Urgensi Batalyon Sniper Korps Marinir: “Menimbang Sarung yang Tepat untuk Senjata Tajam”

Rencana TNI AL untuk membentuk Batalyon Sniper di lingkungan Korps Marinir memunculkan niat baik guna meningkatkan kemampuan tempur dan ketepatan operasi, mengingat tidak ada yang meragukan nilai seorang penembak runduk yang terlatih. Namun demikian, setiap pembentukan satuan baru harus mampu menjawab satu pertanyaan dasar mengenai tugas pokok yang melatarbelakanginya.

Baca juga: Denel NTW-20: Senapan Anti Material Taifib Korps Marinir TNI AL

Korps Marinir pada hakikatnya merupakan pasukan pendarat yang memiliki tugas pokok merebut tumpuan pantai dari laut, sehingga ukuran kebutuhan akan keberadaan sniper harus berpijak secara mutlak dari kebutuhan operasi tersebut, bukan semata-mata karena keinginan untuk tampil lebih lengkap.

Dalam pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, peran seorang sniper sebenarnya nyata namun sangat sempit dan terukur. Peran tersebut meliputi fase sebelum pendaratan ketika tim kecil menyusup bersama satuan intai untuk mengamati pantai, mencatat posisi musuh, serta mengarahkan tembakan bantuan. Peran berikutnya berlangsung saat pendaratan untuk melumpuhkan sasaran bernilai tinggi seperti pos pengamat, senapan mesin, perwira, serta sniper lawan yang mengancam gelombang pendarat, dilanjutkan dengan tugas menjaga dari ketinggian saat mempertahankan tumpuan pantai sampai pasukan Angkatan Darat mendarat dan melanjutkan serangan.

Setelah tumpuan pantai diserahkan, peran tersebut praktis selesai bersamaan dengan selesainya tugas pokok Marinir, yang menunjukkan bahwa kebutuhan sniper dalam operasi amfibi dihitung dalam skala tim kecil, bukan dalam skala batalyon besar.

Spotter: Ini Dia! Teman Sejati Para Sniper

Di banyak angkatan bersenjata dunia, sniper lazimnya bekerja berpasangan antara penembak dan pengamat yang dihimpun dalam satu peleton dan dilekatkan pada batalyon infanteri atau satuan intai untuk disebar sesuai kebutuhan di lapangan. Korps Marinir TNI AL sejatinya telah memiliki kemampuan dasar ini karena prajurit Intai Amfibi rutin berlatih menembak runduk, termasuk dalam latihan bersama dengan Marinir Amerika Serikat.

Oleh karena itu, kebutuhan mendesak bukanlah membentuk satuan baru, melainkan memperkuat elemen yang telah ada melalui penyediaan senjata yang lebih baik, frekuensi latihan yang lebih sering, serta penempatan tim sniper di setiap batalyon pendarat. Pembentukan satu batalyon sniper yang berarti menghimpun ratusan penembak runduk justru berisiko tidak efektif, sebab jika dalam operasi mereka tetap harus dipecah dan ditempelkan ke satuan lain, yang bertambah hanyalah struktur birokrasi, jabatan, serta beban anggaran tanpa memberikan signifikansi pada peningkatan kemampuan tempur.

AI AX308: Salah Satu Senapan Runduk Andalan Detasemen Jalamangkara (Denjaka)

Kekhawatiran ini semakin menguat karena rencana tersebut mengemuka bersamaan dengan apresiasi atas operasi melawan kelompok bersenjata di daratan Papua, sehingga wajar jika muncul dugaan bahwa kebutuhan sniper lahir dari orientasi operasi darat murni dan bukan dari kebutuhan taktis operasi pendaratan. Di sinilah letak bahayanya, mengingat operasi darat jangka panjang merupakan ranah tanggung jawab utama Angkatan Darat berdasarkan pembagian tugas matra yang diatur oleh undang-undang.

Winchester M-70: Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara

Apabila Korps Marinir membentuk satuan khusus untuk menangani pekerjaan di darat, tumpang tindih kewenangan akan sulit dihindarkan karena dua matra mengerjakan hal yang sama dengan jalur komando serta anggaran yang terpisah. Analogi sederhananya, sniper diibaratkan sebagai senjata tajam yang sangat berguna apabila disimpan di dalam sarung yang tepat, namun justru akan melukai pemiliknya jika dimasukkan ke sarung yang salah, membuat Marinir kehilangan fokus pada kodrat utamanya sementara Angkatan Darat merasa wilayah teritorialnya dimasuki.

Agar kapabilitas penembak runduk benar-benar memperkuat Korps Marinir secara proporsional, terdapat tiga langkah strategis yang jauh lebih tepat untuk ditempuh daripada mendirikan batalyon baru. Pertama, memperkuat tim sniper di satuan yang sudah ada, khususnya di satuan intai dan setiap batalyon pendarat, didukung oleh perangkat senjata, optik, dan latihan dengan standar terbaik.

Truvelo .50: Long Range Sniper Rifle Intai Amfibi Marinir TNI AL

Kedua, mengukur jumlah personel berdasarkan kebutuhan riil operasi amfibi, yakni menghitung berapa tim yang benar-benar diperlukan untuk mendukung satu gelombang pendaratan. Ketiga, mengarahkan alokasi anggaran secara optimal ke sektor pengadaan alutsista laut seperti kapal, karena tanpa ketersediaan kapal angkut dan kapal perang yang memadai, kemampuan sniper terbaik sekalipun tidak akan pernah sampai ke garis pantai yang harus direbut.

Marinir yang profesional bukanlah pasukan yang memiliki seluruh jenis satuan di dalam strukturnya, melainkan pasukan yang senantiasa setia pada kodrat aslinya, yakni datang dari laut, merebut pantai, dan menyerahkan daratan kepada pihak yang berhak menjaganya. Oleh Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto (Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis/KABAIS TNI).

SIG 550 Sniper: Senapan Runduk Andalan Korps Marinir di Kaliber 5,56 mm

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *