Tabrak Standar NATO, Kisah Rahasia Korea Selatan Nyaris Boyong Rudal Hanud S-300 Rusia

Sebuah fakta sejarah dari dinamika geopolitik dan pengadaan alutsista di kawasan Indo-Pasifik kembali menjadi sorotan yang sangat menarik untuk dicermati. Korea Selatan, yang selama ini dikenal luas sebagai sekutu ring satu Amerika Serikat dan benteng utama kekuatan pro Barat di Asia Timur, ternyata memiliki riwayat rahasia di mana mereka nyaris memboyong sistem rudal pertahanan udara (hanud) jarak jauh legendaris buatan Rusia, S-300.
Langkah itu dinilai sangat kontras dan tidak lazim, mengingat doktrin, interoperabilitas, dan seluruh platform persenjataan Angkatan Bersenjata Korea Selatan (ROK Armed Forces) berkiblat penuh pada standar NATO. Manuver berani Seoul pada era 1990-an tersebut sempat memicu kepanikan dan tekanan masif dari Washington, yang tidak ingin teknologi rudal tercanggih Moskow menyusup ke dalam lingkaran sekutu terdekatnya.
Latar belakang ketertarikan Korea Selatan terhadap S-300 bermula dari ambisi Seoul untuk membangun sistem perisai udara mandiri guna menangkal ancaman rudal balistik Korea Utara. Pada saat yang sama, Rusia terjerat utang finansial yang besar kepada Korea Selatan pasca runtuhnya Uni Soviet.
Melalui skema pembayaran kompensasi utang yang dikenal sebagai Proyek Red Bear (Beruang Merah), Moskow menawarkan berbagai alutsista garis depannya, termasuk MBT (Main Battle Tank) T-80U dan ranpur amfibi BMP-3 yang akhirnya benar-benar diadopsi oleh Angkatan Darat Korea Selatan.

Namun, ketika Seoul mulai melirik S-300 untuk memenuhi kebutuhan hanud jarak jauh mereka, Amerika Serikat langsung bereaksi keras dengan melancarkan tekanan diplomatik dan industri yang masif. Washington memaksa Seoul untuk menolak tawaran Rusia dan mengalihkan pilihan pada sistem rudal MIM-104 Patriot buatan AS, demi menjaga dominasi politik militer serta ketergantungan logistik Korea Selatan terhadap Pentagon.
Meskipun pada akhirnya tekanan masif AS berhasil menggagalkan pembelian utuh sistem rudal S-300, Korea Selatan tidak pulang dengan tangan hampa. Alih-alih membeli sistem jadi yang dapat memicu sanksi atau keretakan aliansi dengan AS, Korsel melakukan langkah cerdas dengan menyerap transfer teknologi (ToT) dari Rusia secara terselubung.
Dari Foto Satelit, Sejumlah Sistem Rudal Hanud S-400 Rusia Diduga ‘Terjebak’ di Lanal Tartus
Melalui kerja sama erat dengan biro desain Almaz-Antey (pabrikan S-300 dan S-400), Korea Selatan berhasil mengembangkan sistem rudal hanud jarak menengah mandiri mereka yang diberi nama KM-SAM atau Cheongung I dan II. Pengaruh genetik S-300 sangat terlihat jelas pada KM-SAM, mulai dari adopsi teknologi radar multi-function canggih hingga sistem peluncuran vertikal dingin (cold launch).
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa di balik loyalitasnya pada standar NATO, Korea Selatan mampu memanfaatkan celah geopolitik untuk mencuri ilmu dari Rusia demi membangun kemandirian industri pertahanan dalam negeri mereka. (Gilang Perdana)
Nebo-SVU: Radar Intai Rusia dengan Teknologi AESA, Mampu Deteksi Penempur Stealth AS


