Misi Karhutla Kalimantan: Tanpa Baling-Baling dan Dibungkus Rapat, Tiga CH-47 Chinook AD Jepang Diangkut JS Kunisaki

Pemerintah Jepang meluncurkan misi bantuan darurat internasional (international emergency assistance activities) untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan, Indonesia. Tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook milik Angkatan Darat Jepang (Japan Ground Self-Defense Force/JGSDF) diangkut menggunakan kapal angkut amfibi Osumi class, JS Kunisaki (LST-4003), milik Angkatan Laut Jepang.

Baca juga: Profil JS Kunisaki (LST-4003): Kapal Angkut Amfibi Jepang yang Dikirim Bantu Penanggulangan Kebakaran Hutan Kalimantan

Bertolak dari Pangkalan Laut Kure di Prefektur Hiroshima, kolaborasi lintas angkatan ini memanfaatkan sinergi kemampuan maritim dan penerbangan militer untuk memobilisasi aset udara berkapasitas besar langsung ke kawasan terdampak bencana di Indonesia.

Selama pelayaran jarak jauh dari Jepang menuju perairan Indonesia, seluruh bilah baling-baling (rotor blades) pada helikopter CH-47 Chinook sengaja dilepas dari dua rotor utamanya (tandem rotor). Pelepasan bilah rotor ini dilakukan untuk meminimalkan hambatan angin, mencegah kerusakan struktur rotor akibat turbulensi udara di laut lepas, serta menghemat ruang geladak agar penataan peralatan pendukung di atas kapal lebih efisien.

Pembongkaran bilah rotor pada CH-47 merupakan prosedur standar operasional penerbangan angkatan laut; tim teknisi penerbang terlatih memerlukan waktu sekitar 1 hingga 2 jam untuk melepas seluruh bilah rotor pada satu unit helikopter, dan membutuhkan waktu perakitan kembali (re-assembly) serta kuis kualifikasi teknis sekitar 2 hingga 3 jam di lokasi tujuan sebelum helikopter dinyatakan siap terbang (airworthy).

Selain pembongkaran bilah rotor, penampakan fisik helikopter CH-47 di atas geladak penerbangan (flight deck) JS Kunisaki menarik perhatian karena bodi helikopter dibungkus secara menyeluruh oleh lapisan kain pelindung khusus (shrink-wrap protection cover).

Pembungkusan ini merupakan tindakan preventif vital untuk melindungi airframe, komponen avionik sensitif, intake mesin, dan saluran udara dari korosi uap garam laut (salt spray) selama pelayaran berhari-hari. Mengingat cuaca ekstrem di laut lepas dapat mempercepat proses korosi pada material logam dan sistem kelistrikan, pembungkusan ketat ini menjamin helikopter tiba di Indonesia dalam kondisi teknis prima dan siap dirakit tanpa hambatan korosif.

Penempatan helikopter di geladak terbuka juga menjawab pertanyaan teknis terkait kapasitas hanggar JS Kunisaki. Meskipun JS Kunisaki memiliki geladak penerbangan yang luas dan sanggup didarati helikopter angkut berat, kapal angkut amfibi Osumi class pada dasarnya tidak dilengkapi dengan hanggar helikopter bawaan (dedicated helicopter hangar) di atas geladak utamanya.

Fasilitas ruang bawah geladak (vehicle deck) pada kapal ini didesain khusus untuk mengangkut kendaraan tempur darat, tank, serta pendarat amfibi LCAC (Landing Craft Air Cushioned), sehingga helikopter berukuran besar seperti CH-47 Chinook harus ditempatkan di geladak penerbangan terbuka dengan perlindungan ekstra dari pembungkus khusus dan penambat (tiedown) rantai pengaman. (Gilang Perdana)

Lebih Pas Disebut Sebagai LPD atau LHD, Ini Sebab JS Osumi (4001) Justru Diberi Label ‘Landing Ship Tank (LST)’

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *