Solusi Karhutla dan Patroli Maritim: Mengapa Indonesia Tak Kunjung Mengeksekusi Pesawat Amfibi?

Sejak pensiunnya armada UF-2 Albatross milik Skadron Udara 5 TNI AU pada era 1980-an, Indonesia praktis kehilangan kapabilitas operasional pesawat amfibi (amphibious aircraft) dalam skala signifikan, baik untuk fungsi angkut taktis, patroli maritim, maupun misi Pencarian dan Penyelamatan (SAR).
Baca juga: UF-2 Albatross: Generasi Kedua Pesawat Intai Amfibi TNI AU
Ketiadaan aset ini semakin terasa krusial ketika Indonesia dihadapkan pada tantangan tahunan berupa bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masif di Sumatera dan Kalimantan. Kebutuhan akan wahana water bombing berkapasitas besar yang mampu mengambil air langsung dari permukaan laut atau danau besar tanpa harus kembali ke pangkalan udara, menjadi sangat mendesak.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara tetangga, Malaysia, yang justru sudah lama mengoperasikan armada CL-415 dan terbukti efektif, bahkan pernah ikut andil memberikan bantuan water bombing di Sumatera. Dinamika ini memicu kembali wacana akuisisi pesawat amfibi untuk mengisi celah kapabilitas strategis di negara kepulauan ini.
Selama dua dekade terakhir, setidaknya terdapat tiga nama besar di industri dirgantara amfibi global yang pernah secara aktif ditawarkan, diuji coba, atau bahkan sempat memasuki tahap kontrak untuk Indonesia. Di lini pertama, terdapat produk legendaris asal Kanada, Bombardier (sekarang di bawah Viking Air), yaitu seri CL-415 (dan varian terbarunya, CL-515). Pesawat dengan propulsi turboprop ini sudah tidak asing lagi di langit Nusantara, karena pernah unjuk kebolehan dalam uji coba resmi di Indonesia.
Krisis Kebakaran Hutan Perancis: Alasan Pesawat Amfibi Canadair ‘Nyaris Tanpa Lawan’
Spesifikasi CL-415 sebagai purpose-built fire-fighter sangat impresif; pesawat yang berjaya di kebakaran hutan Eropa ini ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney Canada PW123AF, memiliki kecepatan jelajah maksimal sekitar 359 km/jam, jangkauan operasional 2.427 km, dan kemampuan scooping (mengambil air saat meluncur di permukaan) hingga 6.137 liter air hanya dalam waktu 12 detik. Begitu kuatnya minat terhadap pesawat ini, pada tahun 2019 Viking Air bahkan mengumumkan telah menuai kontrak penjualan 7 unit pesawat amfibi seri CL-515/415 untuk Indonesia, walau hingga saat ini kelanjutannya tidak jelas.
Viking Air Umumkan Penjualan 7 Unit Pesawat Amfibi CL-515/415 Series untuk Indonesia
Pilihan kedua yang pernah mengemuka dengan kuat adalah raksasa asal Jepang, ShinMaywa US-2. Di era Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, wacana akuisisi US-2 sempat menjadi perhatian intensif, terutama untuk mendukung kapabilitas SAR laut jarak jauh dan patroli maritim TNI AU dan TNI AL.
Mampu Menahan Gelombang Laut 3 Meter, US-2 Pernah Dilirik Indonesia
US-2 adalah pesawat amfibi modern yang ditenagai oleh empat mesin turboprop Rolls-Royce AE 2100J dan satu mesin tambahan (APU) untuk LPI (Low Pressure Injection) yang memungkinkannya lepas landas pada kecepatan yang sangat rendah dan di laut bergelombang hingga 3 meter.
Pesawat ini memiliki berat lepas landas maksimal di air sebesar 43 ton, kecepatan maksimal 560 km/jam, dan jangkauan terbang hingga 4.700 km, menjadikannya wahana ideal untuk menjangkau titik terjauh di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Keunggulan US-2 bukan pada water bombing, melainkan kapabilitas search and rescue (SAR) maritim yang mumpuni dengan pintu kargo samping yang besar, meski harganya tergolong sangat tinggi.
Beriev Be-200 Altair: Pesawat Amfibi Multipurpose Incaran TNI AU
Pilihan ketiga yang tidak kalah battle proven adalah Beriev Be-200 Altair dari Rusia. Pesawat amfibi yang satu ini unik karena mengadopsi platform mesin jet, yaitu dua mesin turbofan Progress D-436TP yang ditempatkan di atas pylon sayap untuk melindunginya dari percikan air. Be-200 bukan hanya ditawarkan, tetapi kapabilitasnya sudah pernah dirasakan langsung oleh Indonesia ketika disewa oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk operasi pemadaman Karhutla.
