Pangkalan Militer Rahasia UEA-Israel di Somaliland Hampir Rampung, Dilengkapi Bunker Bawah Tanah dan Radar Canggih

Dinamika geopolitik di kawasan Tanduk Afrika dan Laut Merah kian memanas seiring rampungnya perluasan pangkalan militer rahasia di Bandara Berbera, Somaliland. Proyek ekspansi masif selama sepuluh bulan yang dipimpin oleh Uni Emirat Arab (UEA) ini mengubah lapangan udara sipil menjadi pos pertahanan strategis regional.

Baca juga: Di Atas Laut Merah, Pesawat Intai Jerman Beechcraft King Air 350 Ditembak Sinar Laser oleh Fregat Angkatan Laut Cina

Terletak di Teluk Aden dekat Selat Bab Al-Mandab, pangkalan ini dirancang untuk penggunaan bersama (joint operation) antara Abu Dhabi, Washington, dan Tel Aviv. Akses menuju bandara kini ditutup total untuk umum, sementara citra satelit memperlihatkan pembentukan infrastruktur pertahanan canggih, mulai dari jaringan bunker bawah tanah (underground hangars), depo amunisi tersembunyi, hingga instalasi radar pertahanan udara (surface-to-air missile/SAM) untuk mengamankan ruang udara dari potensi ancaman rudal atau drone musuh.

Pembangunan fasilitas militer ini diperkuat oleh deretan bunker bawah tanah yang dibuat dari kontainer pengiriman yang dikubur di sepanjang landasan pacu sepanjang empat kilometer bekas peninggalan Uni Soviet.

Selain bunker munisi dan tangki bahan bakar terselubung, pangkalan Berbera juga dilengkapi dengan 20 kompartemen penyimpanan berbenteng (bermed bays), area penyimpanan senjata setengah terimbun, serta hanggar khusus untuk pengerahan drone (UAV) dan pesawat tempur sayap tetap.

Sektor pertahanan udaranya diperkuat oleh stasiun radar dan peluncur rudal yang polanya mirip dengan Pangkalan Bossasso di Puntland—yang sebelumnya telah menyiagakan sistem radar canggih ELM-2084 buatan Israel. Pangkalan Berbera diproyeksikan oleh Pentagon sebagai alternatif ideal pengganti Pangkalan Djibouti, lantaran Somaliland menawarkan kebebasan izin pengerahan serangan militer ke wilayah Yaman tanpa terhalang pembatasan diplomatik atau keberadaan pangkalan militer Cina.

Somaliland sendiri merupakan sebuah wilayah de facto mandiri (unrecognized republic) yang terletak di bagian utara Somalia, berbatasan langsung dengan Teluk Aden, Ethiopia, dan Djibouti. Secara hukum internasional, Somaliland masih dianggap sebagai bagian dari kedaulatan Somalia, namun wilayah ini telah mendeklarasikan kemerdekaannya secara sepihak sejak tahun 1991 dan memiliki pemerintahan, mata uang, serta kekuatan militer sendiri.

Karena statusnya yang belum diakui secara luas oleh PBB, Somaliland secara aktif mencari pengakuan internasional dari negara-negara Barat dan Timur Tengah dengan cara menukarkan posisi geografisnya yang sangat strategis sebagai pangkalan militer sekutu.

Keterlibatan mendalam UEA dan Israel di Somaliland merupakan bagian dari kerja sama strategis yang kian solid sejak ditandatanganinya Abraham Accords. Bagi UEA, penguasaan pangkalan militer di Somaliland di bawah perjanjian pertahanan 2017 merupakan langkah untuk mengamankan jalur pelayaran komersial di Laut Merah sekaligus memperluas pengaruh maritimnya di kawasan Tanduk Afrika.

Sementara bagi Israel, pengakuan diplomatik yang mereka berikan kepada Somaliland pada Desember 2025 merupakan kalkulasi taktis untuk mengamankan pos pengerahan militer terdepan (forward operating base) guna menghadapi milisi Houthi di Yaman.

Meski Somaliland bukan murni “desain” buatan Israel—karena gerakan separatisme lokal ini sudah mengakar lama sejak 1991—Tel Aviv dan Abu Dhabi memanfaatkan secara maksimal ambisi pengakuan kedaulatan Somaliland untuk merancang arsitektur keamanan baru yang menguntungkan blok sekutu di gerbang selatan Laut Merah. (Gilang Perdana)

Dapat Akses Langsung ke Laut Merah, Rusia Raih Kesepakatan Bangun Pangkalan Angkatan Laut di Sudan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *