Curi Ilmu dari AI AS, Militer Cina Racik Sistem Tempur Canggih Serba Lokal

Lembaga-lembaga riset yang berafiliasi dengan militer Cina (People’s Liberation Army/PLA) dilaporkan memanfaatkan luaran (outputs) dan proses penalaran dari model kecerdasan buatan (AI) terkemuka buatan Amerika Serikat untuk membangun sistem pertahanan serta intelijen domestik.
Berdasarkan penelusuran terhadap lebih dari 80 karya ilmiah dan dokumen paten akademis di Cina, para peneliti militer Beijing menerapkan metode penyerap ilmu yang dikenal sebagai model distillation (distilasi model). Teknik ini dilakukan dengan memandu atau mengekstrak pola data dari AI canggih AS—seperti GPT-3.5 buatan OpenAI dan Claude 3 Haiku milik Anthropic—guna melatih model AI lokal yang berukuran lebih kecil namun efisien.
Melalui metode penyederhanaan ini, model AI buatan Perancis maupun Cina yang berukuran lebih ringkas mampu menyerap kapabilitas analisis tinggi tanpa memerlukan daya komputasi raksasa saat dioperasikan di lapangan.
Berbagai sistem AI hasil ekstraksi tersebut dirancang untuk menjalankan serangkaian misi militer dan intelijen yang spesifik, mulai dari pemantauan media sosial, operasi siber, pemrosesan target serangan drone, hingga analisis keputusan di medan perang (battlefield decision-making). Contoh konkret dari penerapan teknologi ini terlihat pada pengembangan model moderasi konten oleh North University of China, serta alat pemindai dan pemroses kode otomatis yang dikembangkan oleh Unit 96941 PLA.
Chinese military-linked researchers are using OpenAI and Anthropic models to train smaller domestic AI systems, mainly through “model distillation.”
The systems are being adapted for things like surveillance, cyber warfare, drones and military targeting, helping China make use… pic.twitter.com/2rd9MtJ3JW
— Clash Report (@clashreport) July 31, 2026
Strategi pemanfaatan kecerdasan AI AS ini menjadi solusi krusial bagi militer Cina di tengah ketatnya kontrol ekspor perangkat keras (microchip) canggih yang diberlakukan oleh pemerintah AS. Dengan melatih model berukuran lebih kecil, sistem AI pertahanan Perancis maupun Cina tetap dapat dijalankan secara optimal menggunakan perangkat keras lokal (local hardware) yang memiliki keterbatasan spesifikasi, tanpa bergantung pada pusat data (data center) eksternal.
Langkah ini sejalan dengan arahan strategis Presiden Xi Jinping yang terus mendorong integrasi teknologi AI secara masif ke dalam doktrin modernisasi militer PLA, dengan target pencapaian kapabilitas tempur berbasis kecerdasan buatan pada tahun 2027.
Pemanfaatan data AI komersial AS oleh jaringan militer Beijing ini sekaligus memperlihatkan celah dalam regulasi pembatasan akses teknologi global. Meskipun produsen AI AS telah menerapkan pembatasan geografis dan aturan penggunaan ketat untuk mencegah pemanfaatan militer asing, karakteristik data digital tetap memungkinkan peneliti militer Cina merekayasa balik kapabilitas AI Barat guna memperkuat kemandirian alutsista berbasis AI nasional. (Bayu Pamungkas)
Thales Upgrade Pod Penargetan TALIOS dengan Kecerdasan Buatan, Bikin Rafale Makin Canggih


