Pasca KRI Ki Hajar Dewantara 364 Pensiun, TNI AL Belum Punya Korvet Latih Lagi

Kabar mengenai rencana penjualan aset eks KRI Ki Hajar Dewantara (KHD) 364 kembali mencuri perhatian publik maritim dan pertahanan nasional. Sejak resmi dipensiunkan oleh TNI AL pada tahun 2019 lalu, kapal korvet latih (training corvette) legendaris buatan galangan Uljanik Shipyard, Yugoslavia tersebut hingga kini belum memiliki suksesor langsung yang sepadan.

Baca juga: Ujung Pengabdian KRI Ki Hajar Dewantara 364: Korvet Latih Legendaris TNI AL Resmi Diajukan untuk Dijual

Kondisi itu menandai kekosongan armada kapal latih khusus (dedicated motor-driven training ship) bermesin diesel di tubuh TNI AL, di mana peran penggemblengan calon perwira practical bertumpu pada kapal latih layar tiang tinggi KRI Bima Suci serta merotasi penggunaan kapal perang kombatan aktif garis depan.

Sebagai catatan historis, KRI Ki Hajar Dewantara 364 pada masanya dirancang khusus untuk mampu menampung hingga 140 orang kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) dalam satu kali pelayaran muhibah, di luar awak kapal tetap. Keberadaan kapal perang latih khusus berbasis korvet atau fregat sejatinya memegang peranan sangat vital dan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh tall ship layar.

Selain sebagai sarana doktrin kebaharian dasar, platform korvet latih bermotor modern memberikan pengalaman tempur realistis (real combat simulation) bagi para taruna akademi. Kapal jenis ini dirancang terintegrasi dengan ruang kelas bergerak, sistem pemrosesan data tempur, pangkalan helikopter, serta meriam dan sensor navigasi canggih yang mencerminkan profil kapal perang modern.

Di kawasan Asia Pasifik, tradisi mengoperasikan kapal latih khusus berbasis fregat dan korvet masih dipertahankan secara intensif oleh sejumlah negara kekuatan utama maritim dengan kapasitas akomodasi kadet yang sangat besar.

Korea Selatan menjadi salah satu contoh paling menonjol dengan mengoperasikan ROKS Hansando (ATH-81), sebuah kapal latih khusus berbobot 4.500 ton yang resmi masuk dinas pada 2021. Kapal sekelas fregat berat ini mampu menampung lebih dari 300 orang taruna Republic of Korea Naval Academy, lengkap dengan fasilitas simulator tempur digital, ruang kuliah luas, serta fasilitas medis darurat setara rumah sakit lapangan.

TNI AL Sambut Kedatangan Kapal Latih Cina Qi Jiguang 83 dan LPD Type 071 Kunlun Shan 998 di Surabaya

Sementara itu, Angkatan Laut Cina (PLAN) mengandalkan kapal latih khusus berukuran raksasa, yakni Qi Jiguang (83) berbobot 9.000 ton dan Zheng He (81). Kapal Qi Jiguang dirancang memiliki ruang akomodasi yang sangat masif hingga sanggup membawa lebih dari 400 orang kadet Dalian Naval Academy dalam sekali berlayar.

Di sisi lain, Jepang melalui Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) mengoperasikan kapal sekolah (Training Vessel) seperti JS Yūgiri (TV-3520) eks Asagiri class yang mampu mengangkut sekitar 100 hingga 120 taruna lulusan National Defense Academy of Japan dalam program pelayaran samudra (Ocean Training Cruise).

Bagi Indonesia, ketiadaan pengganti KRI Ki Hajar Dewantara 364 menjadi catatan evaluasi penting dalam postur modernisasi alutsista jangka panjang. Di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks dan modernisasi armada kapal perang utama yang terus berlanjut, pengadaan platform kapal latih khusus bermotor lapis korvet atau fregat baru dengan kapasitas angkut kadet yang memadai diharapkan dapat segera terealisasi demi mencetak SDM perwira maritim yang siap mengoperasikan teknologi alutsista terkini. (Haryo Adjie)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *