Tragedi di Seruyan: Helikopter Puspenerbad Mi-17V5 HA-5235 Alami Kecelakaan saat Misi Water Bombing

Duka mendalam kembali menyelimuti dunia penerbangan militer Indonesia menyusul insiden kecelakaan fatal yang menimpa alutsista helikopter angkut milik Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad). Helikopter Mil Mi-17V5 dengan nomor registrasi HA-5235 dilaporkan mengalami musibah di perairan pesisir laut Desa Pematang Limau, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
Baca juga: Bukan Mi-17B5, yang Akan Dibeli Indonesia Adalah Helikopter Mi-17V5
Burung besi buatan Rusia tersebut, yang dioperasikan di bawah kendali operasi (BKO) penanggulangan bencana, mengalami nasib tragis ketika tengah mengemban misi kemanusiaan krusial pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, helikopter yang ber-homebase sementara di Bandara Kuala Pembuang ini diawaki oleh delapan personel onboard dengan posisi Pilot in Command (PIC) dipimpin oleh Mayor Cpn Dudi serta Co-Pilot Kapten Cpn Hafiz. Insiden nahas tersebut terjadi ketika helikopter tengah beroperasi di sekitar kawasan perairan, berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.
Diduga, burung besi andalan Skadron-31/Amur Yudha Cakti ini mengalami kendala teknis mendadak saat bermanuver di area pengambilan air untuk keperluan water bombing. Tim SAR gabungan bersama aparat setempat bergerak cepat melakukan operasi pencarian dan pertolongan di tengah tantangan medan perairan serta minimnya infrastruktur jaringan komunikasi di sekitar lokasi kejadian.
An Indonesian Army Mi-17V5 helicopter (HA-5235) crashed during a water-bombing operation to combat escalating land and forest fires (karhutla) in Central Kalimantan.
Preliminary findings suggest that snagged power lines in heavy smoke caused it to plunge into the water off Seruyan.
Out of 8 crew members, 1 is dead, 5 have been rescued, and 2 remain missing as search divers deploy.
Helicopter Crash – Indonesia
— GeoTechWar (@geotechwar) November 4, 2026
Sejumlah kru dilaporkan berhasil dievakuasi menuju RSUD Kuala Pembuang untuk mendapatkan penanganan medis intensif, sementara proses pencarian dan investigasi lanjutan terus dikebut oleh pihak Markas Besar TNI bersama Puspenerbad guna menguak secara tuntas akar permasalahan di balik insiden ini.
Helikopter Mi-17V5 dengan registrasi HA-5235 ini tercatat sebagai salah satu alutsista hasil pengadaan baru yang belum lama ini memperkuat jajaran Puspenerbad. Berdasarkan catatan resmi dokumentasi penerbangan darat, unit HA-5234 dan HA-5235 baru saja sukses merampungkan tahapan krusial berupa proof flight pada pertengahan Juli 2026 lalu.
View this post on Instagram
Pengujian kelaikan terbang tersebut dilaksanakan secara seksama untuk memastikan kesiapan penuh operasional satuan dalam mengemban berbagai misi strategis, baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kehadiran kedua helikopter tersebut sejatinya diproyeksikan sebagai tulang punggung mobilitas udara Skadron-31/Amur Yudha Cakti yang berkedudukan di Semarang, menegaskan komitmen tinggi TNI AD terhadap profesionalisme dan kesiapan kesatria penjaga kedaulatan NKRI.
Dalam menjalankan misi penanggulangan karhutla seperti di Seruyan, kapabilitas Mi-17V5 sangat diandalkan berkat kemampuannya membawa perlengkapan khusus water bombing. Helikopter ini biasanya mengoperasikan bamboo bucket (ember lipat khusus pemadam kebakaran udara) yang digantungkan pada kargo eksternal di bawah perut helikopter menggunakan cargo hook berkekuatan tinggi.
Kapasitas bucket yang digotong oleh helikopter kelas angkut sedang ini umumnya bervariasi antara 2.500 hingga 3.000 liter air per dump, disesuaikan dengan kalkulasi batas berat muatan (payload) serta kondisi atmosfer setempat agar performa mesin tetap aman.
Awak kokpit harus bekerja dengan presisi tinggi—melakukan hovering di atas sumber air (sungai atau teluk), merendam bucket hingga terisi penuh secara otomatis, lalu membawanya terbang rendah menembus asap tebal sebelum melepaskan curahan air secara terarah tepat di titik api (hotspot). Manuver berulang ini menuntut konsentrasi tingkat tinggi serta ketahanan fisik kru, mengingat beban dinamis dari air yang berayun di bawah helikopter sangat memengaruhi stabilitas aerodinamika penerbangan.
Jika ditarik lebih luas ke belakang, keluarga helikopter Mil Mi-17 dan varian lanjutannya Mi-17V5 telah lama menjadi andalan vital Puspenerbad dalam memikul beban tugas berat di berbagai medan ekstrem Nusantara. Sejak pertama kali masuk dalam arsenal TNI AD, helikopter angkut buatan Kazan Helicopters ini dikenal memiliki keandalan tinggi di medan tropis, kapasitas angkut personel yang masif (hingga 36 pasukan bersenjata atau muatan kargo seberat 4.000 kg), serta fleksibilitas kabin yang luas.
Secara spesifik, varian Mi-17V5 ditenagai oleh sepasang mesin turboshaft Klimov TV3-117VM (atau VK-2500 pada beberapa sub-varian modern) yang dilengkapi dengan sistem pengendali mesin elektronik serta APU (Auxiliary Power Unit) Safir 5K untuk menjamin keandalan start-up di dataran tinggi maupun wilayah terpencil tanpa fasilitas pendukung darat yang memadai. Helikopter ini juga dibekali rotor utama lima bilah, rotor ekor, serta sistem avionik kokpit yang dirancang ergonomis untuk operasi segala cuaca.
Lebih jauh lagi, rekam jejak pengabdian helikopter Mi-17 di bawah bendera Puspenerbad tidak hanya terbatas di dalam negeri saja, melainkan telah teruji di kancah internasional. Helikopter angkut multiguna ini pernah ditugaskan secara gemilang dalam misi perdamaian dunia di bawah panji Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui Kontingen Garuda (Konga) di misi penjaga perdamaian seperti di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO), helikopter Mi-17 TNI AD diandalkan untuk menembus rute logistik udara yang berbahaya, melintasi pegunungan terjal dan hutan lebat Afrika yang minim infrastruktur darat. Kehadiran helikopter ini kerap menjadi penentu keberhasilan misi kemanusiaan dan mobilitas pasukan penjaga perdamaian internasional, membuktikan bahwa kapabilitas Penerbad diakui secara global.
Tragedi yang menimpa HA-5235 tentu menjadi evaluasi mendalam sekaligus duka nasional bagi seluruh keluarga besar TNI AD dan insan penerbangan Indonesia. Di balik setiap misi pengabdian tanpa batas—mulai dari menjaga kedaulatan batas negara, menanggulangi bencana karhutla, hingga mengibarkan panji Merah Putih di kancah internasional—ada risiko besar yang senantiasa dipertaruhkan oleh para prajurit di kokpit.
Semoga seluruh proses investigasi dapat segera memberikan titik terang, para korban yang selamat lekas diberikan pemulihan, dan dedikasi pengabdian para awak helikopter Puspenerbad senantiasa dikenang sebagai bentuk bakti nyata bagi Ibu Pertiwi. (Gilang Perdana)
Rahasia di Langit Arizona: Militer AS Ternyata Andalkan Mi-171E Rusia untuk Operasi Khusus


