Perdana dalam Latihan Gabungan, TNI AL Uji Coba USV Kamikaze Buatan Dalam Negeri di Dabo Singkep

TNI AL mengukir sejarah baru dalam doktrin perang maritim nasional dengan mendemonstrasikan pola serangan asimetris berbasis kapal tanpa awak untuk pertama kalinya. Dalam latihan gabungan berskala besar yang digelar di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, pada 5 Agustus 2026, TNI AL sukses menguji coba wahana Unmanned Surface Vehicle (USV) kamikaze karya industri pertahanan dalam negeri.
Baca juga: USV Kamikaze Ukraina Serang LST Ropucha Class Armada Laut Hitam di Sevastopol
Dalam skenario latihan tersebut, USV kamikaze dideploysikan langsung dari well deck kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso (990). Setelus diluncurkan dari buritan kapal, drone maritim berbalut warna abu-abu gelap ini meluncur cepat menembus ombak menuju sasaran tembak berupa struktur uji di area pantai.
Pada rekaman video uji coba, USV terlihat mampu melakukan manver presisi hingga menabrak target dan memicu ledakan besar dari sasaran artifisial. Meskipun ledakan tersebut dipicu oleh bahan peledak pada titik sasaran untuk membuktikan konsep keterlibatan (proof of concept), pengujian ini mengonfirmasi keberhasilan sistem pemandu terminal dan navigasi taktis wahana tanpa awak tersebut.
Berdasarkan analisis visual terhadap rekaman video saat USV meluncur dan melakukan manuver akhir, wahana ini diperkirakan memiliki dimensi panjang sekitar 5 hingga 6 meter dengan lebar (beam) antara 1,2 hingga 1,5 meter. Profil lambungnya dirancang sangat rendah terhadap permukaan air (low freeboard) untuk menekan jejak radar (Radar Cross Section/RCS) serta meningkatkan daya tahan dari intai visual musuh.
— MARKICAP (@RizkyAgungW5) August 5, 2026
Kecepatan jelajah dan penyerangan (terminal speed) diperkirakan mencapai 30 hingga 40 knot, dipicu oleh dorongan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) yang knalpotnya menyembur dari cerobong bagian belakang. Kecepatan tinggi dan profil stealth ini sangat krusial untuk menembus lapisan pertahanan udara maupun kanon jarak dekat (Close-In Weapon System/CIWS) milik kapal musuh.
Secara filosofi desain dan arsitektur fisik, USV kamikaze buatan lokal ini memiliki kemiripan dengan wahana serupa yang dioperasikan militer Ukraina di Laut Hitam, seperti famili Magura V5 atau Sea Baby.
The Indonesian Navy (TNI AL) deployed a one-way attack (kamikaze/suicide) unmanned surface vessel (USV) for the first time during a major inter-service exercise in Dabo Singkep, Riau Islands.and launching a loitering munition from a warship and firing two C-705 anti-ship missiles pic.twitter.com/4nWyn3lzud
— Valhalla (@ELMObrokenWings) August 5, 2026
Desain lambung ramping (v-shaped hull), tiang sensor terintegrasi (optronic mast) di bagian atas untuk pemandu electro-optical/infrared (EO/IR), serta integrasi antena komunikasi satelit untuk kendali jarak jauh mengindikasikan bahwa pengembang dalam negeri mengadopsi tren perang maritim asimetris global. Ketinggian profil yang minim membuat USV ini mampu berkamuflase di antara riakan gelombang laut hingga menit-menit terakhir sebelum hantaman.
Meski identitas spesifikasi resmi belum dirilis oleh pimpinan TNI AL, sumber internal industri mengonfirmasi bahwa pembangunan USV kamikaze ini melibatkan galangan kapal milik negara, PT PAL Indonesia. Keterlibatan PT PAL mengindikasikan adanya integrasi arsitektur sistem kendali otonom yang sejenis dengan proyek Kapal Selam Otonom (KSOT) yang tengah dikembangkan perusahaan tersebut. Hal ini membuka peluang besar bagi TNI AL untuk membangun doktrin pemandu swarm (gerombolan) taksi berbiaya rendah (low-cost asymmetric attack) untuk melindungi selat-selat strategis di Nusantara.

Debut di Filipina Utara: Drone Kamikaze Ukraina Magura V5 Hancurkan Kapal Target di Balikatan 2026
Selain demonstrasi USV kamikaze, manuver militer di Dabo Singkep ini juga diramaikan dengan peluncuran loitering munition KI-50 dari geladak helikopter kapal perang, serta penembakan dua unit rudal anti-kapal C-705 oleh KRI Sampari (628) dengan sasaran darat.
Rangkaian uji coba ini menegaskan komitmen TNI AL dalam memadukan kekuatan pemukul konvensional seperti rudal jelajah dengan doktrin perang siber dan sistem otonom asimetris masa depan. (Gilang Perdana)



Maaf min, koreksi sedikit. Nomer lambung 991 utk KRI dr. Wahidin Sudirohusodo, sedangkan 990 utk KRI dr. Soeharso (sebelumnya KRI Tanjung Dalpele)
Terima kasih atas koreksinya mas Koko
good news, tinggal di perbanyak dan upgrade utk menjaga check point..
nah ini dibuat 30.000 unit pun gas sih, bikin sendiri kok, biar kayak iran aja gitu, anti access