Bukan Kapal Perang, 6 Robot Layar Inggris Kini Jadi “Jaring” Pemburu Kapal Selam

Inggris tengah menguji konsep baru untuk memburu kapal selam tanpa harus selalu mengerahkan kapal perang berukuran besar. Dalam latihan multinasional REPMUS26 di Portugal, enam kapal permukaan nirawak (USV) C-Star milik perusahaan teknologi maritim Inggris, Oshen, dikerahkan untuk membentuk jaringan sensor akustik di laut.
Sekilas, C-Star bukanlah platform yang terlihat mengintimidasi. Ukurannya bahkan hanya sekitar 1,2 meter dan menggunakan tenaga layar. Namun, masing-masing unit membawa hydrophone, yakni sensor yang berfungsi menangkap suara atau getaran akustik di bawah permukaan laut.
Enam C-Star kemudian ditempatkan secara tersebar untuk membentuk apa yang disebut Oshen sebagai “acoustic picket line”. Konsepnya menyerupai pagar sensor di laut yang terus memantau lingkungan bawah air untuk mencari indikasi keberadaan kapal selam.
1.2m C-Star PC13 intelligence-gathering sail drone built by Oshen in Plymouth has become the first uncrewed sail vessel to cross the Atlantic entirely autonomously with no external inputs.
Over 127 days, it covered 2,926 nautical miles (5,400 km), navigating trade winds and… pic.twitter.com/6xTVqOHVpU
— Navy Lookout (@NavyLookout) September 15, 2026
Pendekatan ini berbeda dari metode tradisional yang menggunakan towed array (susunan sensor sonar yang ditarik di belakang kapal). Sistem tersebut memang mampu memberikan informasi mengenai arah sumber suara, tetapi kapal pembawanya sendiri tetap memiliki jejak akustik dan harus terus bergerak.
Dengan menempatkan banyak sensor kecil secara berjauhan, jaringan C-Star dapat memperoleh data dari berbagai titik sekaligus. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk membantu memperkirakan lokasi sebuah kontak bawah laut.
Oshen deployed 6 hydrophone-equipped C-Star sailboats at REPMUS26 in Portugal to test a distributed acoustic picket line against live targets.
The company plans to bring eight C-Stars to the Maritime Big Play exercise in San Diego next month to test the concept in a U.S. setting. pic.twitter.com/KvAxyzqpJ7— Valhalla (@ELMObrokenWings) September 23, 2026
Konsep ini menarik karena memungkinkan pembentukan jaringan sensor tanpa harus mempertaruhkan kapal perang bernilai tinggi di garis depan. Posisi dan kepadatan C-Star juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi.
Oshen bahkan melihat potensi penerapan konsep tersebut di GIUK Gap (celah strategis antara Greenland, Islandia, dan Inggris), yang selama puluhan tahun menjadi salah satu jalur penting dalam pemantauan aktivitas kapal selam di Atlantik Utara.
Dalam REPMUS26, tantangan berikutnya bukan hanya mendeteksi kontak, tetapi juga bagaimana mengolah dan membagikan data tersebut. Informasi dari C-Star dikirim ke basis data terpusat sebelum diteruskan kepada pasukan peserta latihan.
Oshen juga tengah mengintegrasikan perangkat lunaknya dengan sistem NATO serta berupaya mengurangi jumlah data yang harus dikirim melalui jaringan komunikasi.
Uji coba REPMUS26 menjadi penggunaan pertama C-Star secara bersama-sama dalam konfigurasi acoustic picket line untuk menghadapi target langsung. Setelah Portugal, Oshen berencana membawa delapan C-Star ke latihan Maritime Big Play di San Diego pada bulan berikutnya.
Jika konsep ini berhasil dikembangkan, masa depan peperangan antikapal selam mungkin tidak hanya bergantung pada frigat, pesawat patroli maritim, atau helikopter. Sekumpulan robot kecil yang nyaris tak terlihat di permukaan laut pun bisa menjadi mata dan telinga untuk memburu kapal selam. (Nurhalim)
Korea Selatan Luncurkan Rudal Anti Kapal Supersonik, Desainnya Mirip Yakhont


