Drone Tempur Bayraktar TB2 Turki Kini Bertindak Sebagai Kapal Induk Peluncur FPV Kamikaze

Baykar Makina, kembali membuat gebrakan dalam peta teknologi penerbangan nirawak global melalui pengujian taktis di Keşan Flight Training Center, Turki. Bekerja sama dengan produsen drone Skydagger Drones, Baykar sukses menguji coba drone Medium-Altitude Long-Endurance (MALE) legendarisnya, Bayraktar TB2, dalam peran baru yang radikal sebagai kapal induk udara (airborne carrier/mothership).

Baca juga: Gebrakan Baru Pakistan: Drone Bayraktar TB2 Turki Dikawinkan dengan Rudal Presisi Burq Produksi Dalam Negeri

Dalam pengujian tersebut, Bayraktar TB2 dilengkapi gantungan khusus di bawah sayapnya yang mampu mengusung hingga 16 unit drone FPV (First-Person View) kamikaze. Hasil uji coba memperlihatkan dua unit drone FPV berhasil dilepaskan di udara saat penerbangan dan sukses menghantam target secara presisi, sementara TB2 berfungsi sebagai stasiun pengulang komunikasi (relay station) untuk memperluas jangkauan kendali FPV melampaui garis pandang (beyond line-of-sight).

Pengembangan ini menjadi langkah evolusi yang sangat strategis bagi armada Bayraktar TB2, yang selama ini dikenal dunia lewat reputasi pertempurannya (battle-proven) di berbagai konflik global seperti Nagorno-Karabakh, Libya, hingga Ukraina.

Dari segi spesifikasi teknis, Bayraktar TB2 memiliki kapasitas muatan berguna (payload capacity) maksimum sebesar 150 kilogram yang tersebar pada empat titik gantungan (hardpoints) di bawah sayap. Dalam modulasi baru ini, Baykar mengintegrasikan rak peluncur modular ringan dari Skydagger Drones yang dirancang khusus menggendong drone FPV kamikaze berukuran kompak.

Drone FPV mikro yang dibawa merupakan varian amunisi presisi berkemampuan manuver tinggi yang dibekali hulu ledak tajam untuk menghantam target bernilai tinggi seperti kendaraan lapis baja, posisi artileri, maupun personel lawan.

Penggunaan Bayraktar TB2 sebagai induk peluncur drone FPV memecahkan dua keterbatasan utama yang selama ini membayangi operasional drone kamikaze mikro dari darat. Pertama adalah masalah jarak tempuh dan daya tahan baterai drone FPV yang sangat terbatas; dengan diluncurkan dari ketinggian jelajah TB2, drone FPV tidak perlu menghabiskan energi untuk lepas landas dan memanjat ketinggian. Kedua adalah kendali sinyal radio yang rentan terhalang kontur bumi (line-of-sight barrier).

Dalam skenario ini, TB2 bertindak sebagai pemancar ulang sinyal (airborne data relay node), memungkinkan operator di darat untuk mengendalikan drone FPV mengesekusi target di balik perbukitan atau struktur perkotaan dari jarak puluhan kilometer yang sebelumnya tak terjangkau.

Direktur Teknologi Baykar, Selçuk Bayraktar, merilis rekaman video uji coba ini seraya menegaskan bahwa kemampuan baru ini meningkatkan fleksibilitas operasional TB2 dalam misi pengintaian dan serangan presisi berbiaya murah. Para pengamat militer internasional menilai langkah Baykar sebagai bentuk adaptasi jenial terhadap dinamika perang modern yang makin didominasi oleh pertempuran kawanan drone (drone swarm warfare).

Dengan menyulap platform yang sudah diekspor ke puluhan negara ini menjadi wahana peluncur drone FPV, Baykar tidak hanya memperpanjang masa pakai relevansi taktis Bayraktar TB2 di medan perang intensitas tinggi, tetapi juga menawarkan doktrin serangan udara berkonsep low-cost high-impact bagi para penggunanya.(Gilang Perdana)

Jiu Tan Sukses Terbang Perdana: ‘Drone Mothership’ yang Mampu Luncurkan 100 Drone Kamikaze

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *