Bisa Hasilkan Data Intelijen Palsu, Perancang Jet Tempur Stealth Cina Minta Militer Hati-Hati Gunakan AI

Penggunaan model bahasa besar berbasis Kecerdasan Buatan (Large Language Model/LLM) memang mampu mempercepat analisis data pertahanan, namun teknologi ini menyimpan celah fatal yang dapat merusak akurasi intelijen militer.

Baca juga: Desainer Pesawat Cina Menyerukan Agar Jet Tempur Diproduksi dan Diperbarui Seperti Ponsel

Laporan media Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), mengungkapkan peringatan keras dari para insinyur penerbangan Cina terkait bahaya fenomena “halusinasi” AI yang mampu mengarang data intelijen militer secara meyakinkan.

Peringatan ini dipublikasikan dalam jurnal Information Studies: Theory and Application milik BUMN pertahanan Norinco oleh Zhang Xianzhe, seorang insinyur senior dari AVIC Chengdu Aircraft Research and Design Institute—lembaga riset utama yang merancang jet tempur generasi kelima J-20 serta program jet generasi keenam Cina, J-36.

Dalam makalah studinya, Zhang menekankan bahwa halusinasi algoritma AI dapat merekayasa spesifikasi teknis alutsista secara mendetail, mulai dari dimensi fisik pesawat, kapasitas muatan senjata, kecepatan, jarak jangkau tempur, hingga parameter kritis seperti jangkauan radar dan frekuensi peperangan elektronik.

AI bahkan kedapatan memfabrikasi keberadaan unit militer, pola latihan, hingga lokasi pangkalan militer yang sejatinya tidak pernah ada. Di dunia penerbangan militer, asumsi kemampuan alutsista lawan merupakan fondasi utama bagi insinyur untuk menentukan rancangan profil siluman (stealth), pemanduan radar, sistem pertahanan diri, hingga tingkat lincah maniver pesawat. Jika asumsi intelijen dasar tersebut dicemari oleh data palsu buatan AI, maka seluruh kalkulasi desain pesawat tempur hingga doktrin tempur di medan perang bisa terdistorsi secara fatal.

Ukraina Manfaatkan Koleksi Museum Poltava Untuk ‘Melatih’ Kecerdasan Buatan Pada Drone FPV

Masalah makin pelit karena model AI sering kali dilatih menggunakan data publik umum dan bukan sumber militer otoritatif, sehingga output yang dihasilkan kerap melanggar hukum fisika dasar maupun batasan aerodinamika. AI dapat menyarankan skenario penggunaan material yang melampaui ambang batas kelelahan logam (fatigue limit), maniver penerbangan yang mustahil secara aerodinamis, hingga perencanaan misi yang melebihi kapasitas bahan bakar aktual pesawat.

Di tengah meningkatnya ketergantungan doktrin militer modern pada AI untuk pemrosesan target otomatis, keluaran AI yang keliru namun disajikan secara sangat meyakinkan tidak lagi sekadar dianggap sebagai “jawaban buruk”, melainkan ancaman nyata yang dapat memicu keputusan taktis maupun strategis yang sangat berbahaya di lapangan.

Gandeng Microsoft dan Google, Hanwha Ocean Akselerasi Pengembangan Kapal Perang Berbasis Kecerdasan Buatan (AI)

Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, tim peneliti dari institut Chengdu merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi ketat sebelum hasil dari AI dapat dipercaya oleh analis intelijen. Rekomendasi tersebut meliputi pematrian (grounding) model AI pada basis data pertahanan yang tervalidasi dan terisolasi, penerapan basis pengetahuan terstruktur yang dapat dilacak (searchable knowledge base), penguncian petunjuk (prompting) secara spesifik, hingga penerapan verifikasi berlapis seperti metode debat antar-sistem AI (AI debate cross-checking).

Langkah tersebut dinilai krusial agar efisiensi analisis data yang ditawarkan AI tidak justru memicu kegagalan desain alutsista atau salah kalkulasi strategis dalam pertempuran masa depan. (Gilang Perdana)

Thales Upgrade Pod Penargetan TALIOS dengan Kecerdasan Buatan, Bikin Rafale Makin Canggih

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *