Dinamika pengadaan jet tempur di Asia Tenggara kembali memanas. Indonesia dikabarkan telah memulai negosiasi baru dengan Korea Selatan mengenai rencana akuisisi unit jet tempur generasi 4.5, KF-21 Boramae. Berdasarkan laporan dari Janes.com (8/1/2026), Jakarta berencana untuk memboyong sedikitnya 16 unit KF-21 varian Block 2 guna memperkuat armada TNI AU. (more…)
Angkatan Udara Filipina (PAF) dipastikan akan memiliki taring yang jauh lebih tajam dalam menjaga kedaulatan wilayah udaranya. Pada 12 Desember 2025, pemerintah Filipina secara resmi menandatangani kontrak strategis dengan Korea Aerospace Industries (KAI) untuk melakukan peningkatan kemampuan (upgrade) besar-besaran terhadap 11 unit jet tempur FA-50PH Fighting Eagle yang saat ini dioperasikan. (more…)
Indonesia dan Filipina punya tantangan serupa dalam menghadapi kelompok separatis bersenjata, dan kedua negara juga sama-sama mengoperasikan pesawat serang ringan bermesin turboprop A-29 (aka – EMB-314) Super Tucano, untuk misi Close Air Support (CAS). Meski pesawatnya sama, untuk bekal persenjataan ternyata berbeda. (more…)
Angkatan Bersenjata Filipina melalui Angkatan Udara Filipina (Philippine Air Force – PAF) telah mempertahankan keputusannya untuk membeli enam unit tambahan pesawat serang ringan A-29B Super Tucano buatan Embraer, di tengah pertanyaan keras yang diajukan oleh Senator Raffy Tulfo saat debat pleno anggaran Departemen Pertahanan Nasional pada 28 November 2025. (more…)
Dalam perkembangan yang menyoroti panasnya persaingan strategis di Laut Cina Selatan, Pemerintah Jepang secara resmi membantah adanya diskusi untuk mengekspor sistem rudal pertahanan udara (hanud) jarak sedang Type 03 (Type 03 Medium-Range Surface-to-Air Missile) kepada Filipina. Bantahan ini muncul tak lama setelah laporan informal mengenai rencana ekspor tersebut memicu kecaman keras dari Beijing. (more…)
Korps Marinir Amerika Serikat (U.S. Marine Corps/USMC) telah mengambil langkah signifikan dalam penguatan kerja sama pertahanan dengan Filipina melalui pengerahan aset udara nirawak canggih. Unit dari Marine Unmanned Aerial Vehicle Squadron (VMU)-1 telah dikerahkan untuk beroperasi dari Pangkalan Udara Basa di provinsi Pampanga, Filipina. Pengerahan ini, yang dilakukan atas permintaan Manila, secara eksplisit ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) regional, khususnya di perairan sengketa Laut Cina Selatan (LCS), yang oleh Filipina disebut Laut Filipina Barat (West Philippine Sea).
Sebagai rudal anti kapal pesisir (coastal missile defence), nama rudal Brahmos sudah lekat sebagai arsenal alutsista Korps Marinir Filipina. Dan setelah beberapa gelombang (batch) pengiriman dari India, untuk pertama kali Korps Marinir Filipina meresmikan baterai atau kompi pertama rudal anti kapal Brahmos. (more…)
Akibat tekanan politik, pemerintah Filipina berencana tak lagi membuat kontrak baru untuk pembelian persenjatan dari industri pertahanan Israel. Namun, bukan berarti hubungan Manila dan Tel Aviv merenggang, tetap ada kontrak lanjutan yang berkaitan dengan pemeliharaan atas dan dukungan terkait. Lebih dari itu, ada pernyataan menarik dari Menteri Pertahanan Filipina Gilbert Teodoro yang menyebut pihaknya saat ini ‘terjebak’. (more…)
Meski tak sampai melakukan pembatalan atas kontrak yang berjalan, seperti yang dilakukan Spanyol dengan membatalkan pesanan sistem artileri PULS, namun ada kabar bahwa Israel bakal kehilangan pelanggan terbesarnya di Asia, setelah rencana pemerintah Filipina untuk tidak membuat kontrak baru untuk pembelian sistem senjata dari Negeri Yahudi. (more…)
Sebagai negara yang mendapat ancaman konflik bersenjata dari dalam dan luar negeri, maka menarik untuk mencermati dengan apa yang dilakukan oleh Filipina. Terkhusus untuk meladeni konflik bersenjata domestik yang dilakukan kelompok separatis, Pusat Penelitian dan Pengembangan – Air Force Research and Development Center (AFRDC) Angkatan Udara Filipina telah meluncurkan drone bersenjata buatan dalam negeri pertamanya. (more…)