Bukan Sekadar Gimmick Marketing: Inilah Perbedaan Taktis antara Jet Tempur ‘Multirole’ dan ‘Omnirole’ 

Netizen yang budiman tentu sering mendengar istilah jet tempur multirole atau multiperan. Istilah ini melekat erat pada jet tempur legendaris seperti F-16 Fighting Falcon besutan Amerika Serikat. Namun, saat pabrikan dirgantara Perancis, Dassault Aviation, merilis jet tempur andalan mereka, Rafale, mereka menolak label tersebut dan memperkenalkan kosakata baru yang terdengar asing bagi sebagian orang, yakni “Omnirole”.

Baca juga: Dalam Kecepatan Supersonik, Jet Tempur Rafale Sukses Uji Tembak Rudal Udara ke Udara MICA NG

Bagi masyarakat awam, perbedaan kedua istilah ini sering kali dianggap sebatas trik pemasaran atau jargon bahasa semata. Padahal, dalam doktrin pertempuran udara riil, keduanya mencerminkan lompatan kapasitas operasional dan filosofi desain yang sangat kontras di medan perang.

Untuk memahami letak perbedaannya, kita harus melihat bagaimana sebuah jet tempur multirole konvensional seperti F-16 beroperasi. Label multirole berarti pesawat tersebut memang memiliki kemampuan bawaan untuk menjalankan berbagai jenis misi yang berbeda, seperti pertempuran udara-ke-udara (air-to-air), serangan darat (air-to-ground), hingga pengintaian taktis.

Namun, kelemahan utama dari doktrin multirole tradisional adalah pesawat ini umumnya tidak dapat menjalankan peran-peran tersebut secara bersamaan dalam satu sorti penerbangan tunggal. Sebelum lepas landas, kru darat di pangkalan harus menentukan fokus misi pesawat hari itu guna menyesuaikan konfigurasi senjata dan perangkat sensor yang digotong di bawah sayap.

Keterbatasan taktis jet tempur multirole akan langsung terasa ketika situasi di medan tempur berubah secara dinamis dan tidak terduga. Sebagai skenario contoh, jika sepasang jet tempur F-16 sedang terbang dalam konfigurasi berat untuk menjalankan misi pengeboman bunker di darat, lalu tiba-tiba mereka disergap oleh kawanan jet tempur interseptor musuh di udara, pilot F-16 dihadapkan pada pilihan sulit.

Demi mempertahankan diri dan mengembalikan kelincahan pesawat agar sanggup melakukan duel udara jarak dekat (dogfight), pilot biasanya terpaksa harus membuang (jettison) bom-bom pintar mereka ke tanah sebelum misi utama mereka selesai. Dengan kata lain, jet tempur multirole bertindak seperti seorang atlet yang serba bisa, namun harus berganti kostum dan sepatu terlebih dahulu di kamar ganti sebelum berpindah ke cabang olahraga lain.

Radar AESA Murad (Turki) Berpotensi Tandingi AN/APG-83 SABR untuk Upgrade F-16 Viper

Di sinilah letak keunggulan radikal dari konsep Omnirole yang diusung oleh Dassault Rafale. Filosofi Omnirole mengacu pada kemampuan mutlak sebuah pesawat untuk melaksanakan berbagai peran misi yang berbeda secara simultan atau bersamaan dalam satu sorti penerbangan tunggal, tanpa memerlukan kompromi konfigurasi senjata.

Filosofi itu didukung oleh cetak biru Rafale yang memiliki 14 titik cantelan persenjataan dengan kapasitas gotong muatan ekstrem menembus 9,5 ton. Hasilnya, dalam satu kali terbang, Rafale sanggup menggendong rudal jelajah strategis, bom pintar berpemandu laser, rudal anti kapal Exocet, sekaligus deretan rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor secara bersamaan di bawah tubuhnya.

Radar AESA Murad (Turki) Berpotensi Tandingi AN/APG-83 SABR untuk Upgrade F-16 Viper

Kehebatan sejati dari platform Omnirole ini dikendalikan oleh otak elektronik berupa sistem fusi data (data fusion) dan radar AESA RBE2 generasi baru. Saat menjalankan misi, sistem komputer Rafale tidak mengharuskan pilot berpindah mode radar secara manual dari mode darat ke mode udara.

Radar AESA pesawat dapat memetakan target di daratan sekaligus mengunci ancaman jet tempur musuh di udara pada detik yang sama. Jika skenario penyergapan darurat terjadi di tengah jalan, pilot Rafale tidak perlu membuang muatan bom daratnya. Pilot dapat meluncurkan rudal Meteor untuk merontokkan jet musuh di langit, lalu beberapa detik kemudian tetap meluncurkan bom presisi ke target daratan secara mulus.

Pada akhirnya, jika jet tempur multirole memerlukan penyesuaian pangkalan yang kaku, maka jet tempur Omnirole hadir sebagai “Swiss Army Knife” sejati yang siap merespons segala bentuk ancaman di darat, laut, dan udara secara instan tanpa jeda. (Gilang Perdana)

Ching Kuo Indigenous Defense Fighter (IDF): Jet Tempur Multirole ‘Fly By Wire’ Rancangan dan Produksi Taiwan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *