KRI Sriwijaya 100 (eks ITS Garibaldi): “Menambal Kapal Tua dengan Emas”

Pembicaraan mengenai kapal induk KRI Sriwijaya perlu dimulai dari ruang mesin. Berapa daya yang tersedia, berapa bahan bakar yang diperlukan, dan berapa biaya untuk menyesuaikan kapal tersebut dengan kebutuhan Indonesia? Setelah itu, pembahasannya harus sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kapal ini memperkuat kemampuan yang kita perlukan, atau justru mendorong anggaran dan cara berpikir pertahanan menyesuaikan diri dengan kapal yang telanjur dimiliki?

Baca juga: Ternyata! Italia Pernah Rancang Kapal Induk ITS Garibaldi Jadi Peluncur Satelit Terapung

Pertanyaan tersebut penting apabila Garibaldi akhirnya digunakan terutama untuk bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana—Humanitarian Assistance and Disaster Relief atau HADR—serta operasi helikopter. KSAL telah menjelaskan penggunaan Garibaldi sebagai pangkalan helikopter untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sasaran tugas itu seharusnya menjadi dasar penilaian teknis dan ekonominya.

Empat Turbin dan Biaya Bahan Bakarnya
ITS Garibaldi menggunakan empat turbin gas LM2500 dalam konfigurasi Combined Gas and Gas atau COGAG. Dokumen Italia mencatat daya propulsi keseluruhan sekitar 60.400 kW atau 60,4 MW, sementara dokumen pemeliharaan Angkatan Laut Italia mengonfirmasi penggunaan turbin LM2500.

Tenaga turbin diteruskan melalui sistem transmisi menuju dua poros baling-baling. Empat mesin menyediakan kemampuan daya besar, tetapi tidak berarti semuanya selalu bekerja pada daya maksimum.

Catatan Mantan KKM TNI AL: KRI Sriwijaya 100 dan Tantangan Biaya BBM Empat Turbin Gas Eks ITS Garibaldi

Istilah “turbin gas” menunjuk jenis mesin, bukan keharusan menggunakan bahan bakar berbentuk gas. Perhitungan berikut menggunakan bahan bakar cair dengan asumsi harga solar Rp15.000 per liter. Rumus dasarnya: Konsumsi BBM = daya yang digunakan × konsumsi spesifik ÷ massa jenis BBM. General Electric (GE) mencantumkan konsumsi spesifik LM2500 sekitar 0,227 kilogram per kWh pada kondisi acuan ISO. Ini data pabrikan pada kondisi tertentu, bukan hasil pengukuran mesin Garibaldi saat ini.

Dengan daya 60.400 kW dan asumsi massa jenis bahan bakar 0,84 kilogram per liter:

60.400 x 0,227 : 0,84 = 16.322 liter per jam.

Pada harga solar Rp15.000 per liter:

16.322 x Rp15.000 = Rp245 juta per jam.

Pada penggunaan separuh daya total, apabila konsumsi spesifik sementara dianggap sama, hasilnya sekitar 8.161 liter atau Rp122,4 juta per jam. Angka tersebut harus dibaca secara tepat. Konsumsi spesifik berubah mengikuti beban, kondisi mesin, dan jumlah turbin yang dioperasikan.

Memakai angka efisiensi acuan pada beban rendah dapat meremehkan konsumsi sebenarnya. Perhitungan ini juga belum memasukkan generator listrik, bahan bakar helikopter, dan kebutuhan operasi lainnya. Jadi, Rp122,4 juta atau Rp245 juta per jam bukan biaya tetap setiap kali kapal berlayar, melainkan ilustrasi berdasarkan asumsi daya dan konsumsi spesifik.

Untuk memperlihatkan skalanya, 168 jam operasi terus-menerus pada skenario separuh daya tersebut menghasilkan biaya BBM propulsi sekitar Rp20,6 miliar. Ini bukan perkiraan untuk setiap penugasan seminggu, karena kapal dapat menggunakan kecepatan berbeda, berhenti, atau berlabuh.

Pertanyaan teknisnya adalah: seberapa sering daya besar tersebut benar-benar dibutuhkan untuk HADR dan operasi helikopter? Kecepatan tiba di daerah bencana memang bernilai, namun manfaatnya harus ditimbang terhadap biaya, jangkauan, muatan bantuan, dan lamanya kapal dapat bertahan menjalankan tugas.

Refleksi HUT TNI Ke-81: Mengapa KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi) Berisiko Menjadi ‘Dilema Strategis’ di Laut Indonesia

Mengganti Mesin Tidak sama dengan Memperbarui Seluruh Kapal
Apabila instalasi penggeraknya dinilai kurang sesuai, muncul gagasan mengganti mesin. Ada dua pekerjaan berbeda: mengganti turbin dengan turbin baru atau mengubah sistem propulsi menjadi diesel. Sebagai pembanding terbuka, pemerintah Amerika Serikat pada Maret 2023 mengumumkan kontrak US$16,748 juta untuk satu LM2500+G4 beserta sistem bantu, bagi fasilitas pengujian darat DDG(X).

Varian dan lingkup pekerjaannya berbeda dari penggantian mesin Garibaldi. Jika nilai pembanding itu dikalikan empat: 4 x $16,748 juta = $66,99 juta. Dengan kurs ilustrasi Rp16.000 per dolar, nilainya sekitar Rp1,07 triliun.

Angka tersebut belum merupakan anggaran penggantian mesin Garibaldi. Pembongkaran, pemasangan, penyesuaian instalasi, integrasi kontrol, pengujian, dan pekerjaan terkait masih harus dihitung. Sebagai uji sensitivitas semata, tambahan pekerjaan sebesar 30–100 persen terhadap nilai empat paket pembanding menghasilkan total sekitar Rp1,39–2,14 triliun.

Mengganti turbin tidak otomatis memperbarui gearbox, poros, fondasi, kabel, perpipaan, maupun struktur kapal. Jika dipilih konversi diesel, dimensinya, beratnya, putarannya, torsinya, dan kebutuhannya terhadap sistem pendukung harus dihitung ulang. Harga membeli mesin tidak mewakili harga mengubah seluruh sistem propulsi.

Mengenal Perangkat Radar dan Sensor Utama di ‘Island’ Kapal Induk KRI Sriwijaya (ITS Garibaldi)

Menambal Lubang Dengan Emas
Di sinilah persoalan kapal tua menjadi lebih serius. Memperbarui kapal tua dapat menyerupai menambal lubang dengan emas: bahan penambalnya mahal, sementara kondisi bagian di sekeliling lubang belum tentu sepenuhnya diketahui. Persoalannya bukan hanya pekerjaan yang sudah direncanakan, melainkan pekerjaan yang baru terlihat setelah pembongkaran dilakukan. Ketika mesin dilepas dan instalasi dibuka, dapat muncul kebutuhan tambahan yang belum masuk perhitungan.

Itu adalah gambaran risiko, bukan pernyataan bahwa kerusakan tersebut telah ditemukan pada Garibaldi. Justru karena kondisi lengkapnya belum dapat diasumsikan, risiko itu harus diperhitungkan sebelum negara berkomitmen mengeluarkan uang besar. Negara perlu mengetahui biaya pekerjaan yang terlihat sekaligus siapa yang menanggung biaya pekerjaan tambahan yang baru ditemukan.

PT PAL dan Fincantieri Resmi Tandatangani MoU Modernisasi KRI Sriwijaya Eks Giuseppe Garibaldi

Perangkap “Sudah Terlanjur”
Setelah kapal dibongkar dan uang besar dikeluarkan, proyek dapat memasuki point of no return secara anggaran dan kelembagaan. Keputusan berhenti menjadi semakin berat karena kapal berada dalam keadaan belum siap, uang sudah terserap, dan untuk mengembalikannya ke kondisi aman pun mungkin diperlukan biaya tambahan. Lalu muncul alasan yang terus berulang: “Sudah terlanjur dibongkar”, “Mesinnya sudah dibeli”, “Sayang uang yang sudah dikeluarkan”, atau “Tambahkan lagi supaya selesai”.

Dalam keadaan terburuk, sasaran proyek dapat bergeser—semula meningkatkan kemampuan operasi, kemudian sekadar memulihkan kelayakan dasar agar kapal tetap aman mengapung, sementara kemampuan yang dijanjikan belum tercapai. Mengapung bukan ukuran keberhasilan modernisasi. Tanpa lingkup pekerjaan, batas biaya, jadwal, kriteria penerimaan, dan ketentuan penghentian yang tegas, proyek peremajaan berisiko tidak mempunyai ujung yang dapat dipegang.

Dilema Mesin COGAG KRI Sriwijaya: Menakar Opsi Konversi Diesel Demi Pangkas Biaya Operasional Kapal Induk Pertama Indonesia

Kapal baru memiliki titik akhir yang dapat ditetapkan
Pembangunan kapal baru juga dapat mengalami keterlambatan, kenaikan biaya, dan kesalahan pekerjaan, namun pembangunan baru memungkinkan titik akhirnya ditentukan lebih jelas sejak awal: desain disepakati, material ditetapkan, mesin dipilih, kemampuan dirumuskan, tahapan pembangunan dijadwalkan, dan persyaratan penerimaan dituangkan dalam kontrak.

Indonesia mempunyai dasar untuk mengembangkan alternatif tersebut. PT PAL mengonfirmasi sedang mengerjakan LPD sepanjang 163 meter untuk UEA (kontrak IDEX 2023 senilai AED1,5 miliar atau sekitar US$408 juta). Usulan saya adalah mengembangkan desain itu menjadi kapal baru sepanjang sekitar 180 meter (163 meter + 17 meter = 180 meter), mendekati panjang Garibaldi yang sekitar 180,2 meter.

Sasaran perbandingannya adalah kapal baru untuk HADR dan operasi helikopter, dengan kemampuan misi yang sebanding dengan Garibaldi setelah peremajaan. Dengan kapal baru, kebutuhan tersebut dapat disusun sejak awal dan mesin dipilih sesuai pola operasi yang memang akan dijalankan.

PT PAL Tampilkan Desain Multi Role Support Ship (MRSS) – LPD dengan Panjang 163 Meter dan Bobot 14.000 Ton

Dari Perangkap Anggaran menuju Perangkap Doktrin
Ada risiko yang pengaruhnya dapat melampaui umur kapal: keterlanjuran berpikir bahwa setiap pertempuran laut harus berpusat pada perlindungan kapal induk. Begitu kapal induk ditempatkan sebagai pusat perhatian, kapal lain disiapkan untuk mengawalnya, dan latihan sering dimulai dengan pertanyaan bagaimana menjaga kapal induk tetap selamat. Jangan sampai keselamatan satu kapal menggeser kepentingan pertahanan wilayah.

Bagi Indonesia, selat dan jalur pendekat kepulauan harus menjadi perhatian utama. Kekuatan yang terkumpul mengelilingi satu kapal tidak dengan sengaja mampu menjaga pintu-pintu lainnya. Sejarah Sriwijaya patut menjadi bahan renungan: salah satu rekonstruksi serangan Chola menggambarkan kekuatan Sriwijaya berada di sekitar Kedah (pintu barat laut Selat Malaka), sementara penyerang mendekat dari selatan melalui Selat Sunda. Pelajaran strategisnya jelas: kekuatan yang terpusat menjaga satu arah dapat dilewati melalui arah lain, karena lawan tidak berkewajiban datang dari pintu yang paling kuat kita jaga.

Mengenal LPD BAP Pisco: Varian Makassar Class Andalan Peru yang Unjuk Gigi di RIMPAC 2026

Kesimpulan
Apabila Garibaldi digunakan untuk HADR dan operasi helikopter, tempatkan kapal itu sesuai tugasnya. Kehadirannya tidak boleh menjadi alasan untuk mengarahkan seluruh pembangunan kekuatan pada kebutuhan mengawal kapal induk. Inilah risiko “meracuni pikiran para perwira”, di mana perwira muda yang terbiasa dengan doktrin kapal induk akan membawa pola pikir tersebut hingga menjadi pengambil keputusan, membuat alutsista yang telanjur dimiliki justru mendikte strategi.

Mesin yang aus dapat diganti, kapal yang tidak lagi layak dapat dihapus, tetapi cara berpikir yang keliru dapat bertahan selama beberapa generasi perwira jauh lebih lama daripada kapalnya. Indonesia perlu meminta dua pilihan konkret dan membandingkannya secara jujur—antara merawat kapal eksisting dengan segala risiko pembongkarannya versus membangun kapal baru berbasis pengembangan LPD 180 meter—disertai biaya, waktu, risiko, dan tanggung jawab hasil yang dapat diperiksa secara transparan. Oleh Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto (Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis/KABAIS TNI).

Penerbangan Angkatan Laut di KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi): Kesiapan Operasional, Risiko Anggaran, dan Tantangan Doktrin

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *