
Kabar yang sebelumnya beredar adalah meriam Teevra 40 mm L70 Naval Gun bakal dipasang pada dua unit LST (Landing Ship Tank) Teluk Bintuni class, namun penampakan yang lebih dulu terlihat, meriam buatan India ini justru sudah terpasang pada haluan kapal Patroli Cepat (PC)-60, KRI Tuna 876 dan KRI Marlin 877. (more…)

Pada 28 Februari 2025, Hanwha Defense Australia telah mengirimkan batch pertama self propelled howitzer (SPH) AS9 Huntsman ke Angkatan Darat Australia (Royal Australian Army). Momen upacara pengiriman berlangsung di Hanwha Armoured Vehicle Center of Excellence (H-ACE) di Avalon, lokasi di mana Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Richard Marles MP menghadiri acara penyerahan tersebut. (more…)

Selang dua hari dari postingan kami tentang foto korvet KRI Bung Hatta 370, maka pada hari Kamis, 27 Februari 2025, KRI Bung Hatta 370 resmi diluncurkan oleh PT Karimun Anugrah Sejati (KAS) dengan dihadiri KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali. Rencannya setelah komisioning, korvet ini akan berdinas di bawah jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada II. (more…)

Jika ingin mengetahui kinerja alutsista, maka paling ideal adalah melihat kemampuannya di medan perang, bahkan jika memungkinkan memantau penggunaan senjata tersebut sampai batas maksimal. Dan untuk yang satu ini, rupanya TNI AD tidak salah pilih dengan mengakuisisi self propelled howitzer CAESAR 6×6 buatan Perancis, pasalnya alutsista armed ini disebut punya kinerja tempur yang memuaskan. (more…)

Sejak era MEF (Minimum Essential Force) tahap I, pengadaan alutsista di lini artileri medan TNI AD mendapat perhatian serius dari pemerintah. Lebih mengerucut lagi pada hadirnya SPH (Self Propelled Howitzer) jenis TRF-1 CAESAR kaliber 155 mm buatan Nexter GIAT, Perancis. Kemhan pun tak ‘pelit,’ 37 unit CAESAR resmi didatangkan ke Indonesia untuk memperkuat dua batalyon armed (artileri medan).
(more…)

Indonesia tidak sendiri dalam mengoperasikan alutsista hanud era Soviet. Selain meriam S-60 kaliber 57 mm, ada kesamaan antara Indonesia dan Vietnam dalam mengoperasikan meriam hanud 61-K (M1939) kaliber 37 mm. Di Indonesia, meriam hanud 61-K (M1939) masih dioperasikan Batayon Arhanud Korps Marinir TNI AL. (more…)

Lantaran punya efek hentakan (tolak balik) yang terbilang kuat, maka lazimnya self propelled howitzer atau howitzer swagerak dipasang pada platform kendaraan berat, seperti dari basis heavy truck atau tank. Sekalipun ada yang menggunakan platform rantis model jip 4×4, itu pun dibatasi pada adopsi kaliber 105 mm. Namun, Angkatan Darat Ethiopia melakukan modifikasi yang terbilang kontroversial. (more…)

Setelah sebelumnya dihadirkan dalam varian roda rantai (SH16) dan varian roda ban 6×6 dalam platform heavy truck, North Industries Group Corporation Limited (Norinco) pada Zhuhai Airshow 2024 kembali memperkenalkan jenis self propelled (swagerak) howitzer dengan turret (kubah) tanpa awak. Inovasi terbaru ini mengadopsi sasis ranpur (kendaran tempur) roda ban VN-23 8×8 yang juga produksi Norinco. (more…)

Selain Leonardo (Otobreda) 127/64 pada haluan yang menjadi meriam utama, pada dua unit OPV (Offshore Patrol Vessel) rasa frigat Pattugliatore Polivante d’Altura (PPA) Paolo Thaon di Revel class, yang diakuisisi TNI AL, juga tedapat senjata di katergori meriam lainnya, yang dimaksud adalah satu unit Leonardo 76 mm/62 Strales Sovraponte anti-aircraft gun, yang ditempatkan pada posisi di atas hanggar helikopter menghadap buritan. (more…)

Diproyeksi sebagai kapal kombatan terbesar dan tercanggih di Asia Tenggara, Multi-Role Combat Vessel (MRCV) Angkatan Laut Singapura (RSN) yang akan meluncur di tahun 2028 ini akan dibekali dengan racikan persenjataan papan atas yang berharga mahal. Selain rudal hanud jarak sedang dan jauh VL Mica NG/Aster B1 NT dan rudal anti kapal Blue Spear, menarik perhatian adalah MRCV bakal menjadi kapal perang pertama di kawasan ini yang dibekali meriam Leonardo 76/62 mm naval gun dalam varian Strales. (more…)