
Beriev A-50, sepertinya menjadi pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C)/AWACS pertama yang mengalami kerusakan dalam laga perang Ukraina – Rusia. Seperti dilaporkan media internasional, sebuah A-50 AEW&C Rusia rusak cukup serius akibat serangan drone di pangkalan udara Machulishchy di Belarusia, dalam insiden yang disebutkan terjadi pada Minggu malam. (more…)

Bagi Indonesia, memiliki pesawat intai dengan kemampuan AEW&C sepertinya masih merupakan jalan panjang yang belum jelas bagaimana akhirnya, padahal rencana akuisisi pesawat AEW&C sejatinya telah tertuang dalam MEF (Minimum Essential Force) II 2015-2019. Lain dengan Indonesia yang masih berencana untuk punya, maka lain halnya dengan Australia, negara benua di selatan Indonesia ini malahan sudah mencanangkan untuk mengganti Boeing E-7A Wedgetail AWACS (Airborne Early Warning and Control System). (more…)

Meski sempat dibuat patah hati, lantaran batal mendapatkan radar EL/W-2090 Phalcon dari Israel, rupanya tak menyurutkan langkah Cina untuk mengembangkan beragam varian pesawat intai bergenre AEW&C (Airborne Early Warning & Control). Setelah kabar terbaru yang menyebut pesawat AEW&C untuk pengoperasian dari kapal induk, Xian KJ-600 telah terbang perdana, maka ad kabar baru lagi seputar pesawat AEW&C, dimana pesawat AEW&C milik Cina dikabarkan telah mempunyai kemampuan air refueling. (more…)

AL Cina menyadari sepenuhnya, bahwa untuk mendongkrak kemampuan armada jet tempur dari kapal induk, sangat diperlukan pesawat intai Airborne Early Warning and Control (AEW&C). Tanpa adanya pesawat AEW&C, maka kemampuan deteksi dan peringatan dini bagi unsur kapal induk menjadi begitu rentan dan terbatas. Dalam proyek serba cepat, kabarnya prototipe Xian KJ-600 kini telah terbang perdana. Namun, untuk bisa beroperasi dari kapal induk, faktanya masih butuh waktu panjang, mengingat KJ-600 tidak dapat lepas landas dengan teknik ski jump. (more…)

Dalam mendukung operasi militernya, Cina sejak telah menguasai teknologi pesawat intai Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dengan model antena rotodeome dan antena tegak. Namun apa yang tersaji saat ini adalah pesawat AEW&C untuk kebutuhan angkatan udara, sementara AL Cina yang kini telah mengoperasikan dua kapal induk, sejauh ini belum mendapatkan berkah kemampuan pesawat AEW&C. (more…)

Dengan teritori yang begitu terbatas, bagi Singapura tak ada pilihan selain menerapkan strategi defensif aktif dalam menggelar sistem pertahanan udara. Setiap ancaman harus sebisa mungkin dinetralisir sebelum menjangkau ruang udara Negeri Pulau tersebut. Strategi pertahanan yang boleh dibilang mirip dengan Israel, yang ‘kebetulan’ juga berstatus sebagai mitra erat industri militer Singapura. (more…)

Bisa dibilang Boeing adalah manufaktur pesawat yang beruntung, di segmen pesawat komersial, Ia masih jadi raja. Mengandalkan basis pesawat komersial, Boeing juga sukses menelurkan beberapa pesawat intai maritim dan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control System) yang paling laris di dunia. TNI AU pun sampai saat ini masih setia menggunakan Boeing 737 200 yang dilengkapi radar SLAMMR (Side Looking Airborne Modular Multi Mission Radar) buatan Motorola untuk meronda lautan NKRI.
(more…)

Pasar pesawat intai maritim di Indonesia masih terbuka lebar, khususnya sebagai calon pengganti Boeing 737 Surveillance Patmar (Patroli Maritim) Skadron Udara 5 TNI AU yang kondang dengan radar SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar). Mengingat tiga unit Boeing 737 Patmar TNI AU sudah digunakan sejak tahun 1982, maka dirasa perlu untuk mengganti sistem radar airborne yang mumpuni berbekal teknologi AEW&C (Airborne Early Warning & Control) terbaru. (more…)