Berkamuflase Sebagai Elang, Cina Kembangkan Drone Bionik untuk Misi Pengintaian Otonom

Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA) terus memperluas portofolio pesawat tanpa awak (UAV) dengan mengembangkan drone bionik yang meniru anatomi dan kepakan sayap burung elang. Langkah ini menegaskan ketertarikan mendalam Beijing terhadap platform ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) berbasis biomimetik yang mampu menyusup tanpa terdeteksi menggunakan kamuflase alamiah.
Keunggulan utama drone berbentuk elang ini terletak pada aspek kerahasiaannya yang tinggi (low-profile). Berbeda dengan drone konvensional yang mudah dikenali dari suara baling-baling, drone bionik ini dapat membaur di udara bersama fauna lokal. Untuk menjalankan misi pengintaian, sebuah kamera pengawas mini (mini surveillance camera) disembunyikan secara rapi di dalam bagian kepala drone tanpa merusak visual kamuflasenya.
Dalam uji coba terbaru, drone elang PLA ini mendemonstrasikan tingkat otomatisasi yang matang lewat penerbangan otonom penuh. Berdasarkan data telemetri, drone mampu terbang konstan pada ketinggian 50 meter, sukses melintasi 8 titik koordinat (waypoint), dan menempuh jarak 366,1 meter hanya dalam durasi waktu 24 detik. Kemampuan ini menjadikannya sangat ideal untuk operasi taktis di lingkungan kompleks seperti kawasan perkotaan atau hutan lebat.
Another bionic reconnaissance drone of the PLA, designed in the shape of an eagle.
A small camera is mounted on its head to film the area. The drone’s operation panel displays the flight parameters:
eight waypoints completed at an altitude of 50 meters, a total distance of… pic.twitter.com/01Ippey8d0— China pulse 🇨🇳 (@Eng_china5) June 24, 2026
Inovasi Serupa dari Indonesia: Melangkah Lebih Dulu
Menariknya, konsep drone pengintai berbasis kepakan sayap (flapping wing) ini bukanlah hal baru di kawasan Asia Tenggara. Kilas balik satu dekade lalu, industri riset pertahanan Indonesia sebenarnya telah melangkah lebih awal dalam menggagas konsep taktis yang sama. Pada Pameran Alutsista TNI AD 2014, Direktorat Topografi Angkatan Darat (Dittopad) bersama Universitas Surya telah memamerkan purwarupa bernama Robot Terbang Flapping Wing (RTFW).
Sama seperti drone PLA, RTFW TNI AD mengandalkan kepakan sayap mekanis agar membaur secara natural dengan ekosistem burung lokal. Proyek RTFW ini dirancang dalam beberapa ukuran, termasuk varian “Burung Besar” yang menyerupai elang. Varian ini memiliki bentang sayap 188 cm dan panjang torso 80 cm. Berkat material carbon fiber dan duralium, bobotnya sangat ringan hanya 650 gram. Dipersenjatai sensor giroskop, akselerometer, serta kamera mini, burung mekanis ini mampu menjelajah hingga jarak 2 km menggunakan kendali jarak jauh frekuensi radio 2.4 Ghz.
Perbedaan mendasar dari kedua platform lintas zaman ini terletak pada sistem kendalinya. Jika pada tahun 2014 proyek RTFW Indonesia masih berfokus pada stabilitas aerodinamika dengan kontrol manual stik remote control, drone bionik Cina di era modern telah memanfaatkan lompatan teknologi komputer mikro dan kecerdasan buatan (AI) untuk terbang otonom penuh tanpa intervensi operator.
Kehadiran drone bionik Cina saat ini menjadi momentum penting bagi dunia riset pertahanan domestik. Proyek RTFW Dittopad telah membuktikan bahwa periset Indonesia memiliki kapasitas intelektual yang sangat kompetitif dalam membaca arah teknologi masa depan. Tantangan terbesar saat ini adalah menghidupkan kembali kontinuitas riset tersebut dan memperbarui sistem elektroniknya dengan teknologi navigasi otonom berbasis waypoint modern. (Gilang Perdana)
Seukuran Nyamuk dan Nyaris Gaib: Prototipe Mikro Drone Spionase Cina Picu Horor Privasi


