31 Tahun Penerbangan Perdana Jet Tempur Mitsubishi F-2: Menelusuri Jejak “Viper Zero” Jepang

Tepat pada hari ini, 7 Oktober 2026, dunia aviasi militer mencatat momen bersejarah 31 tahun penerbangan perdana jet tempur Mitsubishi F-2 “Viper Zero” yang mengudara pertama kalinya pada 7 Oktober 1995.

Baca juga: F-15J Eagle Jepang Bakal Dipasangi Rudal Jelajah Jarak Jauh AGM-158B JASSM-ER

Penerbangan tersebut dilakukan dari Pangkalan Udara Komaki di Prefektur Aichi, Jepang, yang berdampingan dengan fasilitas manufaktur Mitsubishi Heavy Industries (MHI). Dalam misi penerbangan uji yang berlangsung selama kurang lebih 38 menit tersebut, purnawirawan penerbang uji Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF), Yoshiyuki Watanabe, bertindak sebagai pilot uji (test pilot) pertama yang membawa prototipe berkode XF-2A menembus angkasa.

Suksesnya penerbangan perdana ini menjadi tonggak penting bagi Jepang dalam membuktikan kemampuannya membangun pesawat tempur modern berteknologi tinggi di era pasca-Perang Dingin.

Sejarah pengembangan F-2 bermula pada dekade 1980-an ketika Kementerian Pertahanan Jepang meluncurkan program FS-X (Fighter Support-Experimental) untuk menggantikan armada jet tempur Mitsubishi F-1 yang mulai menua. Meski awalnya Tokyo berhasrat mengembangkan pesawat tempur murni karya anak bangsa secara mandiri, tekanan politik dan pertimbangan biaya dari Amerika Serikat akhirnya mendorong lahirnya kesepakatan pengembangan bersama (co-development).

Pilihannya jatuh pada platform General Dynamics F-16 C/D Block 40 sebagai basis desain teknis. Hasilnya adalah sebuah jet tempur yang secara visual mirip dengan F-16, tetapi sejatinya merupakan platform yang berukuran kira-kira 25 persen lebih besar dengan performa aerodinamis dan struktur yang disempurnakan khusus untuk kebutuhan doktrin pertahanan kepulauan Jepang.

Dari spesifikasi teknis, F-2 ditenagai oleh satu mesin turbofan General Electric F110-GE-129 yang sanggup menghasilkan daya dorong hingga 131 kN dengan afterburner, memungkinkannya melesat hingga kecepatan maksimum Mach 2.0.

Memiliki panjang 15,52 meter dan rentang sayap 11,13 meter, pesawat ini menampilkan terobosan teknologi material canggih dengan menjadi pesawat tempur produksi massal pertama di dunia yang memanfaatkan struktur komposit karbon (carbon fiber reinforced polymer) secara masif pada seluruh bagian sayap utamanya untuk memangkas bobot dan radar cross-section (RCS).

Selain itu, F-2 juga memelopori penggunaan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) berbasis galium arsenida (J/APG-1) pada pesawat tempur operasional, yang memberikan jangkauan deteksi jarak jauh serta ketahanan tinggi terhadap perang elektronik.

Gelar Kunjungan Balasan ke India, Jet Tempur Mitsubishi F-2 Jepang Terbang Jarak Jauh Tanpa Pesawat Tanker

Keunggulan utama F-2 terletak pada peran spesifiknya sebagai jet tempur peremuk armada laut musuh (anti-ship strike) serta penjaga ruang udara wilayah maritim. Dengan empat hardpoint khusus di bawah sayap, F-2 sanggup mengangkut hingga empat rudal anti-kapal jelajah buatan dalam negeri seperti Type 80 (ASM-1) atau Type 93 (ASM-2), yang dikombinasikan dengan rudal udara-ke-udara jarak pendek AAM-3 atau AAM-5 serta rudal BVR AAM-4 untuk perlindungan diri.

Fleksibilitas taktis F-2 juga diperkuat oleh keberadaan sistem pengisian bahan bakar di udara (air-to-air refueling) tipe receptacle (metode flying boom) yang terpasang di bagian atas punggung pesawat (upper fuselage), tepat di belakang kokpit. Kehadiran sistem ini memungkinkan F-2 menerima pasokan avtur secara cepat dari pesawat tanker seperti KC-767 atau KC-46A Pegasus milik JASDF, yang secara signifikan memperluas radius tempur dan durasi patroli di atas samudra.

Gertakan Balik Tokyo: 16 Jet Tempur F-2 Jepang Adang Armada Laut Cina dengan 64 Rudal Anti Kapal ASM-2

Secara keseluruhan, Mitsubishi Heavy Industries bersama Lockheed Martin berhasil memproduksi sebanyak 98 unit F-2 hingga lini produksinya resmi ditutup pada tahun 2011. Jumlah tersebut terdiri dari empat unit prototipe (XF-2A/B) dan 94 unit versi produksi massal yang mencakup varian kursi tunggal (F-2A) serta kursi ganda (F-2B).

Sepanjang perjalanan pengabdiannya, armada F-2 terus mengalami program modernisasi berkala, termasuk upgrade radar J/APG-2 AESA yang lebih bertenaga serta integrasi amunisi presisi buatan lokal dan buatan AS. Saat ini, F-2 mulai memasuki fase akhir masa dinasnya dan akan digantikan secara bertahap mulai pertengahan dekade 2030-an oleh pesawat tempur siluman generasi keenam yang dikembangkan dalam proyek gabungan Global Combat Air Programme (GCAP) bersama Inggris dan Italia. (Haryo Adjie)

Ada Mitsubishi F-2 di Pitch Black 2022, Keturunan F-16 yang Terlahir Serba Canggih

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *