Dipandu Radar Sistem Hanud NASAMS, AH-64E Apache Sukses Jadi Pemburu Drone

Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) sukses mendemonstrasikan doktrin pertempuran baru yang mengubah helikopter serang AH-64E Apache Guardian menjadi ‘pemburu drone’ di udara yang dipandu langsung oleh jaringan radar pertahanan udara berbasis darat.

Baca juga: Bakal Tanggalkan Radar Longbow, Boeing Jajaki Pemasangan Radar AESA pada Helikopter Serang Apache

Dalam latihan bertajuk Operation Skyfall II yang berlangsung pada 6 Oktober 2026 di Area Latihan Grafenwoehr, Jerman, dua awak Apache berhasil menghancurkan tiga drone sasaran MQM-170 Outlaw setelah menerima data pelacakan terintegrasi dari radar pertahanan udara AN/MPQ-64 Sentinel.

Eksperimen ini menandai lompatan penting dalam konsep penanggulangan sistem nirawak (Counter-Unmanned Aerial Systems/C-UAS). Alih-alih mengharuskan awak helikopter melakukan pencarian target udara secara mandiri menggunakan sensor organik pesawat yang terbatas, radar darat AN/MPQ-64 Sentinel bertindak sebagai pencari awal yang memindai ancaman dari jarak jauh dan secara kontinyu memberikan data pelacakan elevasi rendah.

Secara teknis, radar AN/MPQ-64A3 Sentinel merupakan sistem radar phased-array X-band tiga dimensi (3D) dengan cakupan pemindaian 360 derajat yang dirancang khusus untuk mendeteksi target berukuran kecil pada ketinggian rendah. Radar ini memiliki jangkauan instrumen hingga 75 kilometer dan sanggup melacak berbagai ancaman udara secara simultan—mulai dari pesawat terbang, helikopter, hingga drone mikro.

Pusat Operasi Taktis (Tactical Operations Center) kemudian memancarkan koordinat posisi target secara real-time ke kokpit Apache, memungkinkan helikopter terbang bermanuver langsung menuju posisi intersepsi optimal dan mengeksekusi target menggunakan kanon otomatis 30 mm M230 maupun amunisi presisi lainnya.

Langkah pengintegrasian ini memberikan daya jangkau deteksi yang jauh lebih luas serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survivability) helikopter di medan perang. Pengujian ini membuktikan bahwa helikopter serang canggih seperti AH-64E V6—yang telah dilengkapi arsitektur komunikasi digital Link 16—dapat difungsikan sebagai airborne shooter dalam skema pertahanan udara berlapis tanpa harus mengubah fungsi hakikinya sebagai helikopter tempur darat.

Uji coba ini terinspirasi dari pelajaran berharga Perang Rusia-Ukraina, di mana ancaman drone loitering munition dan FPV bergerak sangat cepat sehingga membutuhkan pemangkasan waktu dari rantai sensor-ke-penembak (sensor-to-shooter kill chain).

Pengujian ini terasa sangat menarik dan relevan jika ditarik ke dalam konteks penguatan doktrin pertahanan udara Indonesia. Radar AN/MPQ-64 Sentinel yang digunakan dalam latihan di Jerman merupakan komponen radar utama pencari sasaran (surveillance radar) yang diintegrasikan dalam sistem pertahanan udara titik NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System)—sistem pertahanan udara bergerak yang saat ini telah dioperasikan oleh TNI AU untuk mengawal ruang udara Ibu Kota.

Raytheon AN/MPQ-64 F1 Sentinel, Radar Intai Pada Sistem Hanud NASAMS

Di sisi lain, Indonesia melalui Puspenerbad TNI AD juga telah mengoperasikan armada helikopter serang berat AH-64E Apache Guardian yang memiliki arsitektur data-link modern. Kehadiran teknologi integrasi antara radar Sentinel dan Apache ini membuka peluang emas bagi TNI untuk membangun interoperabilitas lintas matra (joint-domain integration) antara TNI AU dan TNI AD.

Dengan menghubungkan jaringan data radar Sentinel milik jaringan NASAMS TNI AU ke kokpit AH-64E Apache TNI AD, Indonesia secara teoritis dapat menciptakan jaring penangkis drone (C-UAS network) yang sangat fleksibel dan bermobilitas tinggi di titik-titik vital nasional tanpa perlu menambah investasi alutsista baru yang mahal. (Gilang Perdana)

Belajar dari Film ‘Angel Has Fallen’, Trump Main Golf Dikawal Sistem Hanud Avenger dan Radar Sentinel

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *