW-3 diawaki oleh seorang juru tembak dengan posisi menembak berdiri. Selain bisa dioperasikan lewat panggul oleh seorang prajurit, untuk menjaga ke stabilan rudal seberat 23 Kg ini juga dipasangkan pada dudukan tripod pada kendaraan jip.

Saat digunakan oleh Paskhas, QW-3 tercatat sudah beberapa kali diujicoba, seperi di Garut, Jawa Barat pada 9 Juli 2010. Rudal yang diujicoba sebanyak empat buah. Sasaran tembaknya adalah beberapa pesawat yang menggunakan remote control, “tujuan kegiatan ini untuk mengetahui ketepatan maksimal sasaran tembak. Hasil uji coba cukup berhasil karena tepat mengenai sasaran,” ujar Kepala Penerangan Pasukan Khas TNI AU Lanud Sulaeman, Letnan Kolonel Sus Ahmad Nairiza, dikutip dari Tempointeraktif.com (9/7/2010).

QW-3 milik Paskhas dipasang dalam platform tripod di kendaraan jip

Selain di Garut, sebelumnya QW-3 juga diujicoba di pantai selatan kabupaten Pacitan pada kamis (10/6/2010) disaksikan oleh para pejabat TNI AU, Dephan, dan Mabes TNI. Kegiatan uji tembak tersebut dapat berjalan dengan lancar dan cukup berhasil ditandai dengan tembakan Rudal mengenai sasaran tembak berupa pesawat target drone. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi QW-3
Panjang : 2,1 meter
Berat : 23 Kg
Jangkauan : 0,8 – 8 Km
Ketinggian max : 5 Km
Kecepatan luncur : 750 meter per detik/2700 Km per jam
Hulu ledak : high-explosive fragmentation
Mesin : Roket berbahan bakar padat
Pemandu : semi aktif laser

Sea Cat : Rudal Hanud TNI AL Era 80an

Sea Cat meluncur dari sebuah Frigat Royal Navy

Pada era tahun 80an, saat Arhanud TNI AD mengandalkan rudal Rapier sebagai ujung tombak alutsista pertahanan udara, maka di matra lain, yakni TNI AL juga memiliki rudal anti serangan udara yang canggih pada masanya. Rudal kategori SAM (surface to air missile) yang dimaksud adalah Sea Cat buatan Short Brothers, Inggris. Sebagai platform rudal anti serangan udara, sistem peluncur Sea Cat sudah ‘ditanam’ pada frigat TNI AL.

Dalam catatan, setidaknya ada 9 frigat TNI AL yang mengusung Sea Cat. Tiga frigat pertama adalah dari kelas Tribal, yakni KRI Martha Kristina Tiyahahu (331), KRI Hassanudin (333) dan KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes (332). Ketiga frigat Tribal buatan Inggris ini dibeli bekas pakai dari Royal Navy pada periode tahun 1984-1985. Sedangkan enam frigat kedua adalah dari kelas Van Speijk buatan Belanda. Serupa dengan frigat Tribal, Van Speijk juga dibeli bekas dari Royal Netherlands Navy pada tahun 1989. Keenam frigat Van Speijk tersebut adalah KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354), KRI Halim Perdanakusumah (355) dan KRI Karel Satsuittubun (356).

KRI Ahmad Yani, salah satu frigat TNI AL pengusung Sea Cat
Sea Cat tengah ditembakkan dari KRI Yos Sudarso

Pada setiap frigat terdapat dua peluncur Sea Cat, dimana masing-masing peluncur dapat memuat empat rudal siap tembak. Dari spesifikasinya, Sea Cat dapat digolongkan rudal anti pesawat jarak pendek, jangkauan tembaknya maksimum 5 km. Tak seperti halnya rudal Rapier yang punya kecepatan tembak supersonic, Sea Cat hanya dirancang meluncur dengan kecepatan subsonic (0,8 Mach). Rudal berbobot 68 kg ini dirancang bermanuver dengan 4 sirip, sedangkan untuk urusan tenaganya dipercayakan pada two stage solid fuel rocket motor.

Sebagai sebuah peluru kendali, Sea Cat dalam operasionalnya dikendalikan lewat akses radio. Pada setiap peluncur terdapat seorang operator pengendali yang mengedalikan laju rudal secara remote dengan teknologi Command Line-Of-Sight (CLOS). Seperti terlihat di frigat Van Speijk TNI AL, ruang kendali operator Sea Cat terdapat tepat dibelakang peluncur. Untuk mengantisipasi cuaca buruk, pada kabin awak rudal dilengkapi wiper untuk membersihkan kaca dari air hujan.

Rangkaian platform Sea Cat, tampak peluncur dan konsol kendali CLOS yang diawaki seorang operator
Tampilan utuh Sea Cat, rudal subsonic ini menggunakan empat sirip

Pengalaman Tempur
Walau tak sebeken Rapier, Sea Cat nyatanya juga sudah teerlibat dalam beberapa kali dilibatkan dalam pertempuran. Yang mencolok adalah kiprahnya dalam perang Malvinas di tahun 1982. Karena hanya mengandalkan kecepatan subsonic, prestasi Sea Cat dalam perang Malvinas dinilia tak begitu baik. Selama berperang melawan AU Argentina, Sea Cat dikabarkan hanya mampu menembak jatuh sebuah A-4 C Skyhawk.

Peluncur Sea Cat siap tembak dengan 4 rudal

Peluncur dalam kondisi kosong, pola pemasangan rudal ke peluncur dilakukan secara manual

Pengalaman tempur Sea Cat lainnya yakni dalam India dalam berperang melawan Pakistan (1971) dan konflik perbatasan di Afrika Selatan. Dalam dua konflik terakhir ini, Sea Cat dimodifikasi menjadi Tigercat, yakni paltform rudal ini diusung untuk penggunaan di darat. Jika pada kapal perang satu pelunncur memuat empat rudal, untuk Tigercat satu peluncur hanya memuat tiga rudal. Sistem gelar Tigercat mengusung towed dari jip Land Rover. Negara penggua Tigercat yakni Argentina, India, Iran, Yordania dan Afrika Selatan. Oleh karena prestasi yang minus dalam pertempuran, beberapa negara kemudian mengganti Tigercat dengan Rapier.

Rudal Tigercat

“Kucing Laut” TNI AL
Sejak tahun 2000 lalu, populasi Sea Cat TNI AL berkurang, hal ini seiring dipensiunkannya frigat dari kelas Tribal. Frigat Tribal terbilang kapal perang tua, dirancang pada tahun 1950-an dan dioperasikan Royal Navy pada era 60 dan 70an, dan secara terbatas di awal tahun 80-an. Hal ini menandakan operasional dan performa Tribal sudah menurun drastis, apabila terus dioperasikan tentu biaya operasional yang ditanggung TNI AL akan kian besar.

KRI Hassanudin (333), salah satu frigat Tribal TNI AL yang juga mengusung Sea Cat

Maka setelah Tribal lengser, sandaran pengabdian Sea Cat hanya pada enam frigat kelas Van Speijk. Berbeda dengan frigat Tribal, kelas Van Speijk masih digunakan terus hingga saat ini lewat program repowering. Van Speijk yang umurnya sedikit lebih muda dari Tribal juga terbilang frigat canggih, sebab mengusung sudah kanon Oto Melara dan rudal SSM (surface to surface) Harpoon. Selama dioperasikan TNI AL, Sea Cat belum satu pun digunakan untuk menembak pesawat lawan. Terakhir kali Sea Cat tipe MK MOD 1 ditembakkan TNI AL dalam latihan penembakan strategis bersandikan “Operasi Halilintar” pada 8 hingga 9 Juni 2007.

Posisi penempatan peluncur Sea Cat pada frigat Tribal

Sea Cat on action

Seiring usia tua Sea Cat (mulai dioperasikan tahun 1962) dan teknologinya yang kian ketinggalan jaman, saat ini TNI AL mengganti Sea Cat di frigat Van Speijk dengan rudal Mistral dengan peluncur Simbad buatan MBDA, Prancis. Dari spesifikasi jelas Mistral lebih unggul degan kecepatan supersonic, lebih dari itu pengoperasian Sea Cat dan Mistral juga berbeda, Sea Cat mengusung sistem kendali penembakan lewat radio, sebalinya Mistral Simbad berupa rudal manpad dengan penuntun laser. Adopsi Mistral Simbad oleh TNI AL juga untuk melengkapi sista SAM di frigat kelas Parchim. Di lingkungan Royal Navy, Sea Cat digantikan rudal yang jauh lebih handal dalam kecepatan dan jangkauan, seperti Sea Wolf dan Sea Dart.

Meski dikabarkan telah pensiun, faktanya pada Rabu, 20 April 2011, rudal Sea Cat kembali di ujicoba oleh TNI AL. Sea Cat dilepaskan dari frigat KRI Karel Satsuittubun (356) di perairan Samudera Hindia. Uji rudal Sea Cat juga bersamaan dengan ujicoba rudal Yakhont, Exocet MM-40, Mistral, torpedo SUT dan roket anti kapal selam RBU-6000. Perlu dicatat, dalam ujicoba ini, Sea Cat ditembakkan sebagai sasaran atau target untuk rudal Mistral. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Sea Cat
Manufaktur : Short Brothers
Berat : 68 Kg
Panjang : 1,48 meter
Diameter : 0,22 meter
Berat Hulu Ledak : 18 Kg
Hulu Ledak : Detonation mechanism proximity
Mesin : Roket berbahan bakar padat
Kecepatan : 0,8 Mach
Lebar sirip : 0,70 meter
Jangkauan : 500 – 5.000 meter
Sistem kendali : CLOS dan radio link

K-13 : Rudal Pamungkas MiG-21 AURI

MiG-21 AURI dengan AA-2 Atoll

Jauh-jauh hari sebelum TNI AU mengandalkan AIM-9 P4 Sidewinder sebagai rudal pemburu andalan di F-16 Fighting Falcon, pada dekade tahun 60-an AURI (TNI AU-kini) sebenarnya juga sudah memiliki rudal udara ke udara (air to air missile) jarak dekat yang cukup canggih pada masanya. Rudal ini tak lain adalah K-13 buatan Vympel dari Uni Soviet. Pada awal kehadiran MiG-21 di Tanah Air, K-13 menjadi ikon senjata utama yang tak terpisahkan dari MiG-21 Fishbed.

K-13, dalam koden NATO disebut AA-2 Atoll, tak lain dalah rudal jarak dekat dengan jangkauan maksimum 8 Km. Yang paling menarik, desain dan konsep rudal ini memang menyadur Sidewinder, rudal legendaris milik AS. Menurut kisah yang beredar luas, pada 28 September 1958, sebuah AIM-9B yang ditembakkan dari sebuah F-86 Sabre Taiwan dengan target sebuah MiG-17 Republik Rakyat Cina tetapi tidak. Rudal tersebut hanya menancap di ekor pesawat MiG dan dibawa kembali ke pangkalan dan menjadi contoh pengembangan rudal Uni Soviet.

AA-2 Atoll (K-13) tampak dari sisi sayap samping
AA-2 Atoll (K-13) di Museum Dirgantara - Jogjakarta

K-13, atau dikenal dengan kode R-3S mulai dikembangkan pada tahun 1958 dan masuk dinas AU Uni Soviet pada tahun 1960. R-3S pertama kali diketahui negara Barat pada 196, lalu diberi kode AA-2A Atoll. Kemudian disusul oleh R-3 jenis pelacak radar semi-aktif (SARH) yang sekelas dengan AIM-9C Sidewinder yang digunakan F-8 Crusader Angkatan Laut Amerika Serikat. R-3 diberi kode NATO AA-2B. Lalu versi yang lebih mutakhir K-13M (R-13M) (IRH) dan K-13R (R-3R) (SARH) dikembangkan pada akhir 1960-an. R-13M secara kasar sekelas dengan AIM-9G Sidewinder yang digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat dengan pemicu jarak yang baru, bahan bakar baru untuk jarak yang lebih jauh, manuver yang lebih baik dan pelacak panas yang lebih sensitif. R-3P adalah versi untuk latihan. (P = prakticheskaya, untuk “latihan”).

Tentu performa AA-2 Atoll untuk ukuran saat ini sudah ketinggalan jaman, rudal ini serupa dengan konsep rudal AIM-9 P2 Sidewinder, dimana untuk menembakkan rudal pilot harus membidik musuh didepannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Ini tak lain karena rudal hanya akan menuju sumber panas yang dikeluarkan dari exhaust jet tempur.

AA-2 Atoll (K-13) tampak dari sisi belakang sayap
Dilihat dari desain, K-13 memang serupa dengan Sidewinder

Insiden AA-2 Atoll
Prestasi AA-2 Atoll bisa dibilang tidak terlalu cemerlang, ada sepenggal kisah menarik yang melibatkan AA2-Atoll pada insiden Teluk Sidra di Libya pada 19 Agustus 1981. Saat itu pukul 07.00 waktu setempat, radar kapal induk USS Nimitz mengunci dua sasaran. Kedua target yang mengarah ke posisi armada ke-6 itu tak lain adalah jet tempur Su-22 Fitter AU Libya. Bukan hanya radar dari kapal induk saja, kedua pesawat yang berpangkalan di sekitar Tripoli itu juga terdeteksi oleh sebuah E-2C Hawkeye yang terbang di ketinggian 21.000 meter.

Pada saat yang sama, ada dua jet penyergap F-14 Tomcat asal Skuadron Black Aces (VF-41) tengah berpatroli udara (CAP). Tomcat pertama dengan callsign “Fast Eagle 102” diawaki CDR Hank Kleeman /LT Dave Venlet. Sedang pesawat lain bercall-sign “Fast Eagle 107” dikendalikan oleh LT “music”Muczynski/LT JG “Amos” Anderson. Skuadron ini berpangkalan di kapal induk USS Nimitz. Kedua Tomcat tadi lalu diarahkan untuk mencegat Fitter Libya.

Su-22 milik AU Libya

Secara umum jelas kemampuan Fitter tak bisa disejajarkan dengan Tomcat. Dari konsep perancangannya saja, kedua jenis jet tadi sudah jauh berbeda. Sukhoi melansir Su-22 Fitter untuk keperluan serang permukaan (Ground Attack). Artinya semua piranti elektronik dan persenjataan yang diusung dipakai untuk menghantam sasaran darat. Memang ,rudal anti pesawat juga dibawa Fitter.Namun,harus diingat bahwa rudal tadi hanya sekedar untuk pertahanan diri.

Sebaliknya Grumman mendesain F-14 Tomcat murni bagi keperluan pencegat dan duel di udara. Urusan avionik dan persenjataan juga dibuat untuk menghajar pesawat lawan. Baik jarak jauh maupun jarak dekat. Hanya dalam hitungan menit saja kedua tipe jet tempur beda konsep dan generasi tadi akhirnya masuk dalam radius tempur. Mereka saling berhadapan, head-on, lalu terjadilah aksi duel di udara ,dua rudal antipesawat AA-2 Atoll berpemandu inframerah diluncurkan oleh Fitter ke Arah Tomcat.

Ilustrasi jalannya duel udara antara F-14 Tomcat dan Su-22

Entah karena nekat, panik atau memang tak mengenal karakter teknisnya, kedua rudal tadi malah diarahkan langsung ke bagian muka target. Padahal, Atoll merupakan rudal pencari panas dan belum berkemampuan all-aspect (menghantam dari segala sudut), alhasil kedua rudal tadi gagal mengenai targetnya.

Gagal merontokkan jet AS, kedua Fitter tadi berbelok tajam, melarikan diri. Dengan keunggulan manuver dan kecepatan maka tanpa bersusah payah kedua Tomcat tadi mengunci sasaran dan bisa ditebak, berakhirlah riwayat dua jet Libya itu .Sebuah Fitter rontok oleh AIM-9L Sidewinder, bola api disertai getaran hebat memenuhi Teluk Sidra. Sebuah Fitter yang lain beruntung dapat kembali ke pangkalan meskipun harus rusak berat terkena hantaman AIM-9 L sidewinder.

AA-2 Atoll dan MiG-21 AURI
Sayang tidak ada informasi yang jelas, berapa unit Atoll yang pernah dimiliki AURI pada tahun 1960-an. Sebagai ilustrasi saja, sebuah MiG-21 umumnya menggotong dua Atoll, nah MiG-21 yang dimiliki AURI kabarnya berjumlaah 10 unit. Jadi bila setiap pesawat dibekali dengan dua Atoll, bisa diperkirakan populasi Atoll setidaknya ada 20 unit di Indonesia. Sebagai informasi, MiG-21 F memperkuat AURI sampai tahun 1967.

K-13 masih digunakan hingga generasi MiG-23

Semua varian K-13 secara fisik memang menyerupai Sidewinder dengan diameter 127 mm. Walau berjangkauan 8 kilometer, tapi jarak efektifnya adalah sekitar 1 kilometer. Umumnya negara-negara sekutu Uni Soviet menggunakan Atoll sebagai alutsista andalan. Versi lisensi Atoll dibuat di Rumania dengan kode A-91. Versi Republik Rakyat Cina untuk K-13 adalah PL-2, serta PL-3 dan PL-5 untuk versi yang lebih mutakhir. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi K-13
Produksi : Vympel
Panjang : 2,8 meter
Lebar Sayap : 0,53 meter
Diameter : 0,12 meter
Kecepatan : 2,5 Mach
Jangkauan : 6,5 – 8 Km
Pengarah : passive infra-red homing or semi-active radar homing
Hulu ledak : proximity-fuzed blast fragmentation, 6 kg
Tenaga : solid propellant rocket motor

Rapier : Berjaya di Malvinas Jadi Andalan TNI 2 Dekade

Dampak perang Malvinas yang terjadi pada tahun 1982 nyatanya ikut memicu perkembangan militer TNI (dahulu ABRI). Diantara beragam kisah unggulnya alutisista Inggris melawan militer Argentina, terdapat sista pertahanan udara (hanud) yang menarik hati pemerintah Indonesia pada masa itu, tak lain adalah rudal Rapier buatan pabrik British Aerospace.

Rapier adalah rudal darat ke udara (SAM/surface to air missile) yang berperan untuk menghancurkan sasaran pesawat tempur yang berkecepatan tinggi. Kecepatan luncur rudal ini bisa mencapai 2,5 Mach, terbilang handal untuk melahap target pesawat tempur yang bermanuver tinggi. Selama kancah perang Malvinas, setidaknya Rapier sudah merontokkan 14 pesawat tempur Argentina. Rapier sejatinya adalah rudal pertahanan udara jarak pendek (short range), maka itu Rapier amat pas menghajar sasaran yang terbang rendah dengan kecepatan tinggi.

Satu satuan tembak (satbak) Rapier umumnya terdiri atas peluncur berisi empat rudal, penjejak optik, panel kontrol, dan catu daya (genset). Mulanya sistem ini dirancang untuk menghadapi serangan pesawat yang terbang rendah dan cepat, dalam jumlah banyak di siang hari. Tapi, yang dibeli Indonesia nyatanya diberi perlengkapan tambahan berupada radar blindfire. Radar blindfire memungkinkan Rapier tetap ampuh pada melahap sasaran di malam hari. Keampuhan Rapier dengan blindfire ini, agaknya, cukup meyakinkan.

Rapier milik Arhanud TNI AD, terlihat peluncur ditarik dengan jip Land Rover

Rapier mulai dikembangkan pada tahun 1960-an sebagai proyek ET.316, dan mulai masuk operasional di AD Inggris pada tahun 1971. Saat pertama kali dicoba, akhir tahun 70-an, Rapier berhasil menghantam target yang terbang melaju pada kecepatan 0,6 Mach (0,6 kali kecepatan suara) di ketinggian 600 meter. Dalam operasionalnya, Rapier tak akan menghantam pesawat sendiri di tengah kekacauan perang. Sebab, rudal dengan bobot 42 kg ini memiliki sarana elektronik IFF (Identification Friend or Foe). Artinya, sistem Rapier dilengkapi dengan pengirim sinyal radio dalam bentuk kode yang harus dliawab secara otomatis, dengan kode yang telah ditentukan. Bila pesawat yang ditemukan radar memberi kode yang benar, radar pun akan bergerak mencari sasaran lain. Bila tidak, alarm berbunyi dan rudal pun siap ditembakkan.

Rapier sedang dipersiapkan oleh awak AD Inggris (Royal Army)
Ilustrasi aksi Rapier dalam perang Malvinas

Operator Rapier mempunyai dua pilihan, mengendalikan rudal dengan tangan atau menyerahkannya pada radar. Untuk pengendalian dengan tangan, tersedia tongkat yang dapat digerakkan ke segala arah yang diinginkan. Bila sasaran berada dalam jarak tembak, komputer akan memberi tanda, dan rudal pun ditembakkan. Melalui layar televisi, operator memastikan rudal menghantam sasaran dengan menggerakkan tongkat. Hulu ledak rudal ini hanya akan meledak bila mengenai sasaran. Keunggulan lain dari Rapier adalah sistemnya bisa digelar oleh tiga orang dalam tempo kurang dari 15 menit .

Rapier di Indonesia
Selain kepincut karena battle proven saat perang Malvinas, alasan TNI mengadopsi rudal ini karena Rapier telah banyak digunakan oleh banyak negara, terutama negara NATO. Dan dikawasan ASEAN, Indonesia adalah negara ketiga yang membeli Rapier, setelah Brunei Darussalam dan Singapura. Keseragaman di bidang persenjataan antar negara tetangga kala itu menjadi pertimbangan penting, diharapkan dengan memiliki standar alutsista yang sama, maka program kerjasama akan mudah dilakukan bila suatu saat diperlukan.

Bentuk utuh rudal Rapier
Towed Rapier milik AD Singapura

Menurut informasi dari Majalah Tempo (22 Desember 1984), kontrak pembelian Rapier dilakukan pemerintahh RI lewat Departemen Pertahahan pada bulan pertengahan bulan Desember 1984. Disebutkan kontrak pembelian Rapier saat itu sekitar Rp 125 milyar. Pihak British Aerospace akan mengirim sejumlah unit rudal Rapier mulai tahun berikutnya.

Menurut informasi tak resmi, Indonesia membeli sebanyak 51 launcher (peluncur) Rapier. Rudal canggih ini pun langsung ditempatkan untuk menjaga obyek vital, seperti di Arun (NAD), Cikupa (Jawa Barat), Karang Ploso (Malang-Jawa Timur), Bontang (Kalimantan Timur) dan Dumai (Riau). Untuk pengoperasian rudal ini dipercayakan pada Satuan Artileri Perthanan Udara (Arhanud) TNI AD. Unit Arhanud TNI AD yang mengoperasikan Rapier diantaranya Detasemen Arhanud (Denarhanud) Rudal 001 di Kodam Iskandar Muda, Denarhanud Rudal 002 di kodam VI/Tanjungpura, Denarhanud Rudal 003 di Kodam Jaya dan Denarhanud Rudal 004 di kodam I/Bukit Barisan. Rudal ini kabarnya baru mulai operasional di Indonesia pada tahun 1987.

Rapier Arhanud TNI AD dalam sebuah defile
Radar Blindfire

Setiap Denarhanud terdiri dari 11 (sebelas) satbak Rudal Rapier, komposisi ini dicontohkan pada Denarhanud Rudal 002. Setiap satbak Rapier terdiri dari :
1. Peluncur (Launcher).
2. Penjejak Optik (Optical Tracker).
3. Alat Bidik Bantu (Pointing Stick).
4. Unit Pengendali Taktis (SEZ = Selector Engagement Zone).
5. Sarana Peyakin Operator (OCF = Operator Confidence Facility).
6. Rudal (Missile).
7. Generator (GSGE = Generator Set Gasoline Engine).

Selain itu 1 (satu) satbak Rapier juga dilengkapi dua unit kendaraan penarik jenis Land Rover 110 yang terdiri dari 1 (satu) unit FUT (Firing Unit Truck) dan 1 (satu) unit DSV (Dettachment Support Vehicle). Tiap satbak Rapier diawaki oleh depalan orang personel, terdiri dari 1 (satu) orang Komandan Satuan Tembak (Dansatbak), 1 (satu) orang Bintara Satuan Tembak (Basatbak), 2 (dua) orang Bintara Penembak (Babak), 2 (dua) orang Tamtama Operator (Taop) dan 2 (dua) orang Tamtama Pengemudi (Tamudi).

Land Rover penarik peluncur Rapier
Rapier juga digunakan AD Inggris dalam platform kendaraan lapis baja

Untuk menambah kemampuan deteksi, tiap Denarhanud dilengkapi satu unit Radar Radar Giraffe yang merupakan Radar Peringatan Setempat sekaligus Radar Pengendali Pertempuran bagi Satbak-Satbak Rudal Rapier. Radar Giraffe dapat menangkap 9 (sembilan) sasaran sekaligus, dan dapat membaginya ke Satbak-Satbak Rudal Rapier secara terintegrasi. Radar Giraffe yang ada di satuan Denarhanud Rudal-002 Dam VI/Tpr ditempatkan di atas kendaraan Truck 16 Ton merk Volvo.

Radar Giraffe milik satuan Arhanud TNI AD

Mengingat bahwa Satbak Rudal Rapier mempunyai sifat-sifat yang khusus, maka daerah gelar Satbak Rudal Rapier harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1.Medan harus cukup luas dan keras untuk menggelar semua peralatan.
2. Jalan pendekat (masuk dan keluar) cukup baik.
3. Mempunyai sektor tembakan yang tidak terhalang.
4. Jauh dari tegangan tinggi minimal 300 meter.
5. Kemiringan tempat gelar daripada Launcher (Peluncur) tidak boleh lebih dari ± 90 mil (± 5º ).
6. Sudut elevasi antara Launcher dengan Optical Tracker tidak boleh lebih dari ± 180 mil (± 10º).
7. Jarak antara Launcher dengan benda-benda yang mudah terbakar atau gedung-gedung ± 10 meter.
8. Jarak antara Launcher dengan Runway dan Taxiway ± 30 meter.

Sudah Pensiun
Karena usian yang tua, kini arsenal Rapier telah dinyatakan pensiun dari kedinasan dan disimpan dalam depo TNI AD. Hal ini didasarkan Rapier telah melewati batas Lost Point maksimal sehingga sudah tidak aman lagi untuk ditembakkan, ini berdasarkan Surat Telegram Danpussenart Nomor ST/62/2002 tanggal 15 Agustus 2002 tentang larangan untuk menembakkan Missile Rudal Rapier yang masih tersisa. Sebagai penggantinya, tiap Denarhanud TNI AD kini mengoperasikan kanon 23 mm/Zur komposit dengan Rudal Grom yang merupakan senjata anti pesawat udara buatan Polandia.

Rapier kini sudah pensiun dalam kedinasan Arhanud, Rapier saat ini masih disimpan dalam depo

Rapier Next Generation
Melihat kisah sukses Rapier, pihak manufaktur rudal ini pun mengembangkan spesifikasi Rapier menjadi “Rapier 2000”. Rapier anyar ini ditawarkan oleh MBDA (perusahaan hasil merger dari British Aerospace, Aerospatiale Matra Missile dan Finmeccanica). Diantara fitur yang ditawarkan Rapier 2000 adalah integrasi sistem peluncur Jernas. Jernas menjadikan unit Rapier tampil lebih ringkas, dalam satu peluncur sudah terintegrasi generator dan optical tracker. Selain Inggris, Jernas saat ini digunakan oleh AD Malaysia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Jernas Rapier 2000, peluncur dapat mengusung 8 rudal sekaligus

Spesifikasi Rapier
Mesin : Roket berbahan bakar padat
Berat : 45 Kg
Panjang : 2,235 meter
Diameter : 0.133 meter
Kecepatan : 2,5 Mach
Jangkauan : 400 – 6,800 meter
Ketinggian : 3000 meter
Hulu ledak : Peledak fragmentasi
Platform peluncur : kendaraan darat
Negara pengguna : Inggris, Indonesia, Turki, Malaysia, Swiss, Singapura, dan Australia

AT-5 : Rudal Anti Tank BVP-2 Marinir

Korps kavaleri Indonesia bisa dibilang punya beragam ranpur, tapi rasanya masih agak tertinggal untuk urusan persenjataan, semisal di segmen rudal anti tank, belum ada satu pun ranpur kavaleri TNI yang dibekali rudal penghancur tank. Baru semenjak kehadiran tank BVP-2 kavaleri di Tanah Air mengenal rudal anti tank dari jenis AT-5 Spandrel.

Sebagai rudal anti tank, AT-5 dapat dipasang di berbagai ranpur, baik dari jenis tank, panser sampai jip. Pada BVP-2 Korps Marinir, AT-5 ditempatkan pada bagian atas kubah kanon 30 mm BVP-2. Rudal ini terbilang mudah untuk dibongkar pasang, ini tak lain berkat komponen kontainer rudal yang relatif ringan dari bahan fiberglas.

AT-5 Spandrel

Sejatinya AT-5 bukan rudal anti tank anyar, AT (anti tank) -5 Spandrel merupakan identitas yang diberikan oleh pihak NATO. Identitas asli rudal ini adalah 9M113 Konkurs dan rudal ini mulai dikembangkan pada era perang dingin. Desain AT-5 sudah dimulai sejak tahun 1962, dan jenis ATGM (anti tank guided missle) ini resmi mulai dioperasikan pada tahun 1974. Dengan desain yang ringkas, memungkinkan AT-5 dioperasikan secara portabel oleh personel infantri sekalipun.

Sistem kerja rudal ini menggunakan generator gas untuk mendorong rudal keluar dari tube kontainer. Saat rudal ditembakkan, semburan gas akan memacar dari belakang tube. Performa AT-5 cukup dahsyat, saat keluar dari tube, rudal memiliki kecepatan luncur 80 meter per detik dan secara cepat meningkat jadi 200 meter per detik. Hal tersebut bisa dicapai berkat dukungan solid fuel motor.

AT-5 mudah digelarsecara portable

Selama rudal meluncur hingga menghajar target, rudal akan berputar lurus antara 5 sampai 7 kali per detik. Sedangkan jarak tembak efektif rudal ini mulai dari jangkauan 70 meter hingga 4 Kilometer. Untuk jenis bahan peledaknya, AT-5 mengusung tandem HEAT (High Explosive Anti Tank).

Tabung peluncur AT-5 pada kubah tank BVP-2 Korps Marinir

Walau bukan rudal anti tank keluaran terbaru, tapi AT-5 punya segudang pengalaman tempur. Salah satunya pada tahun 2006 lalu, rudal ini menjadi dewa maut di tangan pejuang Hizbullah. Terbukti rudal ini mampu mengkandaskan beberapa MBT (Main Battle Tank) Israel dari jenis Merkava di zona konflik Lebanon.

AT-5 produksi Iran

Selain menjadi senjata “wajib” untuk negara-negara sekutu Rusia, menurut Wikipedia.com, Amerika Serikat juga menggunakan rudal ini untuk keperluan latihan. AT-5 diproduksi oleh Tula Machinery Design Bureau di Rusia. Terbukti bandel di medan perang, rudal ini juga dibuat oleh Iran dengan label Towsan-1/M113. Varian AT-5 yang diproduksi Iran inilah yang konon digunakan oleh pejuang Hizbullah saat melawan tank Israel. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi AT-5
Berat : 14,6 Kg
Panjang : 1,15 Meter
Diameter : 13,5 Cm
Sistem Peluncuran : wire guided SACLOS (Semi-Automatic Command to Line of Sight)
Moda Peluncuran : perorangan atau dari kendaraan tempur.

Mesin : solid-fuel rocket
Lebar sayap : 46,8 Cm
Jarak Jangkau : 70 meter sampai 4 Km
Kecepatan : 200 meter per detik

Mistral : Andalan Pertahahan Udara Frigat TNI AL

Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365
Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365

Bila Arhanud TNI AD punya rudal Grom, maka TNI AL untuk memperkuat pertahanan pada armada frigatnya juga mengandalkan rudal SAM jenis Mistral. Antara Grom dan Mistral pun sejatinya punya banyak kesamaan, kedua rudal SAM ini masuk kategori SHORAD, rudal ringan untuk sasara jarak pendek. Lebih dari itu, Grom dan Mistral juga mengusung basis platform Manpad (man portable), alias rudal yang pengoperasiannya bisa dilakukan dengan dipanggul oleh seoeang prajurit.

Mistral dibuat oleh pabrikan MBDA missile systems yang berbasis di Perancis. Rudal ringan ini mulai dirancang sejak tahun 1974, dan baru benar-benar operasional pada tahun 1988 untuk versi pertamanya (S1), dan di tahun 1997 diluncurkan versi keduanya (M2). Meski masuk segmen Manpad yang mobile, Mistral dalam pengoperasiannya harus menggunakan penyangga, serupa dengan rudal RBS-70 TNI AD, ini lantaran bobot 1 unit Mistral yang mencapai 18,7 kg.

Tetral pada buritan KRI Diponegoro
Tetral pada buritan KRI Diponegoro

Mistral terbilang kaya modifikasi, selain bisa dioperasikan secara Manpad, Mistral juga amat pas dipadukan dengan teknologi sistem peluncur, artinya Mistral mampu dijalankan secara remote untuk mengejar target. Untuk sistem peluncurnya, TNI AL diketahui memiliki Mistral dengan dua platform, yakni Tetral dan Simbad. Tetral merupakan platform peluncur yang k atas 4 unit Mistral, sistemnya dapat bekerja otomatis, dikendalikan secara remote, dan tergolong low maintenance. Desain Tetral memang dirancang oleh MBDA untuk dipasang pada jenis kapal perang yang menganut konsep stealth. Dan bisa ditebak, Tetral memang menjadi andalan frigat TNI AL dari kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dibeli dari galangan Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Frigat dengan desain stealth. Pada tiap frigat SIGMA dilengkapi dua sistem peluncur, masing-masing peluncur memuat empat rudal. Dalam pengoperasiannnya, Tetral dikendalikan dari PIT (pusat informasi tempur).

Sistem peluncur Simbad yang dioperasikan manual
Sistem peluncur Simbad yang dioperasikan manual

Platform peluncur kedua untuk Mistral yang digunakan TNI AL adalah Simbad. Simbad merupakan platform peluncur untuk dua rudal Mistral dan dioperasikan secara manual oleh operator (Manpad). Simbad saat ini dipasang pada frigat TNI-AL kelas Van Speijk. Hadirnya Mistral di frigat Van Speijk sebagai pengganti rudal SAM jenis Sea Cat yang usianya sudah lawas. Meski belum serempak digunakan oleh semua frigat Van Speijk TNI AL, paling tidak dipastikan KRI Karel Satsuitubun (356) sudah terlihat memasang Simbad pada bekas dudukan peluncur Sea Cat.

Meski tergolong rudal ringan jarak pendek, Mistral bisa melahap multi target, termasuk target yang bermanuver cepat, dalam hal ini seperti pesawat tempur dan helikopter, bahkan Mistral dengan kecepatan luncurnya yang 800 meter per detik bisa melahap target berupa rudal. Dalam rilis yang dikeluarkan MBDA, tingkat success rate Mistral Tetral mencapai 93 persen. Untuk menghajar target, rudal ini dilengkapi kendali berupa canard dan sistem sensor pengarah berupa passive IR (infra red) homing. Sensor passive IR akan bekerja 2 detik setelah peluncuran.

Sistem peluncur Sadral pada fregat AL Perancis
Siatem peluncur Sadral pada fregat AL Perancis

Mistral terbilang kaya ragam platform peluncur, selain di kapal perang dan Manpad, Mistral juga laris diupasang pada berbagai kendaraan militer di darat, bahkan Perancis menggunakan Mistral sebagai senjata pamungkas di helikopter Tiger dan Gazelle. Dengan bobot peledak 3 kg, dan jangkauan tembak hingga 5,3 km membuat rudal ini ideal dipasang pada beragam platform. Selain Indonesia, di kawasan Asia Tenggara rudal ini juga dimiliki oleh Singapura. Tercatat sejak 1989, Mistral sudah di ekspor ke 25 negara dengan produksi lebih dari 16.000 unit rudal.

Selain Simbad dan Tetral, sebenarnya masih ada platform peluncur lain, yakni Sadral. Sadral pada prinsipnya mirip dengan Tetral, dimana sistem rudal diluncurkan secara remote otomatis dari PIT. Bedanya Sadral mengusung enam peluncur rudal Mistral. Baik Simbad, Tetral dan Sadral, ketiganya dapat cepat untuk diisi ulang dan dapat ditebakkan secara salvo. TNI AL pada 20 April 2011 telah melakukan uji coba penembakkan Mistral denga target berupa rudal Sea Cat. Mistral dilepaskan dari KRI Hassanuddin (366) yang merupakan bagian dari armada frigat kelas SIGMA. Jadi bisa dipastikan Mistral dilepas dari platform peluncur Tetral. (Haryo Adjie Nogo Seno)


Spesifikasi Mistral – Simbad

Panjang : 1,86 meter
Diameter : 90 mm
Berat : 18,7 kg (termasuk 3 kg hulu ledak high explosive)
Kecepatan luncur : 800 m/detik atau 2,6 Mach
Jangkauan : efektif hingga 5,3 km
Sistem pemandu : infra red
Mekanisme peledakan : laser proximity atau impact triggered
Mesin : solid rocket motor

Spesifikasi Tetral
Berat Sistem Peluncur : 600 Kg (termasuk 4 rudal)
Bearing : 310 derajat
Sudut Elevasi : -16 sampai 75 derajat

Yakhont : Rudal Jelajah Supersonic TNI-AL

Yakhont juga diproduksi secara lisensi oleh India, dengan nama Brahmos
Yakhont juga diproduksi secara lisensi oleh India, dengan nama Brahmos

Ada kabar gembira di tengah berita minimnya perkembangan persenjataan Indonesia. Pasalnya TNI-AL kini sudah membeli rudal supersonic terbaru untuk menambah kemampuan (fire power) pada kapal-kapal perang. Rudal tersebut adalah SS-N-26 Yakhont buatan Rusia. Rudal di mempunyai kode P-800/SSN-X-26. Beberapa kehandalan Yakhont yang tak dimiliki rudal anti permukaan TNI-AL sebelumnya adalah Yakhont mempunyai kecepatan maksimum hingga 2,5 Mach. Ditambah lagi Yakhont punya jangkauan tembak sangat jauh, tak tanggung-tanggung 300 Km. Dua kemampuan tadi yang hingga kini belum dimiliki jajaran rudal anti kapal TNI-AL. Seperti diketahui TNI-AL mempunyai rudal Exocet MM30/40, Harpoon dan C802. Tapi dibalik itu, Yakhont mempunyai bobot dan dimensi yang terbilang bongsor di kelasnya. Harga satu unit Yakhont ditaksir sekitar US$ 1,2 juta.

Untuk pertama kalinya pada hari Rabu, 20 April 2011, sebuah rudal Yakhont berhasil di ujicoba tembak oleh TNI AL di perairan Samudera Hindia. Lewat ujicoba ini akhirnya ditehaui penempatan Yakhont, yakni di jenis frigat TNI AL kelas Van Speijk buatan Belanda. Saat ujicoba 20 April, Yakhont diluncurkan dari KRI Oswal Siahaan (354). Dalam ujicoba, sasaran tembak Yakhont berada di lintas cakrawala, yakni menghantam target dengan jarak 135 mil laut atau sekitar 250 km. Target Yakhont adalah eks KRI Teluk Bayur (502), sebuah LST (landing ship tank) keluaran tahun 1942 yang dibuat di Amerika Serikat.

Menganut Konsep VLS
Inilah rudal permukaan pertama milik TNI, khususnya TNI AL yang meluncur secara VLR (vertical launching system), artinya saat rudal meluncur dari “sarangnya” dalam posisi tegak lurus. Beda dengan rudal-rudal yang sebelumnya, dimana model peluncuran rudal dengan konsep melintang, seperti Exocet dan C-802. Hal ini kabarnya dilakukan lantaran untuk menghemat ruang, ukuran Yakhont bisa dibilang super jumbo dan berat, jauh lebih besar dari rudal-rudal TNI AL yang ada saat ini. Bila dipaksakan dengan konsep meluncur melintang, bisa dipastikan frigat sekelas Van Speijk hanya akan mampu menggotong dua Yakhont.

Namun, berkat adopsi konsep VLS, setidaknya satu frigat Van Speijk bisa membawa 4 unit Yakhont. Adopsi peluncuran rudal secara VLS juga lumrah dilakukan oleh armada firigat/destroyer US Navy, khususnya saat meluncurkan rudal Tomahawk, sebuah rudal jelajah yang juga berukuran bongsor.

Proses loading Yakhont kedalam tabung peluncur VLS

Dengan sistem VLS, saat pertama kali meluncur, Yakhont dilontarkan ke udara dengan metode cold launch. Sesaat setelah rudal keluar dari tabung, motor roket menyala mendorong tubuh rudal berbobot 3 ton ini hingga ketinggian 200 meter. Kemudian roket kecil pada hidung rudal akan mengarahkan rudal ke sasaran. Gerakan Yakhont terbilang unik, setelah terbang ia akan menanjak hingga ketinggian 14-15 km, hal ini tergantung pula pada jarak sasaran, utamanya hal tersebut dilakukan bila sasaran berada pada jarak diatas 120 Km.

Kubah penutup rudal Yakhont

Fire Control System
Sebelum rudal bisa melesat ke sasaran, terlebih dahulu dilakukan berbagai persiapan, diantaranya mengecek gyro, speedlog, dan GPS. Kemudian memasuki tahap penembakkan, kru harus memasukan pengecekan FCS (fire control system) dan sistem pendukung pendinginan setelah rudal meluncur. Lalu tahap terakhir, data referensi posisi (lintang dan bujur) dimasukan ke dalam FCS, termasuk data kapal penembak berupa main error of ship position. Dalam uji coba, Yakhont berhasil mennghancurkan target KRI Teluk Bayur dengan jarak 250 Km.

Di udara rudal akan terbang dengan kecepatan 2,5 Mach. Rudal akan kembali turun hingga ketinggian 10-15 meter (sea skimming) di atas permukaan laut. Nah, saat rudal berjarak 50 Km dari sasaran, seeker radar akan bekerja untuk memilih sasaran yang ditentukan. Jika data benar, maka target akan di lock on. Hebatnya untuk mengindari jamming dari musuh, seeker pada kepala rudal tidak menyala terus-menerus, terkadang bisa mematikan diri agar tak terlacak lawan. Pada jarak 10 Km dari sasaran, rudal akan kembali mengambil data secara horizontal dan vertical. Data sasaran secara vertical kembali diambil ketika jarak sasaran tinggal 3 Km. Pada tahap terakhir rudal akan terbang pada ketinggian 5 meter diatas permukaan laut, dan rudal pun akan meluncur menghantam sasaran.

Keterbaatasan Elemen OTHT
Bila TNI AL sudah punya rudal jelajah canggih, sayangnya untuk elemen OTHT (Over The Horizon Target) masih belum memadai. TNI AL sampai saat ini belum mempunyai pesawat atau helikopter berkempuan OTHT. Alhasil untuk misi penembakkan Yakhont, untuk suplai data sasaran dilakukan lewat kapal selam, dalam hal ini KRI Cakra.

Tekait OTHT, beberapa tahun lalu sebenarnya TNI AL sempat berencana membeli helikopter NBO-105CB dengan kemampuan radar OTHT, sayang meski targetnya cuma beli 3 unit, pembelian itupun akhirnya tidak ada kabarnya lagi hingga saat ini. Padahal AL Mexico cukup sukses menggunakan jenis BO-105 OTHT. Sekilas mengenai BO-105 OTHT, bila sedianya jadi dimiliki TNI AL, helikopter ini akan memiliki radar berkekuatan 76 Nm (nautical mile), kemampuan ini semakin mumpuni karena dipasangnya ESM (electronic support measure). Hidungnya ditempeli nose radome yang dimuati radar ocean master buatan Thomson-CSF dari Perancis. Untuk misi intai taktis masih didukung avionik (HF hoaming, VOR, DME, RALT) dan perangkat sistem navigasi (radar pencari, IFF transponder, GPS, AHRS, dan SAS).

BO-105 dengan radar OTHT
BO-105 OTHT milik AL Mexico, selain diliengkapi OTHT juga dipersenjatai kanon Aden 20 mm
Proses peluncuran Yakhont dari KRI Oswald Siahaan
Posisi penutup tabung peluncur Yakhont di frigat Van Speijk TNI AL

Menurut informasi dari situs Kementrian Pertahanan RI, saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont, yaitu enam pada kapal jenis frigat dan 10 di kapal perang Korvet. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya dengan dukungan tim ahli dari Rusia.

Dengan segala kelebihan dan kecanggihannya, Yakhont pastinya akan menjadi daya getar militer Indonesia meningkat. Apalagi disebut-sebut sampai saat ini belum ada satupun senjata anti rudal yang mampu menangkis serangan Yakhont. Rusia sendiri memang merancang rudal ini untuk membungkam sistem AEGIS dari AS. Terlebih sampai saat ini, baru Indonesia dan Vietnam, negara di luar Rusia yang menggunakan Yakhont, jelas menambah angker kekuatan laut kita. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Ciri khas Yakhont dilengkapi air intake mirip pesawat tempur MIG era masa lalu
Ciri khas Yakhont dilengkapi air intake mirip pesawat tempur MIG era masa lalu
Brahmos/Yakhont dalam sebuah parade militer di India
Brahmos/Yakhont dalam sebuah parade militer di India
Model truck pengangkut/pelontar Yakhont
Model truck pengangkut/pelontar Yakhont
Pola Penembakan Yakhont dari kapal perang
Pola Penembakan Yakhont dari kapal perang
Pola penembakan Yakhont dari daratan ke laut
Pola penembakan Yakhont dari daratan ke laut


Spesifikasi Yakhont

Negara Pembuat : Rusia
Pabrikan : Beriev
Jangkauan Tembak : 300 Km pada manuver jelajah tinggi
120 Km pada menuver jelajah rendah
Kecepatan : 2 – 2,5 Mach
Ketinggian Terbang : 5 – 15 meter (fase terakhir sebelum mengenai target)
Berat Bahan Peledak : 200 Kg
Pengarah Navigasi : aktif pasif radar seeker head
Jangkauan Tembak Minimum : 50 Km
Propulsi : solid propellant booster stage dan liquid propellant ramjet sustainre motor
Media Peluncuran : dari bawah air, kapal permukaan dan dari daratan
Berat : Rudal 3,000 Kg
Rudal plus kontainer 3,900 Kg

Rudal Anti Kapal Exocet: Si“Ikan Terbang” Andalan TNI AL

MM 38 Exocet
MM 38 Exocet

Dari beragam rudal (peluru kendali) yang dimiliki TNI-AL, boleh dibilang Exocet adalah jenis yang paling populer, selain tipe rudal Harpoon, Mistral dan C-802. Pasalnya Exocet telah memperkuat TNI-AL cukup lama, yakni sejak awal tahun 80-an Rudal buatan Prancis ini mulai memperkuat jajaran alutsista (alat utama sistem senjata) TNI-AL bersamaan kehadiran frigat-frigat yang  disiapkan guna mengusung Exocet sebagai senjata utama anti kapal permukaan. (more…)

Sidewinder : Si Pemburu Panas Andalan TNI-AU

F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder
F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder (foto : TB Rachman)

Meski secara teknologi TNI AU tak ketinggalan dalam update pengadaan pesawat tempur, lain halnya dengan persenjataan yang melengkapi pesawat tempur. Akibat anggaran pembelian yang serba ngepas, TNI AU hingga kini hanya dibekali rudal udara ke udara secara terbatas.

Rudal andalan TNI AU tak lain adalah sidewinder. Rudal pemburu panas ini mulai hadir sejak awal tahun 80-an. Dari beberapa tipe pesawat tempur yang dimiliki, diketahui hanya tiga jenis pesawat tempur yang mampu menggotong sidewinder, yakni F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200.

AIM-9 P4 Sidewinder
AIM-9 P4 Sidewinder

Ada dua tipe sidewinder milik TNI AU, yakni AIM-9 P2 dan AIM-9 P4 sidewinder. Paket rudal AIM-9 P2 dibeli bersamaan dengan pengadaan 16 pesawat tempur F-5 E/F Tiger yang pertama datang pada 21 April 1980.

Sedangkan tipe AIM-9 P4 dibeli bersamaan dengan pembelian 12 pesawat tempur F-16 A/B Fighting Falcon pada tahun 1989. Rudal sidewinder untuk pertama kal ditembakkan pada tahun 1989 di selatan Samudra Hindia. Rudal diluncurkan dari dua F-5 yang lepas landas dari lanud Ngurah Rai, Bali.

Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder
Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder

Apa perbedaan antara AIM-9 P2 dan AIM 9 P4? Letak perbedaannya cukup mencolok, dengan AIM 9 P2 mengharuskan pilot menempatkan musuh di depannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Sebab rudal ini hanya akan menuju panas yang dikeluarkan dari exhaust.

Sebaliknya rudal AIM 9 P4, meski sama-sama mengarah ke panas tetapi rudal ini akan membidik panas yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu akibat gesekan bodi pesawat dengan udara. Dengan demikian AIM 9 P4 bisa ditembakkan meskipun pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan. Dari perbedaan teknis ini mengubah cara dan konsep pertempuran udara (dog fight).

Formasi Tempur F-5 E
Formasi Tempur F-5 E

Rudal buatan Raytheon Company, AS ini memiliki banya varian, tipe terbarunya adalah AIM 9X yang mulai digunakan militer AS tahun 2003 lalu. Untuk tipe AIM 9 P4 milik TNI AU memiliki kecepatan luncur 2.5 Mach dalam tempo waktu 2,2 detik. Jangkauan rudal efektif adalah 17,7 Km dengan lama misi 60 detik. Bobot sidewinder sendiri sekitar 78 Kg. (Haryo Adjie Nogo Seno)