
Sejak pensiunnya armada UF-2 Albatross milik Skadron Udara 5 TNI AU pada era 1980-an, Indonesia praktis kehilangan kapabilitas operasional pesawat amfibi (amphibious aircraft) dalam skala signifikan, baik untuk fungsi angkut taktis, patroli maritim, maupun misi Pencarian dan Penyelamatan (SAR). (more…)

Bencana kebakaran hutan hebat yang melanda Perancis di tengah musim panas kembali menegaskan betapa rentannya benua Eropa terhadap krisis iklim global. Di tengah kepulan asap pekat yang membumbung di atas kawasan perbukitan dan hutan perawan Perancis, mata publik tertuju pada manuver ekstrem pesawat-pesawat amfibi berlabur warna merah dan kuning yang meliuk rendah di antara celah lembah. (more…)

Bukan Beriev Be-200, juga bukan US-2 ShinMaywa, kini sudah ada kepastian bahwa pesawat angkut amfibi multiguna pilihan Indonesia adalah Viking Air CL-515 Water Bomber. Persisnya dari ajang Paris AirShow 2019, Viking Air (d/h Bombardier Aerospace), manufaktur pesawat yang berbasis di British Colombia, Kanada, telah mengumumkan order pembelian tujuh unit pesawat amfibi dari Indonesia. Dari ketujuh unit yang diakuisisi Indonesia, empat unit adalah CL-515 varian First Reponder, dua unit CL-515 varian aerial firefighting, dan satu unit CL-415EAF (Enhanced Aerial Firefighter). (more…)

Juli 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi industri dirgantara Cina, pasalnya Negeri Tirai Bambu telah meluncurkan prototipe pesawat amfibi terbesar AG-600 yang dibuat Aviation Industry Corporation of China (AVIC). Dan hampir satu setengah tahun berlalu, pada 24 Desember 2017, AG-600 dilaporkan telah sukses melakukan uji terbang perdana dari Bandara Zhuhai, Provinsi Guangdong, yang tak jauh dari pantai yang mengarah ke Laut Cina Selatan. (more…)

Bila saat ini kita tengah berharap agar bisa kembali mengoperasikan pesawat angkut/intai amfibi, maka di masa lalu TNI AU setidaknya sudah pernah merasakan menjadi operator PBY-5A Catalina dan Grumman UF-2 Albatross. Keberadaan dua tipe pesawat amfibi tersebut menyiratkan perhatian serius pemerintah pada gelar pesawat berkemampuan amfibi, khususnya dalam mendukung operasi di perbatasan. Namun, apakah hanya Catalina dan Albatross yang menjadi arsenal pesawat amfibi TNI AU? (more…)

Merespon visi poros maritim yang dicanangkan Presiden Jokowi, maka pembicaraan tentang kebutuhan pesawat amfibi menjadi mengemuka. Setidaknya saat ini ada dua kompetitor yang berharap mendapat rejeki order dari pemerintah Indonesia. Yang pertama, Beriev Be-200 Altair dari Rusia, dan kedua adalah US-2 ShinMaywa dari Jepang.
(more…)

Indonesia dan Jepang tengah mempersiapkan perjanjian di bidang pertahanan yang akan memfasilitasi perdagangan dan produksi alutsista dari kedua belah pihak. Yusron Ihza Mahendra, Dubes RI untuk Jepang, mengatakan nota kesepahaman (MoU) kerjasama pertahanan telah disepakati saat kunjungan presiden Indonesia Joko Widodo ke Tokyo, Jepang pada bulan Maret lalu.
(more…)

TNI AU dan Kemhan saat ini mungkin tengah mempertingkan pengadaan pesawat intai amfibi, pasalnya belum lama berselang, pihak Rusia menawarkan Beriev Be-200 Altair. Sementara dari pihak Jepang mulai bersiap menawarkan pesawat amfibi turbo propeller US-2. Semua menyusul gaung poros maritim yang dicanangkan pemerintahan Jokowi saat ini. Memang idealnya bangsa maritim sebesar Indonesia harus mempunya pesawat dengan peran strategis, seperti pada kedua pesawat diatas. (more…)

Terkait tugasnya di wilayah lautan, bila selama ini TNI AU baru sebatas melakukan peran intai maritim tanpa dapat melakukan penindakan, maka terkait tren pemberantasan illegal fishing yang sedang dicanangkan pemerintah, TNI AU pun ingin mengambil peran yang lebih strategis. Salah satu wujudnya dengan keinginan dari pihak TNI AU untuk bisa mengoperasikan pesawat amfibi multipurpose buatan Rusia, Beriev Be-200 Altair. Pesawat ini dapat langsung mendarat di laut dan kemudian menerjunkan pasukan untuk melakukan inspeksi ke kapal-kapal yang mencurigakan. (more…)