Eks Pakta Warsawa Pertama yang Adopsi Jet Siluman: Tiga Unit F-35A “Husarz” Perdana Resmi Mendarat di Polandia

Sebuah tonggak sejarah baru dalam konformasi kekuatan udara di kawasan Eropa Timur resmi tercipta setelah menanti selama enam tahun sejak kontrak ditandatangani. Angkatan Udara Polandia akhirnya resmi menerima batch pertama jet tempur generasi kelima F-35A Lightning II buatan Lockheed Martin yang di dalam negeri secara lokal diberi nama resmi “Husarz”.
Langkah ini sekaligus menobatkan Polandia sebagai negara eks anggota Pakta Warsawa pertama yang mengoperasikan jet tempur siluman (stealth) paling canggih dalam arsenal Barat, memperkuat taring pertahanannya di garis depan NATO. Berdasarkan laporan resmi Kementerian Pertahanan Polandia,, tiga unit F-35A perdana telah mendarat dengan aman di Pangkalan Udara Taktis ke-32 di Łask, Polandia Tengah, setelah menempuh penerbangan jarak jauh langsung dari fasilitas produksi di Amerika Serikat.
Kehadiran trio pesawat siluman ini merupakan bagian dari kontrak Foreign Military Sales (FMS) bernilai jumbo sebesar US$4,6 miliar yang ditandatangani Polandia pada akhir Januari 2020 lalu untuk pengadaan total 32 unit F-35A. Meskipun unit perdana pesawat sebenarnya sudah diserahterimakan secara seremonial pada musim gugur tahun 2024, jet-jet tempur tersebut sengaja tetap ditinggal di pangkalan militer AS bersama beberapa unit lainnya untuk mematangkan program pelatihan intensif bagi para pilot dan kru teknisi darat Polandia.
Pengiriman armada F-35A Husarz ke Polandia direncanakan akan terus berjalan secara bertahap hingga tahun 2029 mendatang, atau genap sembilan tahun sejak nota kesepakatan awal disepakati. Panjangnya rentang waktu antara penandatanganan kontrak hingga pengiriman penuh ini memperlihatkan betapa rumit dan ketatnya antrean produksi jet generasi kelima di pasar global, sebuah fenomena inden panjang yang diperkirakan akan kian membengkak bagi negara pemesan berikutnya, seperti Rumania yang diproyeksikan baru akan menerima jet F-35 mereka pada dekade 2030-an.
Poland received its first three F-35A “Husarz” fighter jets at Łask Air Base, making it the first NATO country on the alliance’s eastern flank to operate fifth-generation stealth fighters.
Poland has ordered 32 F-35As in a $4.6 billion deal, with full delivery expected by 2030. pic.twitter.com/LmOIA9nYTZ
— Clash Report (@clashreport) May 23, 2026
🇵🇱🇺🇸 Poland announced the arrival of the first three American-made Lockheed Martin F-35 Lightning II aircraft at Łask Air Base, with further deliveries scheduled through 2029.
Warsaw ordered 32 F-35A fighter jets from Lockheed Martin in 2020 during President Trump’s first term… pic.twitter.com/d4c8sZ22ct
— Visioner (@visionergeo) May 22, 2026
Dari kacamata geopolitik dan taktis, kehadiran F-35A Husarz memberikan Warsawa lompatan kapabilitas yang masif untuk menandingi kekuatan udara Rusia, terutama saat dihadapkan dengan jet tempur superioritas udara utama Kremlin seperti Sukhoi Su-35S Flanker-E maupun jet generasi kelima Su-57 Felon.
Di atas kertas, F-35A Polandia memiliki keunggulan mutlak dalam hal kecanggihan sistem radar AESA, fusi avionik lintas jaringan, serta karakteristik penampang radar yang sangat rendah (low-observable) yang mampu mereduksi efektivitas payung udara pertahanan musuh. Kendati demikian, analis militer mengingatkan bahwa Rusia masih mempertahankan satu keunggulan kunci yang sangat mematikan di segmen pertempuran udara jarak jauh (Beyond Visual Range), yakni rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37M (AA-13 Arrow) yang memiliki klaim jangkauan tembak fantastis hingga mencapai 300 kilometer, sebuah ancaman nyata bagi setiap aset udara NATO di kawasan Baltik.
Ambisi Warsawa untuk mengunci keunggulan udara regional tidak berhenti sekadar pada pengadaan 32 unit F-35A, F-16, jet serang ringan FA-50, atau opsi penambahan jenis jet tempur baru lainnya. Polandia secara aktif dilaporkan tengah menjajaki peluang strategis untuk melompat lebih jauh dengan mencoba bergabung ke dalam proyek pengembangan jet tempur generasi keenam global, GCAP (Global Combat Air Programme), yang dimotori oleh Inggris, Jepang, dan Italia. (Gilang Perdana)


