Tembus Hambatan Sinyal: Solusi Tethered Drone untuk Infanteri Angkatan Darat AS

Dalam pertempuran darat modern, unit infanteri kecil sering kali menghadap kendala teknis akibat kontur medan yang berat maupun potensi pengacakan sinyal (jamming) oleh musuh. Untuk mengatasi hambatan tersebut, Angkatan Darat Amerika Serikat melangsungkan pengujian lapangan selama dua minggu di Fort Benning, Georgia, guna mengevaluasi efektivitas teknologi tethered drone (dron bertali).
Baca Juga: Angkatan Darat AS Uji Drone Tertambat (Tethered Drone) dengan Pod Perang Elektronik
Berbeda dengan sistem penerbangan bebas konvensional yang mengandalkan baterai internal berdurasi terbatas, tethered drone terhubung langsung ke stasiun darat melalui kabel mikro serat optik. Kabel ini menyalurkan pasokan daya secara kontinu sekaligus menjadi jalur transmisi data fisik. Pendekatan tersebut memungkinkan wahana melayang di udara hingga berhari-hari tanpa risiko terputusnya komunikasi akibat gangguan perang elektronik.
Selama uji coba di Maneuver Battle Lab, para prajurit memanfaatkannya sebagai menara pengawas melayang (floating watchtower) dan penambat relai radio taktis. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada jarak jangkauan komunikasi antar unit di area terhalang bukit atau bangunan. Selain itu, kamera elektro-optik dan inframerah yang diusung memberikan kesadaran situasi (situational awareness) secara komprehensif bagi komandan di lapangan.
Field testing of tethered UAVs integrated with the M1301 Infantry Squad Vehicle (ISV-U) has reportedly been completed as part of the U.S. Army’s Maneuver Battle Lab (MBL) project.
During the trials, two types of commercially available drones were operated by the vehicle crew… pic.twitter.com/OLa4I6Xizz
— Drone Wars (@Drone_Wars_) September 5, 2026
Meski demikian, evaluasi tersebut juga menyoroti sejumlah kendala praktis. Prajurit mencatat bahwa bobot sistem penggulung kabel (reel system) masih cukup memberatkan untuk pergerakan infanteri jalan kaki. Risiko kabel tersangkut pada pepohonan di area hutan lebat juga menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, skenario pengoperasian yang terintegrasi pada kendaraan taktis dinilai jauh lebih efektif untuk pengawalan konvoi maupun pertahanan wilayah statis.
Secara keseluruhan, uji lapangan ini memberikan landasan strategis bagi Angkatan Darat AS dalam merumuskan spesifikasi pengadaan teknologi komunikasi dan pengintaian masa depan. Integrasi tethered drone terbukti mampu menutup celah operasional unit kecil di medan konflik yang dinamis.
The U.S. Army’s Maneuver Battle Lab tested two commercial tethered drones on an Infantry Squad Vehicle-Utility at Fort Benning from 27 July to 7 August, the service disclosed on 2 September.
The trials examined whether a light vehicle can carry a persistent elevated ISR and… pic.twitter.com/dbYHxLykJx
— Drone Wars (@Drone_Wars_) September 3, 2026
Ke depannya, integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi diprediksi akan mengubah tethered drone menjadi pusat kendali otonom bagi sistem pertahanan darat. Selain berfungsi sebagai relai komunikasi, sistem ini berpotensi dilengkapi pemindai target otomatis berbasis pengenalan pola, pendeteksi frekuensi radar musuh, hingga dok pengisian daya untuk dron mikro yang beroperasi di sekitarnya.
Penggunaan material kabel yang lebih ringan dan tahan putus juga membuka peluang penerapannya pada kendaraan nirawak darat (UGV). Langkah ini akan menciptakan ekosistem pengawasan tanpa batas yang mampu melindungi pergerakan pasukan secara mandiri di wilayah rawan tanpa intervensi manual yang intensif. (Nurhalim)
Drone C100 PDW Uji Ketahanan di Hutan Hawaii, Angkatan Darat AS Pamerkan Daya Angkut


