Dengan keterbatasan peralatan tempur, maka ‘kawin silang’ antar dua jenis alutsista lazim dilakukan oleh Rusia dan Ukraina di perang yang berkepanjangan. Namun ada yang unik dilakukan Ukraina, yakni memasangkan kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) ZU-23-2 kaliber 23 mm di ranpur APC M113. Meski secara prinsipi sederdana, tapi jarang ada ranpur asal Barat, terlebih hasil donasi dari Belgia dipasangkan senjata berstandar Soviet oleh Ukraina. (more…)
Pasca invasi Rusia ke Ukraina, Swedia telah melakukan kebijakan strategis terkait pertahanan, selain resmi bergabung sebagai negara anggota NATO, pengadaan alutsista pun digenjot besar-besaran, terutama yang terkait aspek keunggulan udara, sistem pertahanan pantai dan pertahanan udara (hanud). Namun, belum terdengar langkah signifikan di matra daratnya, terkhusus pada elemen Main Battle Tank (MBT). (more…)
Meski Rusia tak menyatakan mundur dari Suriah, namun kehadiran militer Rusia telah dikurangi drastis pasca tumbangnya rezim Bashar al-Assad, yang atas pertimbangan geopolitik, kemungkinan Rusia akan bergeser pangkalan udara (Lanud) Al Khadim di Libya, yaitu untuk mempertankan kepentingannya di Mediterania dan Afrika Utara. (more…)
Perang yang berkepanjangan sudah barang tentu membutuhkan ketersediaan biaya besar, yang pada unit tempur terdepan hal ini mungkin harus dimaknai dengan improvisasi pada banyak hal. Salah satunya adalah improvisasi pada lapisan proteksi pada kendaraan tempur (ranpur) dan kendaraan taktis (rantis), termasuk dalam melanjutkan penggunaan lapisan pelindung balok kayu (wooden armor). (more…)
Perang di Ukraina secara langsung membawa pengaruh pada kebangkitan konsep tank ringan (light tank). Hal ini diungkapkan Centre for Analysis of World Arms Trade (CAWAT) – lembaga penelitian, informasi, dan penerbitan non-pemerintah (think tank) yang berdiri di Moskow, Rusia. Bukan hanya menjadi andalan di negara berkembang, negara adidaya seperti Amerika Serikat, Cina dan Rusia, telah mengembangkan varian terbaru di segmen tank ringan. (more…)
Rampasan alutsista lawan sudah barang tentu bukan sekedar untuk dipamerkan sebagai trofi kemenangan, lebih dari itu, persenjataan rampasan yang dianggap canggih akan berharga untuk dipelajari detailnya. Setelah sebelumnya Main Battle Tank (MBT) Leopard 2A6 yang dikirim ke pabrik tank Uralvagonzavod, kini MBT M1A1 Abrams Situational Awareness (SA) buatan AS yang akan menjalani reverse engineering. (more…)
Meski Irak telah bergabung dalam klub negara pengguna helikopter angkut sedang H225M Caracal, yakni dengan pemesanan 12 unit H225M dari Airbus Helicopters. Namun, ada kabar bahwa Irak juga memesan KUH-1 Surion, jenis helikopter yang spesifikasinya mirip dengan H225M. Dalam hal ini, Irak menjadi pembeli ekspor perdana helikopter buatan Korea Selatan tersebut. (more…)
Sebagai negara yang doyan berkonflik, Israel membutuhkan ranpur (kendaraan tempur) yang memadai dalam aspek kualitas, namun juga cukup dalam kuantitas. Untuk itu adanya ranpur lapis baja angkut personel (APC) M113 dirasa belum cukup. Sebelum hadir APC Namer, Angkatan Darat Israel mengoperasikan APC yang disebut “Achzarit”. (more…)
Seperti halnya Exocet dan Harpoon, rudal anti kapal (Robotsystem-15) RBS-15 besutan Saab dapat diluncurkan dari multi platform – kapal permukaan, jet tempur dan sebagai rudal anti kapal pesisir atau mobile coastal defense missile system. Dan untuk yang disebut terakhir, ada kabar pembaruan yang dilakukan oleh militer Swedia. (more…)
Setelah diluncurkan pada bulan Mei lalu, Kementerian Pertahanan (Kemhan) Inggris pada 23 Desember 2024, mengumumkan suksesnya uji coba pertama kali Low Cost – Radio Frequency Directed Energy Weapon (RFDEW) dengan ‘menembak’ jatuh drone. Uji coba dilakukan personel Angkatan Darat Inggris (Royal Army), Low Cost RFDEW menjatuhkan target drone menggunakan energi terarah dari frekuensi radio. (more…)