Mendarat di Bengkayang, Hovercraft Jepang dari JS Kunisaki Ulang Sejarah Misi Kemanusiaan Tsunami Aceh

Dalam rangka penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kapal pendarat amfibi Pasukan Beladiri Maritim Jepang (Japan Maritime Self-Defense Force/JMSDF) JS Kunisaki (LST-4003) menerjunkan aset-aset strategisnya ke wilayah perairan Indonesia. Selain menghadirkan dukungan udara berupa tiga unit helikopter angkut berat Kawasaki CH-47 Chinook, kapal pendarat ini juga mengoperasikan dua unit hovercraft Landing Craft Air Cushion (LCAC) bernomor lambung 2105 dan 2106.

Baca juga: Bukan Sekadar Dirakit, Kawasaki CH-47J Chinook Adalah Helikopter Angkut Berat Berdarah Jepang

Pada 11 September lalu, dua kendaraan hovercraft LCAC milik JMSDF tersebut secara resmi melaksanakan aksi pendaratan amfibi di Pesisir Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Begitu keluar dari well deck JS Kunisaki, duo wahana amfibi berkecepatan tinggi ini meluncur di atas permukaan air hingga menyentuh daratan pantai Karimunting.

Masing-masing LCAC membawa armada penunjang darat beserta logistik vital, meliputi truk berat Isuzu Type 73 Ogata yang dilengkapi crane penunjang evakuasi serta kendaraan taktis ringan Mitsubishi Type-73 Kogata 4×4. Penggelaran ini sekaligus mencatatkan sejarah baru sebagai pendaratan amfibi LCAC JMSDF yang pertama di Pulau Kalimantan.

Aksi amfibi di Pesisir Karimunting ini sekaligus membangkitkan kenangan sejarah diplomasi kemanusiaan antara Jepang dan Indonesia. Tepat 21 tahun silam, pada 27 Januari 2005, pengerahan armada yang sama pernah menorehkan catatan penting di Tanah Air. Menyusul bencana tsunami yang menerjang Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir 2004, JS Kunisaki beserta LCAC bernomor 2105 dan 2106 diterjunkan langsung ke pesisir dekat Banda Aceh.

Saat itu, kedua LCAC menembus wilayah pantai yang hancur guna menyalurkan bantuan logistik mendesak, fasilitas penyulingan air bersih, dan truk medis. Penugasan di Aceh kala itu tercatat sebagai operasi bantuan militer terbesar Jepang ke luar negeri sejak berakhirnya Perang Dunia II, dan kini spirit yang sama kembali hadir dalam misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) di Kalimantan Barat.

Hovercraft LCAC dari JS Kunisaski merupakan wahana amfibi buatan Amerika Serikat. Platform ini dikembangkan oleh pabrikan pertahanan AS, Textron Marine & Land Systems, bekerjasama dengan Avondale Gulfport Marine. Kementerian Pertahanan Jepang memesan armada LCAC ini pada pertengahan dekade 1990-an untuk mengisi dok basah kapal pendarat amfibi Osumi class.

Dalam hal pemeliharaan dan operasional di dalam negeri, Textron menjalin kemitraan teknis (technical assistance) dengan konsorsium galangan kapal lokal Jepang seperti Mitsui Engineering & Shipbuilding dan Yamada International. Namun demikian, lisensi resmi, rancangan dasar, hingga arsitektur mesin dari total enam unit LCAC yang dioperasikan JMSDF (nomor lambung 2101 hingga 2106) sepenuhnya berbasis teknologi militer Amerika Serikat.

Keunggulan taktis LCAC jika dibandingkan dengan kapal pendarat konvensional jenis LCU (Landing Craft Utility) terletak pada kemampuan lintas medannya yang sangat luas. Memilki panjang 26,8 meter dan lebar 14,3 meter, LCAC mempunyai bobot kosong sekitar 105 ton dan mampu bergerak dengan bobot penuh hingga 182 ton.

Diminati Panglima TNI: Inilah Spesifikasi LCAC, Wahana Pendarat Amfibi ‘Anti Ranjau’ Andalan US Navy

Dapur pacunya disokong oleh empat unit mesin turbin gas Vericor Power Systems ETF40B (atau Avco Lycoming TF40B) yang sanggup menghasilkan total daya hingga 16.000 shaft horsepower (shp). Dengan modal tenaga tersebut, LCAC sanggup melesat hingga kecepatan melebihi 40 knot saat bermuatan penuh dan mencapai 70 knot dalam kondisi kosong, dengan daya jangkau operasional sejauh 200 mil laut.

Berkat skema bantalan udara (skirt) setinggi 1,2 meter, LCAC dapat merayap mulus di atas perairan dangkal, rawa-rawa, muara sungai, hingga pesisir pantai berkarang tanpa bergantung pada ketersediaan dermaga. Dengan luas geladak kargo mencapai 168 meter persegi, wahana ini mampu mengangkut beban muatan (payload) antara 60 hingga 75 ton, atau setara dengan satu unit tank tempur utama (MBT) Type 90, beberapa truk logistik, hingga 180 personel.

Dioperasikan oleh lima orang awak kapal (Craft Master, Navigator, Engineer, Deck Engineer, Loadmaster), keberhasilan pendaratan di Pesisir Karimunting menegaskan peran penting LCAC sebagai elemen amfibi yang sangat responsif untuk mendukung berbagai misi tanggap darurat bencana di wilayah kepulauan Indonesia. (Bayu Pamungkas)

Type 726 LCAC: Mampu Membawa MBT, Inilah Andalan AL Cina dalam Operasi Serbuan Amfibi

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *