Alutsista dari Cina ibarat kuda hitam di Indonesia, tidak pernah jadi unggulan namun dari jenis dan kuantitas sudah banyak tersebar di setiap matra. Dan salah satu pencapaian “emas” alutsista dari Cina yakni perannya yang dominan memasok kebutuhan sistem rudal hanud (pertahanan udara) dan rudal anti kapal. Dan kini Cina kian giat melakukan penetrasi ke pasar Indonesia, salah satu yang mendapat highlight adalah upaya Norinco (North Industries Corporation) untuk menawarkan sistem rudal hanud medium air defence (Menad) Sky Dragon 50 (GAS2) untuk kebutuhan Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas TNI AU. (more…)
Bila merujuk ke agenda, mestinya di MEF (Minimum Essential Force)II sudah ada kontrak pengadaan alutsista hanud MERAD (Medium Air Defence). Yang sudah terang-terangan menyebut pengadaan sistem senjata ini adalah Korps Paskhas TNI AU. Seperti disebut oleh Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Adrian Watimena, kandidat yang mendapat perhatian serius adalah NASAMS (National Advanced Surface to Air Missile System) dari Norwegia, LY-80, Flying King, dan Sky Dragon 50. Ketiga yang disebut terakhir berasal dari Cina. (more…)
Umumnya setiap satuan tembak (satbak) pada alutsista Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) sudah memiliki unit command and control. Sebut saja pada kanon CIWS (Close In Weapon System) Rheinmetall Oerlikon Skyshield, Kobra Air Defence System pada rudal Grom, rudal QW-3, rudal Mistral, sampai kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) twin gun Giant Bow 23 mm. Namun bagaimana dengan meriam PSU legendaris S-60 kaliber 57 mm? Meski usianya sudah lanjut, sampai saat ini alutsista dari era Uni Soviet ini masih jadi andalan pada elemen hanud titik. Bahkan S-60 sudah mengalami retrofit.
Dalam pertempuran udara jarak dekat (dogfight), terkena sengatan rudal pencari panas menjadi momok yang menakutkan bagi penerbang tempur. Untuk mengatasinya, dikenal flare yang mampu mengeluarkan panas tinggi untuk mengecoh sensor infrared pada rudal pemburu panas. Tapi lain dari itu, tebaran flare harus diakui cukup menarik perhatian, bila dilepaskan secara sistematis maka mampu memperlihatkan keindahan laksana ‘bola’ api di angkasa. Maka tak jarang dalam atraksi udara, pelepasan flare menjadi salah satu menu andalan. (more…)
PT Pindad telah meluncurkan beberapa varian rantis (kendaraan taktis) Komodo 4×4. Namun hingga kini belum ada varian Komodo yang dirancang sebagai platform pengusung radar. Nah, dalam ajang Indo Defence 2016 kabarnya PT Pindad dan Saab AB, manufaktur persenjataan dari Swedia akan menghadirkan prototipe rantis Komodo dengan platform mobile radar Giraffe 1X (G1X), jenis radar short range 3D untuk misi Ground Based Air Defence. (more…)
Arsenal Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) milik TNI banyak ragamnya, tapi tak semua mendapat mandat untuk melindungi area ring satu, yakni wilayah Istana Negara. Seperti pada HUT RI ke-71 bulan Agustus lalu, Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas TNI AU mendapat kepercayaan untuk menempatkan baterai kanon CIWS (Close In Weapon System) Oerlikon Skyshield 35 mm di Lapangan Tugu Monas. Baterai Skyshield disiapkan dalam posisi siaga penuh, berikut sistem Skyshield Fire Control Unit yang di dalamnya terdapat unit sensor dan radar. (more…)
Nama Kobra Air Defence System mungkin tak begitu familier dalam jagad alutsista nasional, namun sejatinya sistem pertahanan udara besutan Polandia ini yang dipercaya sebagai perisai langit Ibu Kota DKI Jakarta. Persisnya Kobra Air Defence System adalah platform yang digunakan pada Battery Command Vehicle untuk rudal Grom berpeluncur Poprad dan meriam 23mm/ZUR komposit rudal Grom. Dan seperti halnya keberadaan rudal SHORAD (Short Air Defence System) Mistral, QW-3, RBS-70, dan Starstreak, sistem rudal Grom dalam Kobra Air Defence System juga dilengkapi dengan elemen radar intai dan pengendali tembakkan. (more…)
Dalam latihan puncak Armada Jaya XXXIV/2016 yang berlangsung 14 September lalu, TNI AL melakukan uji tembak rudal anti kapal C-705 dari KCR (Kapal Cepat Rudal) KRI Clurit 641. Meski penembakkan bisa disebut gagal karena rudal telat meluncur, dan kemudian tidak mengenai sasaran, yang juga menjadi perhatian adalah keberadaan radar pengendali tembakan TR-47C dan radar intai SR-47AG. Radar buatan Cina ini dapat mendeteksi sasaran di udara dari jarak 40 Km dan deteksi sasaran pada permukaan sejauh 25 Km. Nah, jauh sebelum diadopsi oleh kapal perang TNI AL, radar yang labelnya mirip sudah dioperasikan oleh Arhanud TNI AD. (more…)
Oleh pengembangnya jenis senjata strategis ini disebut sebagai loitering rocket (rocket-assisted glide bomb), namun karena kemampuannya menggabungkan kebisaan antara drone/UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dan rudal, maka WS-43 juga populer dengan label Attack Cruise Missile. Yang jadi menarik perhatian adalah rudal serang berkemampuan jelajah ini baru saja merampungkan tahapan uji coba. Meski belum masuk masa produksi, kabarnya selain didapuk untuk militer Cina, WS-43 sudah dilirik oleh Pakistan dan Cina. Indonesia pun sudah ditawari rudal canggih ini. (more…)
1.550 unit rudal tentu jumlah yang sangat banyak untuk ukuran militer Indonesia. Boleh jadi dari aspek logistik, angka tersebut menjadi jumlah rudal terbanyak yang ada di Indonesia sampai saat ini. Rudal yang dimaksud tak lain adalah SA-7 Strela, atau lebih dikenal setelah dimodifikasi Litbang TNI AL menjadi AL-1M. Berangkat dari stok rudal yang ‘melimpah,’ menjadikan sosok rudal MANPADS (Man Portable Air Defence System) ini masih terus dikaryakan oleh TNI AL. (more…)