Rusia Luncurkan Kanon Kontra Drone ZAK-30 Tsitadel dengan Amunisi Airburst

Konglomerat pertahanan negara Rusia, Rostec, resmi meluncurkan sistem pertahanan udara jarak dekat (VSHORAD) teranyar mereka yang diberi nama ZAK-30 Tsitadel (Citadel) dalam ajang First International Security Forum. Kehadiran sistem kanon otomatis (autocannon) kaliber 30 mm ini dirancang khusus untuk mematahkan dominasi ancaman drone, baik tipe fixed-wing maupun multicopter (quadcopter), yang kerap menyasar instalasi militer dan infrastruktur strategis statis selama 24 jam penuh.

Baca juga: GSh-30K 30 mm: “Si Penghantar Maut” Kanon Internal Helikopter Serang Mi-35P

Rostec mengklaim bahwa performa serta efektivitas tempur sistem Tsitadel ini telah teruji dan terkonfirmasi langsung di medan pertempuran nyata (real combat conditions), sebuah klaim yang merujuk pada pengalaman berharga militer Beruang Merah dalam perang yang masih berlangsung di Ukraina.

Inovasi teknis paling radikal yang diusung oleh ZAK-30 Tsitadel bukan terletak pada unit laras kanonnya, melainkan pada adopsi teknologi amunisinya. Selama ini, menembak jatuh drone kecil menggunakan peluru kanon konvensional dinilai sangat tidak efisien dan membuang banyak logistik karena target bergerak cepat, lincah, dan memiliki penampang radar yang mini. Tsitadel menjawab problem akut tersebut dengan menembakkan amunisi pintar berpenyulut jarak dekat yang dapat diprogram (programmable proximity-fuzed shrapnel shells).

Sistem pemandu tembakan (fire control) pada Tsitadel akan mengalkulasi titik intersepsi optimal berdasarkan lintasan terbang drone musuh, lalu memprogram setiap peluru secara nirkabel sesaat sebelum melesat keluar laras agar meledak tepat di jalur terbang target. Hasilnya, peluru akan menciptakan awan pecahan fragmen (shrapnel) mematikan yang merontokkan bodi drone tanpa perlu hantaman langsung (direct hit), sehingga drastis menghemat konsumsi jumlah peluru per satu kill.

Guna mendukung keakuratan kalkulasi amunisi pintar tersebut, ZAK-30 Tsitadel dibekali perangkat sensor saluran ganda (dual-channel sensor package). Sistem ini mengombinasikan perangkat elektro-optik yang beroperasi di gelombang visual serta inframerah (IR) dengan sistem radar taktis. Saluran inframerah memegang peran sangat krusial untuk melacak thermal signature (jejak panas) dari motor penggerak dan komponen elektronik drone kerdil, bahkan ketika pantulan radar (radar cross-section) drone tersebut terlalu lemah atau kabur akibat gangguan cuaca buruk atau malam hari.

Berdasarkan spesifikasi resmi yang dirilis, Tsitadel memiliki jarak deteksi hingga 2.000 meter untuk drone fixed-wing dan 1.000 meter untuk tipe multicopter. Sementara jarak tembak efektifnya berkisar antara 1.000 hingga 1.300 meter dengan kesiapan amunisi sebanyak 250 butir peluru di dalam magasinnya.

Oerlikon Skyshield 35mm: Perisai Reaksi Cepat Pangkalan Udara TNI AU

Dari segi cakupan geometri tembakan, kubah Tsitadel memiliki sudut elevasi vertikal dari minus 10 hingga plus 60 derajat, memungkinkannya meladeni serangan drone dari sudut rendah hingga manuver menukik vertikal dari atas langit. Sementara untuk sudut horizontalnya mencakup plus-minus 150 derajat dari garis tengah kendaraan, yang berarti rantis ini tidak memiliki cakupan penuh 360 derajat dari posisi statisnya.

Rostec menekankan bahwa seluruh siklus operasi dari deteksi, pelacakan, hingga eksekusi penghancuran pada Tsitadel telah dibuat sangat otomatis guna mengejar kecepatan serangan drone yang kerap melampaui waktu reaksi manusia.

Dilaporkan berharga sekitar 600 juta rubel atau berkisar di angka US$8 juta, kehadiran ZAK-30 Tsitadel mempertegas doktrin pertahanan udara Rusia yang kini beralih fokus pada sistem hanud otonom berbasis kanon murah, demi menghindari kebangkrutan logistik akibat harus terus-menerus menembakkan rudal hanud berharga mahal untuk menjatuhkan drone murah komersial di garis depan. (Gilang Perdana)

Rheinmetall Kembangkan Munisi Airburst untuk Kanon 30mm di Kapal Perang AL AS

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *