Dampak Domino Embargo NSM: Bagaimana Peluang Indonesia? Perancis Siap Panen Berkah Lewat Exocet

Kebijakan sepihak Pemerintah Norwegia yang membatalkan kontrak pengadaan Naval Strike Missile (NSM) dengan Malaysia berbuntut panjang dan memicu efek domino yang signifikan di kawasan Asia Tenggara. Langkah dramatis ini menegaskan status baru rudal anti kapal buatan Kongsberg Defense and Aerospace tersebut, yang kini secara resmi telah bergeser menjadi senjata eksklusif yang hanya boleh diadopsi oleh Amerika Serikat, Australia dan negara-negara anggota aliansi NATO.
Dengan diterapkannya pembatasan ekspor yang sangat ketat ini, peluang pemasaran NSM ke negara-negara non-NATO kini dipastikan telah tertutup rapat. Implikasinya tidak hanya memukul Kuala Lumpur, tetapi juga berdampak langsung pada peta kekuatan armada laut regional, termasuk Indonesia yang harus mengubur ambisi untuk bisa mengadopsi rudal siluman generasi kelima ini.
Tertutupnya akses ini otomatis menutup peluang integrasi rudal NSM pada generasi Kapal Cepat Rudal (KCR) maupun kapal perang masa depan milik TNI AL Padahal, embargo mendadak ini dinilai sangat memukul kinerja pemasaran (marketing) Kongsberg sendiri, mengingat manufaktur asal Norwegia tersebut sebelumnya tergolong sangat gencar mempromosikan dan menawarkan NSM ke pasar global.
Promosi NSM dilakukan secara masif baik melalui ajang pameran pertahanan internasional maupun lewat skema pendekatan langsung antar-pemerintah (G-to-G). Jika menengok ke belakang, Kongsberg bahkan pernah melakukan pendekatan intensif kepada jajaran pimpinan TNI AL, disertai rencana ambisius untuk melakukan uji coba penembakan rudal NSM menggunakan platform KCR Klewang class. Namun dengan peta politik global saat ini, rencana tinggal rencana, dan NSM kini menjadi barang terlarang bagi negara non NATO.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan penjualan NSM yang diskriminatif ini justru membuka peluang emas baru bagi manufaktur rudal anti kapal global lainnya untuk merebut pangsa pasar yang ditinggalkan Kongsberg. Pihak yang paling dekat dan berpotensi mendapat “rezeki nomplok” dari situasi ini adalah MBDA Missile Systems asal Perancis, produsen keluarga rudal legendaris Exocet MM40 Series.
Bagi negara-negara non-NATO yang kadung merancang kapal perang mereka dengan standar arsitektur dan sistem manajemen tempur (CMS) barat—seperti yang terjadi pada proyek kapal perang Malaysia maupun Indonesia—berpaling ke Exocet adalah pilihan yang paling logis dan realistis secara teknis.
TNI AL Setujui Factory Acceptance Tests untuk CMS Terma di KCR-60M
Pilihan untuk berpaling ke Prrancis menjadi mutlak karena tidak mudah bagi sebuah negara untuk serta-merta mengganti rancangan sistem senjata kapal perang standar barat ke platform rudal anti kapal buatan Cina atau Rusia tanpa melakukan perombakan total yang memakan biaya selangit.
Alhasil, dinamika embargo NSM ini diprediksi akan semakin memperkokoh dominasi Prancis lewat taji Exocet MM40 Block 3 atau Block 3c di perairan Asia Tenggara. Sembari memetik pelajaran berharga dari nasib apes Malaysia, negara-negara di kawasan kini harus lebih jeli dalam memilih mitra strategis yang bebas dari bayang-bayang embargo politik sepihak di masa depan. (Gilang Perdana)
KD Lekiu 30: Flagship Kapal Perang Malaysia dalam Misi Evakuasi Air Asia QZ8501



Pilih Exocet aja harusnya kalo bisa produksi lokal biar dimasa depan bisa dapet rudal anti kapal masa depan prancis dari proyek yg sedang Dikembangkan sekarang proyek stratoo yang akan melompati teknologi rudal nsm
Daripada coba coba rudal turki
Secara track record ada beberapa KRI kita di instal rudal Exocet dari Prancis.
Selain itu pada kenyataannya ada juga beberapa KRI kita di instal made in China, bahkan untuk KRI MP di instal rudal dari Turki.
Secara teori rudal Exocet sudah botol pulpen, sedangkan untuk made in China dan Turki belum botol pulpen, akan tetapi terlepas mana yang akan di pilih oleh Kementrian Pertahanan, kemungkinan besar lebih berdasarkan blue print penawaran ToT dari kedua belah pihak.
Ada beberapa faktor prndukung untuk pemilihan rudal yang akan di instal di KRI AL, diantaranya adalah data link dan sistem managementnya.
Prancis dan Turki kemungkinan akan menjadi kandidatnya, hal tersebut lebih dikarenakan kedua negara tersebut berasal dari Eropa dan termasuk dalam keangotaan Nato, yang hampir secara keseluruhan dari softwherenya dapat terintregasi
Sebagai alternatif, ada juga RBS-15 MK4 buatan skandinavia lain yaitu swedia min, yang juga bisa untuk rudal serang ke darat, dengan jangkauan lebih dari 300km.
Sepertinya Indonesia akan lebih memilih rudal buatan Turki Atmaca apalagi rudal tersebut sekarang sedang dibangun pabriknya kerjasama antara Indonesia dengan Turki. Jika rudal atmaca Made in Indonesia sudah tersedia pasti seluruh kapal perang termasuk KRI Balaputradewa/Fregat Merah Putih Class bakalan dipersenjatai Atmaca.