Televisi Nasional Cina Rilis Animasi Operasional UCAV Stealth GJ-21 di Atas LHD Type 076

Stasiun televisi nasional Cina, CCTV, baru-baru ini merilis tayangan animasi komputer (CGI/simulasi) yang memperlihatkan visualisasi operasional Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) stealth GJ-21 di atas kapal induk helikopter serbu (Landing Helicopter Dock / LHD) Type 076 Sichuan.
Baca juga: Luncurkan Rudal BVR PL-15E, UCAV Stealth GJ-11 Cina Resmi Jalani Misi Tempur Udara
Meskipun belum memuat rekaman penerbangan nyata (real flight footage) di lapangan, kombinasi tayangan animasi dengan rekaman arsip fisik kapal perang tersebut menjadi sinyal kuat mengenai konsep strategi penerbangan kapal induk nirawak yang tengah dimatangkan oleh Beijing.
Visualisasi animasi tersebut mengonfirmasi arah pengembangan teknologi militer Cina yang mengintegrasikan pesawat nirawak tempur berteknologi siluman dengan sistem ketapel elektromagnetik (Electromagnetic Aircraft Launch System / EMALS) di atas geladak LHD Type 076.
Kehadiran rancangan GJ-21 merepresentasikan keunggulan taktis dan rekayasa tingkat tinggi melalui sejumlah karakteristik fundamentalnya. Desain tailless flying-wing tanpa ekor memberikan kemampuan stealth (siluman) yang optimal untuk meminimalisasi radar cross-section secara drastis. Tanpa adanya kokpit dan sistem pendukung kehidupan bagi awak manusia, seluruh ruang interior murni didedikasikan untuk kapasitas bahan bakar, sensor canggih, serta muatan persenjataan berat berdaya rusak tinggi.
A historic shift in the balance of naval and air power!
China’s announcement of the successful takeoff and landing of the GJ-21 (攻击-21) stealth UCAV on the Sichuan proves Beijing has officially leaped a full generation ahead of Washington in modern naval warfare.
The GJ-21 represents absolute engineering and tactical superiority:
▪️ Unmatched Stealth: Tailless flying-wing design minimizes radar cross-section to maximum effect.
▪️ Superior Range & Payload: No cockpit or life-support means pure capacity for fuel, sensors, and heavy weaponry.
▪️ Extreme Maneuverability (20G+): Crushes manned aircraft, which are strictly limited by human tolerance (~9G).
▪️ Relentless Operations: Zero pilot fatigue, zero risk to human life, and replaceable at pure factory production rates.In any high-intensity conflict, U.S. F-35s would face an invisible predator—picked off one by one before they even register an incoming threat.
While China pioneers the future of unmanned carrier aviation and sensor dominance, America has missed its window. https://t.co/GrNkkzC5N2
— China pulse 🇨🇳 (@Eng_china5) November 4, 2026
Dari aspek spesifikasi teknis, UCAV GJ-21 dirancang khusus sebagai platform pemukul udara jarak jauh dengan daya jelajah mandiri diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 kilometer. Pesawat nirawak ini dibekali internal weapon bay (ruang senjata internal) yang cukup lapang di dalam badan pesawat guna menjaga profil penampang radar tetap minimal.
Di dalamnya, GJ-21 diproyeksikan mampu mengusung jajaran amunisi presisi modern, mulai dari bom berpenuntun satelit/laser hingga rudal jelajah stand-off dan rudal udara-ke-udara jarak menengah. Dapur pacunya disokong oleh mesin turbofan high-bypass yang salurannya dilengkapi dengan serrated nozzle serta pelapis pendorong khusus untuk menyamarkan jejak emisi termal (infrared signature) dari pindaian pencari panas lawan.
Selain itu, keunggulan avionik GJ-21 bertumpu pada integrasi sistem sensor canggih berbasis Active Electronically Scanned Array (AESA) radar bernisbah tinggi dan perangkat Electro-Optical/Infrared (EO/IR) yang terhubung langsung dengan jaringan komunikasi taktis data-link.
Rancang bangun ini memungkinkan GJ-21 tidak hanya bertindak sebagai eksekutor serangan udara, melainkan juga sebagai platform pengintai otonom (ISR) serta picket node terdepan yang mampu membagikan data target secara real-time kepada kelompok tempur kapal induk maupun pesawat tempur berawak kawan (Manned-Unmanned Teaming / MUM-T).
Konsep UCAV nirawak ini juga menjanjikan kapabilitas manuver ekstrem yang melampaui batas fisik manusia—mampu menahan beban gravitasi hingga lebih dari 20G, jauh di atas batas toleransi pilot manusia konvensional yang umumnya berada di kisaran 9G.
Operasi penerbangan nirawak memangkas faktor kelelahan kru dan risiko korban jiwa, serta menawarkan keunggulan strategis berupa tingkat penggantian unit yang linier dengan kapasitas produksi pabrik. Dalam skenario konflik intensitas tinggi, kehadiran predator nirawak yang hampir tak terlihat ini diyakini mampu mengubah dominasi udara secara radikal di teater maritim modern.
Meskipun publik masih menantikan bukti dokumentasi penerbangan fisik perdananya, publikasi animasi resmi oleh CCTV ini mempertegas keseriusan Cina dalam merancang masa depan penerbangan kapal induk nirawak dan dominasi sensor global di kawasan Pasifik. (Gilang Perdana)
Damen Rancang dan Bangun Kapal Induk Drone ‘Serbaguna’ Pesanan Angkatan Laut Portugal


