‘Digertak’ SLBM Cina, Mengapa Australia Malah Pilih Rudal SM-2 Berbasis Darat Ketimbang Sistem Patriot?

Langkah Australian Defence Force (ADF) yang menguji coba prototipe sistem pertahanan udara berbasis darat menggunakan rudal Standard Missile-2 (SM-2) memicu pertanyaan menarik di kalangan pengamat militer global. Mengapa Canberra lebih memilih mengembangkan sistem mandiri berbasis rudal hanud kapal perang tersebut ketimbang membeli MIM-104 Patriot—yang notabene adalah sistem hanud dan rudal paling populer buatan AS yang telah teruji dalam berbagai medan laga?

Baca juga:Buntut Peluncuran SLBM Cina di Pasifik, Australia Respons Cepat Lewat Uji Tembak Rudal Pencegat SM-2

Pilihan strategis rupanya didasari oleh kalkulasi matang mengenai efisiensi logistik, doktrin kesamaan armada (commonality), serta ambisi kedaulatan teknologi dalam negeri. Alasan paling mendasar di balik keputusan ini adalah faktor kesamaan armada dan efisiensi rantai pasok militer. Angkatan Laut Australia (RAN) telah lama menjadi pengguna setia keluarga rudal Standard buatan Raytheon (RTX) ini untuk mempersenjatai kapal perusak (destroyer) Hobart class dan fregat mereka.

Dengan mengadaptasi SM-2 ke dalam platform peluncur berbasis darat, militer Australia tidak perlu membangun ekosistem logistik, fasilitas perawatan, pengadaan suku cadang, hingga program pelatihan awak yang benar-benar baru dari nol. Stok rudal yang ada di gudang persenjataan dapat dikelola dengan lebih fleksibel untuk kebutuhan matra laut maupun darat, sebuah efisiensi anggaran yang mustahil diraih jika mereka nekat mendatangkan sistem Patriot yang memiliki lini logistik berbeda total.

Selain masalah logistik, integrasi teknologi lokal menjadi harga mati bagi cetak biru pertahanan Australia. Sistem Patriot dikenal sebagai paket persenjataan yang “tertutup”, di mana pembeli diwajibkan menggunakan radar bawaan pabrikan AS.

Sebaliknya, dengan mengembangkan arsitektur pertahanan udara jarak menengah secara mandiri, Australia dapat dengan leluasa mengintegrasikan teknologi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) mutakhir buatan perusahaan domestik mereka, CEA Technologies. Langkah ini selaras dengan doktrin hilirisasi industri pertahanan yang ditekankan oleh Canberra, sekaligus membuktikan bahwa teknologi radar lokal mampu memandu rudal interseptor supersonik kelas dunia untuk menghancurkan target secara presisi.

Karakteristik geografis daratan Australia yang sangat luas dan kosong juga menuntut fleksibilitas mobilitas yang tinggi dari unit pertahanan udaranya. Satu baterai sistem Patriot memiliki struktur yang sangat masif dan cenderung statis karena dirancang untuk melindungi titik strategis tertentu (point defence).

Sementara itu, proyek hanud jarak menengah yang dipimpin oleh Angkatan Udara Australia (RAAF) menghendaki sistem yang lebih ringkas, lincah, dan mudah digeser secara cepat menggunakan pesawat angkut militer sekelas C-17 Globemaster menuju wilayah utara yang rawan.

Melalui modifikasi peluncur SM-2 berbasis kendaraan truk taktis, ADF mendapatkan keunggulan mobilitas tinggi tanpa kehilangan taji daya gempur dalam membentengi ruang udara mereka dari potensi ancaman regional. (Gilang Perdana)

Sinyal Keras dari Kedalaman Pasifik: Cina Pertama Kali Akui Uji Coba Rudal Balistik Berbasis Kapal Selam

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *