Rusia Gugat Rheinmetall 47 Juta Euro Terkait Kontrak Pusat Latihan Militer Mulino yang Mati Suri

Hubungan geopolitik dan bisnis pertahanan antara Rusia dan Jerman kembali memanas ke ranah hukum. Pemerintah Federasi Rusia melalui Kejaksaan Militer Moskow bersama JSC Garnizon—sebuah perusahaan yang berada langsung di bawah naungan Kementerian Pertahanan Rusia—telah melayangkan gugatan hukum terhadap raksasa produsen senjata asal Jerman, Rheinmetall.
Melalui Pengadilan Arbitrase Moskow, pihak Rusia menuntut pengembalian dana sebesar €47,2 juta (sekitar Rp991,2 miliar) atas dugaan pelanggaran kontrak lama yang telah terbengkalai selama 12 tahun. Gugatan yang sidangnya digelar secara tertutup dari publik ini menuntut pembatalan dan pemutusan resmi atas kontrak pembangunan serta pengadaan fasilitas Pusat Pelatihan Pasukan Darat raksasa yang berlokasi di Mulino, sebuah wilayah distrik militer strategis yang terletak di Oblast Nizhny Novgorod, Federasi Rusia.
Gugatan ini berakar dari kesepakatan bernilai besar yang ditandatangani pada tahun 2011 silam antara Rheinmetall dan Oboronservice, perusahaan pertahanan milik Rusia sebelum berganti nama. Dalam cetak biru kontrak tersebut, Rheinmetall diwajibkan untuk memasok sistem pelatihan tempur langsung (live training system), layanan rekayasa sistem, serta kontrol kualitas mutakhir, dengan target penyelesaian pusat latihan di Mulino pada pertengahan tahun 2014.
Kementerian Pertahanan Rusia saat itu bahkan sangat berambisi untuk memborong sistem simulator tembak berbasis teknologi laser buatan Jerman guna menggenjot kemampuan menembak taktis pasukan infanteri mereka. Namun, proyek ambisius ini mendadak runtuh total setelah Rusia melakukan aneksasi dan pendudukan ilegal atas wilayah Krimea milik Ukraina pada tahun 2014.

Merespons pelanggaran hukum internasional tersebut, Pemerintah Federal Jerman langsung mengambil tindakan tegas dengan mencabut izin ekspor teknologi pertahanan Rheinmetall ke Rusia dan melarang total keterlibatan perusahaan tersebut dalam merampungkan fasilitas militer di Mulino.
Langkah pemutusan sepihak ini pada dasarnya menempatkan Jerman—khususnya Rheinmetall—dalam posisi yang sangat pelik dan secara finansial tampak dirugikan pada fase awal, mengingat mereka telah menginvestasikan banyak sumber daya, waktu, dan teknologi untuk menyiapkan sistem mutakhir tersebut hingga hampir rampung.
333rd Combat Training Center built by Rheinmetall in Mulino, Russia.
Rheinmetall sold simulators and provided training to the Russian military through at least 2019.
Even German officers trained Russians.
30,000 Russians/year train on Rheinmetall simulators to invade Ukraine. pic.twitter.com/sCjnzI77tf— Igor Sushko (@igorsushko) March 29, 2026
Terkait masalah kompensasi atau ganti rugi atas pembatalan izin ekspor akibat sanksi pemerintah ini, hukum domestik Jerman umumnya memberikan ruang bagi perusahaan nasional untuk mengajukan klaim jaminan ekspor (Hermes Cover) atau kompensasi kepada pemerintah jika kerugian terjadi akibat keputusan politik luar negeri negara.
Di sisi lain, Rusia sebelumnya juga sudah pernah mencoba menyeret Rheinmetall ke pengadilan di Swiss untuk menuntut ganti rugi serupa, namun pengadilan Swiss secara tegas menolak seluruh klaim yang diajukan oleh Kementerian Pertahanan Rusia tersebut karena memandang pembatalan kontrak terjadi akibat keadaan darat paksa (force majeure) sanksi internasional.
Kini, dengan mengajukan gugatan baru di dalam sistem peradilan mereka sendiri di Moskow, Rusia mencoba mencari celah hukum domestik untuk menyita aset atau melegitimasi klaim finansial mereka terhadap Rheinmetall. Kendati demikian, para ahli hukum Rusia sendiri secara terbuka mengakui bahwa gugatan ini hampir mustahil untuk menghasilkan eksekusi nyata di lapangan.
Dalam praktik hukum internasional saat ini, sangat tidak mungkin bagi Rusia untuk menarik atau mencairkan uang sepeser pun dari rekening raksasa pertahanan Jerman tersebut, mengingat sanksi ekonomi yang ketat dan putusnya hubungan perbankan antara Rusia dan negara-negara Barat. (Bayu Pamungkas)
Siap Gantikan Land Rover Inggris, Rheinmetall Sodorkan Shadow Wolf Berdarah ‘Caracal’ NATO
Related Posts
-
GSh-30K 30 mm: “Si Penghantar Maut” Kanon Internal Helikopter Serang Mi-35P
7 Comments | Sep 17, 2014 -
Kohanudnas Segera Operasikan Weibel Portable Radar
10 Comments | Jan 13, 2015 -
Memukau Aero India 2025, Sukhoi Su-57 Felon Lepas Landas dari Runway Pendek Dalam Waktu 10 Detik
No Comments | Feb 10, 2025 -
Setelah Chengdu J-20S, Sukhoi Su-57D Jadi Jet Tempur Stealth Kedua yang Dirancang dengan Tandem Seat
1 Comment | May 19, 2026


