Demi Kemampuan Supersonik: Paraguay Pertimbangkan Boyong F-5 Tiger II Bekas Taiwan Meski Dibayangi Sejumlah Risiko

Langkah mengejutkan tengah dipertimbangkan oleh Pemerintah Paraguay. Setelah hampir empat dekade kehilangan kemampuan tempur supersonik, negara di Amerika Selatan ini dilaporkan mulai mengevaluasi potensi akuisisi armada jet tempur legendaris F-5E/F Tiger II dan jet latih AIDC AT-3 Tzu Chung yang baru saja dipensiunkan oleh Angkatan Udara Taiwan.

Baca juga: Tembus Patriot dan AWACS, Pilot F-5 Iran Ungkap Kisah Operasi Udara Nekat Serang Pangkalan AS di Kuwait

Langkah ini diambil guna melengkapi enam unit pesawat serang turboprop Embraer A-29 Super Tucano asal Brasil yang tengah dalam proses pengadaan. Kehadiran F-5 Tiger II yang sanggup melesat hingga kecepatan Mach 1.63 diharapkan mampu memberi Paraguay kemampuan intersepsi cepat yang tidak dimiliki oleh pesawat subsonik seperti Super Tucano maupun jet K-8W milik negara tetangganya, Bolivia.

Namun, di balik ambisi mengembalikan kejayaan pertahanan udaranya, Paraguay dihadapkan pada dilema besar terkait risiko keselamatan penerbangan dan membengkaknya biaya operasional akibat usia armada yang sudah sangat tua. Apabila terealisasi, pesawat F-5 eks-Taiwan yang akan diterima Paraguay diperkirakan diproduksi antara pertengahan 1970-an hingga 1986. Artinya, airframe (badan pesawat) tersebut telah berusia antara 40 hingga 50 tahun.

Mengoperasikan jet tempur gaek tentu bukan perkara mudah; riwayat keselamatan Taiwan sendiri mencatat tragedi pada Maret 2021 di mana dua unit F-5E mengalami tabrakan di udara saat latihan yang menewaskan kedua pilotnya—menjadi insiden kecelakaan F-5 ketiga di Taiwan dalam kurun waktu enam bulan.

Risiko teknis semakin diperparah oleh akumulasi jam terbang, kelelahan struktur (metal fatigue), siklus tekanan udara, hingga potensi korosi. Oleh karena itu, faktor penentu bagi Angkatan Udara Paraguay bukan sekadar berapa jumlah pesawat yang dipindahkan, melainkan sisa jam terbang (useful structural life) dari unit yang dipilih. Sebagai gambaran, menerima enam unit F-5 dengan sisa usia pakai 1.500 hingga 2.000 jam penerbangan akan berbanding terbalik dampaknya jika Paraguay justru mendapat unit yang sudah mendekati ambang batas inspeksi mayor.

Sisi finansial juga menjadi beban amat berat bagi anggaran pertahanan Paraguay. Biaya operasional F-5 Tiger II ditaksir mencapai US$5.000 per jam terbang. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan A-29 Super Tucano yang hanya membutuhkan biaya sekitar 1.000 hingga 1.200 dolar AS per jam.

Secara matematis, anggaran sebesar US$5 juta hanya sanggup membiayai 1.000 jam terbang jet F-5. Padahal, alokasi dana yang sama dapat mengover hingga 4.167 sampai 5.000 jam terbang bagi armada Super Tucano. Jika Paraguay mengoperasikan enam unit F-5 dengan masing-masing 150 jam terbang per tahun, negara itu harus merogoh kocek minimal US$4,5 juta hanya untuk biaya bahan bakar dan operasional penerbangan langsung—belum termasuk biaya perbaikan, suku cadang, perawatan mesin, dan infrastruktur simulator.

Tak berhenti di situ, daya tempur standar F-5E/F bawaan tahun 1970-an sudah sangat tertinggal untuk standar pertempuran udara modern. Radar bawaannya, seperti Emerson AN/APQ-159, hanya memiliki jangkauan deteksi terbatas sekitar 37 km dan tidak mendukung rudal jelajah jarak jauh di luar jangkauan visual (Beyond-Visual-Range/BVR).

Mengenal F-5EM Tiger II: Selera Negeri Samba Pertahankan Jet Tempur Tua dengan Upgrade Teknologi Israel

Jika Paraguay ingin mengubah F-5 tua ini menjadi mesin perang yang benar-benar efektif—seperti yang dilakukan Brasil pada program modernisasi F-5EM mereka—maka Paraguay harus siap menggelontorkan dana ekstra ratusan juta dolar untuk peremajaan avionik, pengadaan radar multimode baru, cockpit digital, hingga integrasi rudal modern. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa kontrak modernisasi 11 unit F-5 dari Yordania bahkan memakan biaya hingga 7,3 kali lipat dari harga pembelian fisik pesawat itu sendiri.

Pada akhirnya, pertimbangan Paraguay untuk memboyong veteran udara Taiwan ini sepenuhnya bergantung pada kompromi antara anggaran dan kebutuhan taktis. Apakah kemampuan rekor kecepatan supersonik sebanding dengan risiko kerentanan fisik pesawat tua dan beban logistik yang melambung tinggi? (Gilang Perdana)

Paraguay Akuisisi Enam Unit A-29 Super Tucano, Unit Perdana Tiba di Tahun 2025

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *