Selain Indonesia, Negara-Negara Ini Juga Borong Ranpur Amfibi AAV-7A1 Eks USMC

Kedatangan gelombang pertama berupa 12 unit kendaraan tempur amfibi AAV-7A1 (LVTP-7) eks Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) ke Tanah Air menjadi penanda dimulainya penguatan armada pendarat Korps Marinir TNI AL yang menargetkan total 35 unit. Namun, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang memanfaatkan momentum peremajaan alutsista dari Washington ini.
Sejak USMC memutuskan untuk memensiunkan armada AAV-7A1 secara bertahap pasca-insiden tragis tahun 2020 dan menggantikannya dengan Amphibious Combat Vehicle (ACV) 8×8 yang lebih modern, AS mulai mendistribusikan ratusan unit ranpur veteran yang diperkirakan berjumlah 800 hingga 1.000 unit tersebut kepada berbagai negara mitra strategis AS di seluruh dunia.
Di kawasan Eropa, Yunani tampil sebagai salah satu pemborong terbesar dari armada surplus USMC tersebut. Pemerintah AS telah menyetujui paket penjualan senilai US$268 juta yang mencakup 76 unit AAV-7A1 untuk memperkuat Brigade Marinir ke-32 Yunani. Paket ini terdiri dari 63 unit varian angkut personel (AAVP-7A1), 9 unit varian komando (AAVC-7A1), dan 4 unit varian pemulihan (recovery AAVR-7A1).
Masih di benua yang sama, Rumania juga tidak ketinggalan memanfaatkan skema ini dengan mengamankan persetujuan pengadaan 21 unit AAV-7A1 lengkap dengan paket perbaikan teknis guna mempertebal pertahanan pantai dan kesiapsiagaan NATO di wilayah strategis Laut Hitam.
Perkuat Operasi Amfibi, 12 Unit Ranpur AAV Gelombang Pertama Eks USMC Resmi Tiba di Tanah Air
Tak hanya negara di Eropa Timur, anggota NATO lainnya yaitu Italia juga ikut memborong armada AAV-7A1 eks USMC senilai US$30,6 juta. Uniknya, akuisisi Italia fokus pada penguatan varian pendukung untuk Marina San Marco (Marinir Italia). Roma membeli 7 unit AAV spesialis, yang terdiri dari 3 unit varian pos komando bergerak (AAVC-7A1) dan 4 unit varian evakuasi/pemulihan (AAVR-7A1).
Langkah ini diambil Italia untuk menggandakan kapasitas komando dan melipatgandakan kemampuan perbaikan lapangan (recovery) bagi armada AAV-7 yang sudah mereka operasikan sebelumnya.
Yunani Borong Ranpur Amfibi AAV (LVTP-7) Bekas USMC Senilai US$268 Juta
Sementara itu di Asia-Pasifik, Taiwan menjadi mitra utama yang terus menerima pasokan AAV-7A1 eks USMC beserta komponen suku cadangnya. Mengingat tingginya potensi konflik di Selat Taiwan, penambahan unit surplus ini sangat krusial bagi militer Taiwan untuk menjaga tingkat kesiapan tempur dan ketersediaan armada amfibi mereka tanpa harus menunggu proses manufaktur unit baru yang memakan waktu lama.
Melalui skema Excess Defense Articles (EDA) dan Foreign Military Sales (FMS), unit-unit AAV yang telah diperbaiki ulang (refurbished) ini menjadi solusi cepat dan ekonomis bagi negara-negara mitra AS, termasuk Indonesia yang kini siap mengoperasikan ranpur berproteksi Enhanced Applique Armor Kit (EAAK).
Borong Ranpur Amfibi AAV (LVTP-7) Eks USMC, Italia Amankan Paket FMS Senilai 30 Juta Dolar
Fenomena maraknya perburuan AAV-7A1 eks USMC membuktikan bahwa meskipun platform tersebut telah dipensiunkan oleh militer Amerika Serikat, nilai guna dan kapabilitas taktisnya masih sangat relevan bagi banyak negara. Dibandingkan dengan pengembangan atau pembelian ranpur amfibi baru yang membutuhkan biaya fantastis dan rentang waktu produksi yang panjang, opsi akuisisi alutsista surplus yang sudah teruji (combat-proven) menawarkan efisiensi anggaran yang sangat tinggi tanpa mengorbankan daya gempur maupun kapasitas angkut pasukan.
Bagi Korps Marinir TNI AL sendiri, integrasi 35 unit AAV-7A1 ini akan secara langsung melipatgandakan proyeksi kekuatan pendaratan amfibi dari kapal ke pantai (ship-to-shore) bagi Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Marinir (Yonranratfib Mar). (Gilang Perdana)


