Citra Satelit Ungkap Rekonstruksi Cepat Iran: Efektivitas Serangan AS dan Israel Dipertanyakan

Laporan terbaru dari The Wall Street Journal (WSJ) berdasarkan analisis citra satelit mengungkapkan bahwa Iran berhasil memulihkan dan membangun kembali berbagai infrastruktur vitalnya dengan sangat cepat setelah diserang oleh Amerika Serikat dan Israel. Pemulihan masif ini mencakup perbaikan jembatan hingga pangkalan rudal strategis di berbagai wilayah.
Kecepatan Teheran dalam memperbaiki kapabilitasnya yang rusak dinilai menjadi alasan utama mengapa negara tersebut masih sanggup bertahan dan melancarkan perlawanan terhadap AS, terutama saat ketegangan kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz.
Bukti-bukti visual memperlihatkan tingkat pemulihan yang signifikan di beberapa lokasi kunci. Salah satu citra satelit dari Vantor dan Airbus menunjukkan bahwa akses jalan menuju pangkalan rudal di Kangavar, Iran Barat, yang sempat hancur diterjang serangan pada awal Maret, kini telah selesai diperbaiki dengan jalan beraspal baru.
Laporan WSJ juga mendokumentasikan upaya rekonstruksi di Pelabuhan Bandar Anzali yang terhubung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC)—lokasi yang pada Maret lalu diklaim Israel telah rusak parah. Selain itu, pemulihan juga terdeteksi di fasilitas produksi rudal dekat Teheran serta pangkalan rudal di Dezful, di mana pihak Iran dengan cepat menggali kembali jalur terowongan yang sempat tertimbun ledakan.
Iran has quickly rebuilt infrastructure damaged during the U.S. and Israeli bombing campaign over recent months, according to Israeli and Western officials, a recovery so speedy that it raises concerns about the campaign’s effectiveness. https://t.co/Y1gJbjSpHW
— The Wall Street Journal (@WSJ) July 23, 2026
Kecepatan perbaikan ini memicu keraguan besar dari kalangan internal militer Israel mengenai efektivitas kampanye pemboman masif yang dilancarkan sejak akhir Februari lalu. Beberapa pejabat militer Israel yang dikutip media mengkritik cakupan serangan yang dinilai terlalu luas hingga menyasar lembaga-lembaga rezim, bukannya berfokus penuh pada infrastruktur militer inti. Mereka mengakui bahwa Iran terbukti mampu membangun kembali hampir semua fasilitas yang telah dihantam.
Kondisi di lapangan tersebut berbanding terbalik dengan klaim bombastis pejabat AS dan Israel sebelumnya, di mana pihak AS sempat menyatakan telah menghancurkan 90 persen pabrik senjata serta melumpuhkan basis industri nuklir dan pertahanan Iran, sementara Israel mengklaim telah menjatuhkan lebih dari 18.000 bom ke ribuan target.
Meskipun dalam eskalasi terbaru ini Iran tidak meluncurkan serangan langsung ke wilayah Israel, armada militer Teheran secara konsisten terus menggempur aset-aset serta pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Intensitas serangan yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, ditambah gangguan berlanjut terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, menegaskan bahwa kampanye udara AS dan Israel belum berhasil mematahkan daya tempur maupun infrastruktur strategis Republik Islam Iran. (Gilang Perdana)