Sebagai pesawat jet amfibi, Be-200 memiliki kecepatan jelajah tinggi mencapai 700 km/jam dan kecepatan scooping optimal antara 150-190 km/jam. Kapasitas tangki airnya sangat besar, mencapai 12.000 liter (12 ton), menjadikannya aset water bombing jet terkuat di kelasnya. Selain itu, Be-200 memiliki jangkauan hingga 3.300 km dan dapat dikonfigurasi untuk misi SAR, patroli, maupun angkut personel, menawarkan kombinasi kecepatan jet dan fleksibilitas amfibi yang unik bagi geografis Indonesia. (Gilang Perdana)



tahun 2019 sudah pernah teken kontrak 7 unit Canadair CL-415/DHC-515. semoga cepat terealisasi. atau sewa dulu dari Italia, Yunani, Kanada yang sudah punya dan operasi
A400m dan C130 memang bisa dilengkapi kit pemadam. Tapi nggak praktis. Perlu bolak balik ke lanud. Ongkir tinggi.
Mumpung Pak Prabs rencana mau ke Rusia, sekalian aja pesan Beriev amphibious aircraft.
Seharusnya beli pesawat Ilyushin Il-76P dari om Putin untuk misi kebakaran hutan
Pesawat Ilyushin Il-76P sanggup memuntahkan 42 – 49 ton air
Berita terupdate di link sebelah pesawat Ilyushin Il-76P dalam oprasi untuk misi kebakaran hutan di Serbia dalam sehari sanggup memuntahkan air sebanyak 168 ton air
Selebihnya mungkin dapat berfokus heli sperti Mil Mi-26 atau Sikorsky CH-53K King Stallion atau Boeing CH-47 Chinookuntuk bom air lebih persisi
Lalu selanjutnya menggeser 50 – 75 unit dari 100 unit mobil pemadam kebakaran milik TNI ketitik lokasi yang sering terjadi kebakaran hutan
…….Flugboote…..
https://youtu.be/HNDpRVWL6u4?is=TM46DxQ-jazEwAbk
https://youtu.be/aTGNyppXCeQ?is=HRgfo7OK_3r1Vlwj
STOOOOOOOP MENGKONVERSI pesawat angkut biasa jadi WATER BOMBER. NGGAK PRAKTIS , EFFICIENT ,TURN AROUND LAMAAAAA, KE BURU LUDES hutanya, …..dan NGABISIN AVTUR, AVTUR MAHAL !!! JUST STOP….
BISIKIN PAK WOWO …buat beli AMPHIBIOUS AIRCRAFT.
GENDENG….negara kepulauan nggak ada montormabur amphibi…..WTH !
Masi ada BANGKE2 ALBRATOS khan….bawa ke Darwin, AUSSIE buat di upgrade.
BELII CL, spt Bung MOSANTO blg , di buka lg assembly linenya buruan beli. CL ini lebih TACTICAL WATER BOMBER .
Ada PT DI khan, suruh COPY PASTE ” MARTIN MARS ” amphibious aircraft. MARTIN lebih ke ” CARPET WATER BOMBING”
Misi MARTIN MARS terakhir di TEXAS buat Mexican fire
https://youtu.be/6_vyORoXNWE?is=e0XnyxO4L3wMlkMk
Dekade 1950-an dengan PBY-5A Catalina dan dekade 1980-an dengan Grumman SA-16 / HU-16 Albatross, sudah dua generasi pesawat amfibi yang pernah dioperasikan oleh militer kita. Ditunggu generasi ketiga entah CL-415/CL-515 atau sejenisnya kembali memperkuat TNI-AU 👍
Perusahaan canadair sempat bangkrut min waktu covid, baru buka lagi tahun 2026. Lagi rame di Kanada krn Uni Eropa pesen 22 unit tapi kyk perusahaannya jual mahal macam pabrik memori aja
Pesawat amfibi lebih praktis krn bisa mengapung di sungai sambil menyerok air, ngga perlu ngisi tangki air di pangkalan
Sebenarnya ada solusi murah lainnya daripada beli Canadair atau sejenisnya, beli kit waterbomber A400M dari Airbus, tapi kitnya dijual ga? Itu yang gw ga tau
Bukannya pesawat Atlas A 500 M kita punya kapabilitas sebagai pemadam kebakaran?
Betul, tapi saat ini belum siap, dan beda konteks dengan kemampuan pesawat amfibi yang dimaksud.