Gunakan Basis Pickup Korea Selatan, Belanda Luncurkan Rantis DMV Tasman Pemburu Drone Berbasis AI

Dinamika pertempuran modern di Ukraina dan Timur Tengah yang didominasi oleh ancaman kawanan drone (drone swarm) memaksa militer negara-negara NATO untuk mempercepat pengadaan platform hanud jarak sangat dekat (VSHORAD) yang mobile dan taktis. Menjawab tantangan tersebut, manufaktur pertahanan asal Belanda, Dutch Military Vehicles (DMV), pekan ini resmi memperkenalkan inovasi terbaru mereka yang diberi nama DMV Tasman kepada perwakilan Kementerian Pertahanan Belanda dan mitra industri.

Baca juga: ST Engineering (Singapura) Luncurkan “NGPV 4×4”: Rantis MRAP Bertenaga Hibrida

Rantis ringan berbobot total (gross vehicle weight) 3.500 kilogram ini mengintegrasikan sistem senjata kontra-drone otonom berbasis kecerdasan buatan (AI-enabled) Bullfrog besutan Allen Control Systems (ACS) Amerika Serikat, menjadikannya salah satu rantis pemburu drone paling ringkas dan mematikan di kelasnya.

Guna menghadirkan kemampuan deteksi dan destruksi yang senyap, sistem Bullfrog pada DMV Tasman sengaja tidak mengadopsi perangkat radar konvensional yang pancaran sinyalnya dapat melacak posisi kendaraan (sifat emisi aktif). Sebagai gantinya, Bullfrog mengandalkan sistem sensor pasif berupa sensor optik berbasis computer vision AI untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengunci target secara mandiri dengan jarak tembak efektif hingga 800 meter.

Sistem seberat 400 pon yang dioperasikan lewat daya 24-volt DC ini mengintegrasikan senapan mesin serbaguna standar NATO M240 kaliber 7,62 mm. Hebatnya, berkat kalkulasi AI, biaya per rontokan (cost per engagement) sistem ini diklaim hanya berkisar US$10 per drone. Angka yang sangat ekonomis untuk mematahkan keunggulan kuantitas dari serangan drone murah Group 1 hingga Group 3, sementara kendali penuh otorisasi tembakan (man-in-the-loop) tetap berada di tangan prajurit.

Ketangguhan sistem Bullfrog sendiri telah teruji dalam ajang Project Convergence Capstone 5 di AS pada awal 2025, di mana sistem ini sukses merontokkan kawanan drone swarm beranggotakan tujuh unit sekaligus tanpa meleset.

Secara teknis, DMV Tasman telah dilengkapi dengan berbagai fitur standar militer, mulai dari sistem kontrol lampu darurat (blackout control), kemampuan pasang snorkel untuk arung air, bemper baja yang diperkuat, sistem antena taktis terintegrasi, winch, hingga pasokan daya listrik tambahan (auxiliary electric power supply).

Fleksibilitas arsitektur modularnya memungkinkan rantis ini diubahsuai secara cepat sesuai kebutuhan misi di lapangan tanpa mengorbankan performa off-road. Keberhasilan konsorsium DMV—yang turut menggandeng COBBS Industries BV, Metz Engineering, dan BeephoniX Defense & Security—dalam mendemonstrasikan rantis ini di hadapan petinggi militer Belanda mempertegas bahwa rantis komersial ringan yang dipersenjatai sistem kontra-drone organik kini menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera digelar di garis depan.

Keputusan Dutch Military Vehicles (DMV) memilih platform komersial KIA (dalam hal ini menggunakan basis pickup terbaru KIA Tasman yang dimodifikasi oleh divisi KIA Special Vehicles) sebagai tulang punggung rantis teranyar mereka memicu analisis menarik di kalangan pengamat militer. Alih-alih menggunakan basis rantis Eropa atau AS yang sudah populer, ada beberapa alasan strategis mengapa platform Korea Selatan ini dinilai jauh lebih ideal:

Pertama, faktor rekam jejak spesialisasi militer yang matang. KIA melalui divisi KIA Special Vehicles bukanlah pemain baru di dunia militer; mereka telah berpengalaman selama lebih dari lima dekade dalam membangun, menguji, dan memodifikasi platform kendaraan taktis untuk Angkatan Bersenjata Korea Selatan (ROK Armed Forces) serta kebutuhan ekspor. Pengalaman panjang ini membuat basis mekanis KIA Tasman telah memiliki durabilitas tinggi dan kemudahan adaptabilitas militer langsung dari pabrikannya, sehingga memotong waktu riset bagi DMV Belanda untuk memperkuat sektor sasis dan penggerak roda.

Kedua, menyangkut efisiensi biaya dan kecepatan pengadaan (Speed to Market). Mengembangkan rantis murni militer dari nol membutuhkan biaya miliaran dolar dan waktu bertahun-tahun. Dengan menggunakan basis pikap komersial massal yang diproduksi secara global oleh raksasa otomotif sekelas KIA, DMV Belanda mendapatkan keuntungan dari biaya unit yang relatif murah serta ketersediaan suku cadang yang melimpah. Hal ini sangat krusial bagi militer Eropa saat ini, yang tengah dikejar waktu untuk menggelar platform anti-drone secepat mungkin tanpa harus terjebak dalam lingkaran birokrasi program pertahanan tradisional yang lambat dan mahal.

Ketiga, faktor dimensi dan kapasitas muat yang presisi. Dengan bobot kotor 3.500 kg, platform ini berada pada titik keseimbangan yang sempurna: cukup ringan dan lincah untuk menyusup di medan tak rata (challenging terrains), namun memiliki struktur yang cukup kokoh untuk menopang superstructure militer khusus, termasuk kubah senjata otonom Bullfrog beserta amunisinya. Integrasi ini menghasilkan sebuah rantis proteksi udara jarak dekat yang tidak hanya andal, tetapi juga efisien secara logistik untuk diadopsi oleh negara-negara NATO.

Platform KIA Tasman yang digunakan oleh DMV Belanda ini ditenagai oleh performa mekanis yang solid untuk menembus berbagai medan berat. Pada versi standarnya, rantis ini dibekali pilihan mesin diesel 4-silinder berkapasitas 2.200 cc CRDi Turbo yang mampu mengemburkan daya maksimal hingga 207 horsepower (HP) serta torsi puncak mencapai 441 Nm, atau pilihan mesin bensin 2.500 cc (2.5L) Turbo GDI yang sanggup memuntahkan tenaga lebih galak hingga 277 HP.

Tenaga masif tersebut disalurkan ke sistem penggerak empat roda (4WD) melalui transmisi otomatis 8-percepatan, yang memungkinkan kendaraan taktis ini tetap lincah berakselerasi dan mampu meraih kecepatan maksimal (top speed) di kisaran 185 km/jam. (Gilang Perdana)

PT SSE Luncurkan Varian Baru Rantis Lapis Baja P2 Tiger 4×4: Untuk TNI AD dengan Teknologi Penggerak dari Perancis

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *