Amankan Laut Cina Selatan, Malaysia Siapkan Lanud Kuantan Jadi Markas FA-50M Fighting Eagle

Angkatan Udara Malaysia (TUDM) tengah mengebut persiapan infrastruktur guna menyambut kedatangan armada jet tempur ringan FA-50M Fighting Eagle (varian tertinggi dari basis FA-50 Block 20). Panglima TUDM, Jenderal Tan Sri Muhamad Norazlan Aris, mengonfirmasi bahwa pembangunan fasilitas penunjang untuk jet tempur buatan Korea Aerospace Industries (KAI) tengan dilakukan di Pangkalan Udara (Lanud) Kuantan, Pahang, yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada Oktober 2026 ini.
Baca juga: Malaysia Persiapkan Kontrak Akuisisi Tahap Kedua 18 Unit FA-50 Block 20 Fighting Eagle
Seperti dikutip New Strait Times, saat ini, progres konstruksi struktur dasar untuk seluruh bangunan hanggar dan fasilitas pendukung operasional di pangkalan tersebut telah mencapai 90 persen. Bersamaan dengan itu, penyiapan sumber daya manusia juga berjalan paralel di mana enam pilot gelombang pertama beserta tim teknisi TUDM kini tengah menjalani pelatihan terbang intensif menggunakan pesawat latih TA-50 di Pangkalan Udara Gwangju, Korea Selatan.
Secara geografis, pemilihan Lanud Kuantan sebagai markas armada FA-50M TUDM dinilai sangat strategis dan sarat akan fungsi penggetar (deterrence effect). Terletak di pantai timur Semenanjung Malaysia, pangkalan udara ini berhadapan langsung dengan wilayah perairan Laut Natuna Utara (Laut Cina Selatan) yang kerap menjadi titik panas sengketa tumpang tindih wilayah.
Dengan menempatkan FA-50M di Kuantan, TUDM dapat dengan cepat melakukan intersepsi terhadap setiap potensi pelanggaran ruang udara di wilayah perbatasan maritim tersebut. Selain memikul tugas tempur taktis, Lanud Kuantan juga merupakan pangkalan udara multifungsi yang sangat sibuk, karena menjadi markas bagi skadron tempur udara penempur taktis—seperti Skadron No. 17 yang mengoperasikan jet tempur kelas berat Sukhoi Su-30MKM—serta skadron transportasi udara yang mengoperasikan pesawat angkut militer.
Serupa Tapi Tidak Sama, Ini Perbedaan Antara T/TA-50 Golden Eagle dan FA-50 Fighting Eagle
Kementerian Pertahanan Malaysia pada tahun 2023 resmi menandatangani kontrak pengadaan senilai US$920 juta dengan KAI untuk mendatangkan 18 unit jet tempur ringan/pesawat latih lanjut FA-50M. Kontrak ini merupakan bagian dari pemenuhan fase pertama program Light Combat Aircraft/Fighter Lead-In Trainer (LCA/FLIT) Malaysia, di mana TUDM diproyeksikan menerima dua unit perdana pada paruh kedua tahun 2026 ini, sedangkan sisa unit lainnya akan dikirim secara bertahap.
Kehadiran jet tempur yang dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara (retractable refueling probe) dan radar canggih ini diharapkan mampu mempercepat regenerasi pilot tempur Malaysia sebelum mereka bertransisi ke platform pesawat tempur garis depan (multi-role combat aircraft) yang lebih berat di masa depan.
Dipasangi Air Refueling Probe, Inilah Tampilan FA-50 Fighting Eagle
Selain fokus pada penyiapan skadron FA-50M, penguatan ruang udara Malaysia juga akan disempurnakan melalui pengadaan sistem pertahanan udara jarak menengah (Medium-Range Air Defence/Merad). KSAU Malaysia menjelaskan bahwa TUDM saat ini berada dalam tahap peninjauan akhir untuk memilih sistem Merad terbaik yang akan diakuisisi.
Langkah ini dinilai sangat kritikal bagi Malaysia untuk membangun payung pertahanan udara berlapis nasional. Kehadiran sistem Merad ini nantinya akan bertindak sebagai jembatan taktis, mengisi kekosongan perlindungan antara sistem hanud titik jarak pendek (short-range ground-based air defence) yang berbasis di darat dengan radius operasional payung udara yang selama ini diemban oleh jet-jet tempur utama Malaysia. (Gilang Perdana)
AS Bantah Terlibat Embargo Rudal Anti Kapal NSM Pesanan Malaysia, Tuding Balik Norwegia



Kalaupun ditempatkan di lanud terdekat dengan laut cina selatan, jika terjadi konflik (dengan cina misalnya) apakah sanggup berhadapan langsung dengan jet tempur siluman generasi kelima J-35 (dan J-35A) atau ndak usah J-35, dengan jet tempur serbaguna J-15 dan J-15T saja apa mampu, dimana pesawat-pesawat ini beroperasi secara aktif di kapal induk tercanggih mereka, seperti Fujian