Dominasi Mutlak di Udara: Shenyang J-16 Tumbangkan 51 Jet Tempur dalam Latihan Bersama Shaheen-VIII 2019

Rekor pertempuran udara dalam sebuah latihan militer gabungan kerap menyajikan kejutan yang mencengangkan bagi para pengamat militer. Salah satu catatannya adalah performa fenomenal jet tempur multiperan Shenyang J-16 milik Angkatan Udara Cina (PLAAF) saat dilibatkan dalam latihan tempur udara bersama antara Cina dan Angkatan Udara Pakistan (PAF), yaitu Latihan Shaheen-VIII (Shaheen 2019).
Latihan militer berskala besar ini digelar selama setengah bulan, tepatnya pada 23 Agustus hingga akhir September 2019, berlokasi di Pangkalan Udara Holton yang terletak di barat laut Cina. Meskipun kejadian tersebut telah berlalu beberapa tahun, angka statistik dominasi J-16 di udara hingga kini tetap menjadi salah satu rekor simulasi tempur paling impresif yang pernah bocor ke publik.
Dalam babak simulasi pertempuran udara berintensitas tinggi (Dogfight hingga Beyond Visual Range/BVR), Shenyang J-16 dilaporkan berhasil mencatatkan 51 kills (rincian jatuhnya pesawat musuh dalam simulasi) tanpa kehilangan satu unit pun.
Jika dalam doktrin pertempuran udara negara-negara Barat perekaman data telemetri, posisi, dan validasi hantaman amunisi mengandalkan pod Air Combat Maneuvering Instrumentation (ACMI), latihan Shaheen antara Cina dan Pakistan mengadopsi sistem evaluasi peperangan elektronis dan perekaman data taktis (tactical data link) mandiri berbasis pod perekam serta pengolah data pertempuran buatan Cina. Sistem ini mencatat setiap penguncian radar, pelepasan amunisi simulasi, hingga kalkulasi probabilitas kehancuran (kill probability) secara real-time untuk memvalidasi setiap kill secara akurat.
— Tactical Tribune (@TacticalTribun) August 17, 2026
Melalui sistem penilaian independen tersebut, rincian korban keganasan J-16 mencakup 14 unit J-10C milik PLAAF, 11 unit JF-17 Thunder milik PAF, 4 unit J-11B milik PLAAF, 11 unit Mirage III/5 milik PAF, serta 9 unit F-7PG milik PAF.
Tingginya angka kehancuran lawan di ‘tangan’ J-16 tak lepas dari perpaduan performa platform kelas berat turunan keluarga Flanker dengan paket avionik canggih generasi 4,5. Secara teknis, Shenyang J-16 ditenagai dua unit mesin turbofan Shenyang WS-10B afterburning yang masing-masing menghasilkan daya dorong hingga 135 kN, memungkinkan jet tempur ini melesat hingga kecepatan maksimum Mach 2,0 dengan jangkauan jelajah lebih dari 3.000 km.
Spektakuler, Jet Tempur Shenyang J-16 Terbang Sangat Rendah Melintasi Bibir Pantai
Dirancang sebagai strike-fighter berkursi ganda (twin-seat), J-16 memiliki bobot lepas landas maksimum (maximum takeoff weight) mencapai 35.000 kg dan sanggup membawa muatan senjata (pylon payload) hingga 12 ton yang tersebar di 12 titik cantelan (hardpoints). Persenjataannya mencakup rudal udara-ke-udara jarak pendek PL-10, rudal BVR ultra-jarak jauh PL-15, rudal jelajah anti-kapal, hingga berbagai amunisi presisi air-to-ground.
Mengusung radar Active Electronically Scanned Array (AESA) berdiameter besar, sistem pencari dan pelacak inframerah (IRST), serta paket peperangan elektronik (EW) terintegrasi, J-16 memiliki jangkauan deteksi BVR yang sangat jauh dan resisten terhadap interferensi acakan lawan.
Ditopang kapasitas muatan amunisi yang luar biasa serta keandalan radar AESA, keunggulan sensor cerdas dan daya jangkau rudal inilah yang membuat jet-jet tempur kelincahan tinggi seperti J-10C maupun JF-17 kerap terkunci dan dilumpuhkan bahkan sebelum mereka menyadari keberadaan sang ‘pemburu’ di ruang udara.
Keberhasilan luar biasa dalam Shaheen 2019 memberikan gambaran nyata mengenai efektivitas doktrin tempur gabungan Cina di era modern. Latihan Shaheen (Eagle) sendiri merupakan agenda tahunan yang digagas Cina dan Pakistan sejak 2011 untuk mempererat kerja sama taktis serta menguji doktrin tempur udara kedua negara sahabat.
Bagi PLAAF, raihan 51 kills oleh J-16 dalam Shaheen-VIII menjadi bukti validasi bahwa konsep jet tempur heavyweight strike-fighter berkursi ganda masih memegang peranan krusial sebagai pengatur komando taktis dan penembak jarak jauh di medan konflik modern, mendampingi keberadaan jet tempur siluman generasi kelima seperti Chengdu J-20. (Gilang Perdana)


