
Diam-diam rupanya Korea Utara kepincut pada ranpur buatan Amerika Serikat. Meski semuanya masih diselimuti kabut misteri, namun pada defile militer besar-besaran saat Perayaan HUT Partai Buruh Ke-75 di Pyongyang yang dihelat pada 10 Oktober 2020. Publik global dibuat terheran-heran lantaran Korea Utara (Korut) ternyata mempunyai ranpur ‘Stryker 8×8.’ (more…)

Selain rudal balistik antarbenua terbesar di dunia, Hwasong-16, sejatinya masih banyak alutsista baru yang diperlihatkan Kim Jong Un saat parade militer di Perayaan HUT Partai Buruh ke-75 yang dihelat di Pyongyang pada 10 Oktober lalu. Dan, salah satu yang berhasil mencuri perhatian analis militer adalah sosok rudal balistik berbasis dari kapal selam – submarine launched ballistic missiles (SLBM), Pukguksong-4. (more…)

Sabtu malam, 10 Oktober lalu, perhatian dunia terpusatkan ke Pyongyang, di Ibu kota Korea Utara tersebut berlangsung parade militer besar-besaran sebagai bagian dari Perayaan HUT Partai Buruh ke-75. Dari serangkaian alutsista baru lansiran Korea Utara (Korut), yang paling membetot perhatian adalah untuk pertama kalinya diperlihatkan sosok rudal balistik antarbenua terbesar di dunia dalam parade kolosal di Kim Il-sung Square. (more…)

Selain serangan rudal balistik dari Korea Utara, hal lain yang juga menjadi kekhawatiran Jepang adalah ancaman dari kapal selam. Tentang kapal selam, ada dua negara yang punya potensi mengganggu ketentraman Jepang, tak lain adalah Cina dan Korea Utara. Namun, yang disebut pertama, jelas yang membuat Tokyo gusar, betapa tidak, pencapaian teknologi kapal selam Cina sudah terbilang maju, termasuk dalam adopsi kapal selam bertenaga nuklir. Dan, pada kamis sore lalu (18/6/2020), mendadak unsur anti kapal selam Jepang telah berada dalam tingkat kesiapan tempur tinggi. (more…)

Meski dikenal sebagai salah satu angkatan bersenjata yang termutakhir di dunia, namun sejumlah kegusaran terus menghantui Jepang. Sebut saja ketika Cina mampu meluncurkan rudal balistik hipersonik, sontak Negeri Sakura ini merespon dengan dibukanya program pengembangan rudal jelajah hipersonik. Tapi kekhawatiran terbesar Jepang rupannya bukan itu, sejak tiga dekade silam, masifnya pembangunan armada kapal selam Cina dan Korea Utara adalah yang menjadi momok bagi Jepang. (more…)

Kiblat teknologi kapal selam Indonesia memang bukan ke Korea Selatan, namun harus diakui Indonesia ‘berguru’ ke Korea Selatan guna membangun industri kapal selam, yaitu dalam skema ToT (Transfer of Technology) lewat pengadaan kapal selam Nagapasa Class yang digarap DSME bersama PT PAL. Bila dirunut dari sejarahnya, Korea Selatan sejatinya juga menerima ToT dari Jerman Barat dalam mewujudkan Changbogo Class (Type 209 Class) pada awal 1989. (more…)

Dilihat dari harga per unitnya yang mencapai Rp13,5 miliar, plus tidak ada platform jet tempur yang cocok mengusungnya, jelas rudal udara ke permukaan yang diberi label Taurus ini bukan untuk Indonesia. Meski begitu, kecanggihan rudal blesteran Jerman – Swedia ini layak ditelaah, mengingat kemampuan long range air to surface missile ini begitu diandalkan untuk melahap sasaran terpilih (high level target). Statusnya memang belum battle proven, tapi kehadiran Taurus menjadi daya tawar Korea Selatan dalam menghadapi rencana agresi Korea Utara. (more…)