Komputer Senjata F/A-18 Super Hornet Uzur dan Langka, Angkatan Laut AS Gandeng Boeing untuk Desain Ulang

Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) terpaksa mengambil langkah darurat dengan menunjuk Boeing untuk mendesain ulang serta menguji kualifikasi komponen pengganti pada komputer pengelola senjata (stores management processor) armada F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18G Growler.

Baca juga: Tak Butuh Waktu Lama, Super Hornet Australia Terekam Usung Rudal Udara Rahasia AIM-260 JATM di AS

Keputusan ini diambil setelah pihak militer menyimpulkan bahwa unit komputer yang selama ini diandalkan, yaitu AN/AYK-22, tidak lagi dapat didukung operasionalnya akibat komponen kuncinya sudah berhenti diproduksi di pasaran.

Melalui Naval Air Systems Command (NAVAIR) PMA-265, pemerintah AS berencana memberikan kontrak langsung kepada Boeing, meski pembukaan dokumen pengumuman ini tetap membuka peluang bagi industri lain hingga 28 Oktober untuk membuktikan kapabilitas teknis serupa.

Komputer AN/AYK-22 sendiri memegang peran vital sebagai jembatan komunikasi antara komputer misi pesawat dengan seluruh pylon eksternal—mulai dari mendeteksi amunisi yang terpasang hingga mengirimkan sinyal pelepasan bom dan rudal.

Krisis akibat fenomena kelangkaan komponen elektronik lama (Diminishing Manufacturing Sources and Material shortages/DMSMS) ini menjadi tantangan berat bagi kelangsungan operasional pesawat, di tengah upaya Angkatan Laut AS memperpanjang usia pakai airframe hingga 10.000 jam terbang melalui program Service Life Modification (SLM) hingga pertengahan dekade 2030-an, menjelang ditutupnya lini produksi baru Boeing di St. Louis pada tahun 2027.

Dampak dari krisis perangkat keras lawas ini tidak hanya menghantam lini pertahanan domestik Amerika Serikat, tetapi juga memicu efek domino bagi negara-negara mitra asing yang mengoperasikan armada Super Hornet, terutama Australia (RAAF) dan Kuwait. Sebagai operator utama Super Hornet di luar AS, Angkatan Udara Australia (RAAF) yang mengandalkan 24 unit F/A-18F dan 12 unit EA-18G dipastikan akan ikut serta melalui skema Foreign Military Sales (FMS) untuk mengadopsi hasil desain ulang komputer senjata garapan Boeing tersebut.

Hari Ini 30 Tahun Lalu, Jet Tempur F/A-18 Super Hornet Terbang Perdana, “Pengganti F-14 Tomcat”

Demikian pula dengan Kuwait yang mengoperasikan armada Super Hornet Block III teranyar; mereka harus bergantung pada jalur pemeliharaan dan pasokan logistik jangka panjang dari Boeing untuk mengatasi masalah keusangan komponen ini.

Ketergantungan mutlak pada Boeing dan US Navy ini membawa konsekuensi finansial tersendiri bagi operator luar negeri, di mana biaya pemeliharaan dan pengadaan suku cadang pengganti khusus berpotensi membengkak drastis akibat minimnya volume produksi alternatif di luar rantai pasok militer resmi Amerika Serikat. (Gilang Perdana)

Bikin Geger! Jet Tempur F/A-18F Super Hornet US Navy Pasang ‘Kill Marks’ Kapal Selam Iran

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *