Kilas balik ke tahun 2016, saat itu tersiar kabar bahwa Lockheed Martin akan menawarkan paket radar intai untuk Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Bahkan, sejak tahun 2010 Radar Surveillance System Lockheed Martin Corporation telah melakukan beberapa pembicaraan dengan TNI AU, termasuk dengan KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) mengenai kemungkinan alih teknologi. Sehingga radar intai hanud yang ditawarkan Lockheed Martin nantinya dapat dibangun sendiri oleh Industri Pertahanan di dalam negeri. Tentang jenis radar yang ditawarkan untuk Kohanudnas saat itu adalah tipe AN/TPS-77 (AN/FPS-117), yaitu radar yang punya peran sebagai long range air surveillance.(more…)
Bertetangga dengan Indonesia, maka Malaysia diprediksi juga bakal terimbas jika meletus konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Cina. Dari serangkaian antisipasi yang dilakukan oleh pihak militer, maka kesiapan unsur satuan radar menjadi yang paling vital guna mendeteksi ancaman sedari dini dan meningkatkan kesadaran situasional. Dan dua wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, yaitu Negara Bagian Sabah dan Sarawak di Pulau Kalimantan, beberapa waktu ini telah mengoptimalkan kemampuan sistem radar intai hanud dan peringatan dini. (more…)
Aksi saling intai dari udara di masa damai bukan lagi hal yang tabu, asalkan dilakukan dengan santuy dan halus, rasanya tidak akan menimbulkan gejolak antar negara bertetangga. Sebut saja di pada dekade 80/90-an, dimana teknologi analog dalam penerbangan masih dominan, baik Singapura dan Malaysia kala itu sudah menggunakan jet tempur spesialis intai pemotretan udara RF-5E Tigerye. Sementara Indonesia, lebih memilih menggunakan pod Vicon 70 yang dipasang pada A-4E Skyhawk dan Hawk series. (more…)
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad belum lama ini membuat pernyataan yang menghebohkan, meski inti yang dimaksud sudah menjadi rahasia umum, namun ini pertama kali tokoh Negeri Jiran mengungkapkan keluh kesahnya pada jet tempur buatan Amerika Serikat. Yang dimaksud Mahathir adalah F/A-18D Hornet, jet tempur yang dioperasikan Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) itu memang disebut cukup tangguh, namun syarat dan ketentuan operasional yang terlalu ‘ditentukan’ oleh kebijakan AS yang menjadi masalah. (more…)
KD Tun Razak, kapal selam Scorpene Class kedua milik AL Malaysia dilaporkan telah kembali operasional setelah menjalani masa perbaikan panjang selama 18 bulan. Dalam sebuah video yang dirilis pada 16 April, bertempat di dermaga yang dirahasiakan, plus lengkap dengan kru yang mengenakan masker anti covid-19, disebutkan KD Tun Razak telah memulai patroli. (more…)
Law enforcement rupanya menjadi kunci dalam penanggulangan penyebaran virus covid-19. Lantaran menyangkut coverage dan sebaran populasi yang sedemikian luas, maka peran teknologi harus dikedepankan untuk melaksanakan upaya pengawasan dan penegakan hukum. Setelah Cina Daratan yang menjadi pioneer penggunaan drone pada musim covid-19, kini giliran Malaysia mengadopsi penggunaan drope copter selama periode lockdown diberlakukan. (more…)
Diluncurkan dari kedalaman 55 meter di bawah permukaan laut, kemudian melesat sejauh 40 km menuju sasaran di permukaan, untuk pertama kalinya di Asia Tenggara diluncurkan uji coba penembakan rudal anti kapal dari kapal selam. (more…)
Meski program akuisisinya telah diwartakan sejak awal 2018, namun hingga kini Indonesia belum juga menerima kedatangan drone intai ScanEagle lansiran Boeing Insitu untuk TNI AL. Sementara negara tetangga yang sama-sama mendapatkan program hibah dari Amerika Serikat, yaitu Filipina dan Malaysia, malah sudah lebih dulu menerima ScanEagle. Seperti belum lama ini AL Malaysia disebut telah menerima gelombang pertama, berupa enam unit ScanEagle. (more…)
Kilas balik ke April 2018, saat itu diwartakan Malaysia telah menandatangani pembelian 18 pucuk Howitzer LG-1 MKIII kaliber 105 mm dari Nexter, Perancis. Dilihat dari spesifikasinya, MKIII, maka jelas LG-1 pesanan Malaysia bakal lebih canggih dari LG-1 MKII yang dimiliki Satuan Armed Korps Marinir TNI AL. (more…)
Malaysia nampaknya ingin mengikuti jejak Indonesia sebagai negara pengguna CN-235 MPA (Maritime Patrol Aircraft), diwartakan dua dari enam unit CN-235 milik AU Malaysia (TUDM) akan dikonversi menjadi varian MPA. Konversi tersebut mendapat dukungan pendanaan oleh Amerika Serikat lewat program Maritime Security Initiative. (more…)